Bertahan Mencintaimu

Bertahan Mencintaimu
bab 48


__ADS_3

Di perusahaannya Abimayu dihubungi oleh umi Aida.


"Bagaimana, Nak? Apa kamu sudah memutuskannya?" suara Umi Aida terdengar di seberang.


"Abi sudah membuat keputusan, Umi. Abi akan menerima lamaran itu. Nanti Umi tolong bantu untuk datang melamar Nayla untuk Abi." Abimayu menjawab memberi keputusan.


"Apa kamu sudah mengatakan kepada Ana?" tanya Umi Aida yang membuat Abimayu terdiam.


"Sudah, Umi." Abimayu berkata jujur, karena dia memang sudah menyampaikan tentang ini kepada Ana.


"Apakah Ana memyetujuinya?" Umi Aida kembali bertanya. Dia tidak ingin jika keputusan yang diambil oleh Abimayu ini akan membuat hubungannya dengan Ana menjadi berantakan. Meskipun ini boleh dilakukan, tapi dia ingin Abimayu tetap harus mendahulukan Ana.


"Abi akan bicara lagi dengannya, Umi. Ini juga untuk membantu Nayla supaya dia bisa kembali pulih." Abimayu berkata meyakinkan umi nya.


"Umi berharap keputusan ini atas persetujuan kalian berdua, bukan hanya keputusan kamu saja."


Abimayu seperti terpukul mendengar perkataan umi nya. Karena sampai saat ini Ana mengatakan tidak akan menyetujuinya. Tapi karena keinginan dan harapannya, dia akan tetap mencoba supaya Ana bisa menyetujui nantinya.


"Iya, Umi. Abi pasti akan mendapatkan persetujuan dari Ana." Abimayu berkata yakin dengan dirinya sendiri.


"Ana datang ke sini, dia ingin menanyakan kepada Umi tentang kamu yang ingin menikah lagi. Tapi sekarang dia sudah pergi, mungkin sedang di perjalanan pulang."


"Maaf Umi kalau Ana sudah tidak sopan datang ke sana." Abimayu berkata karena dia yakin bahwa sekarang Ana telah menunjukkan dirinya yang sebenarnya.


Abimayu merasa marah saat ini. Ana benar-benar sudah berbuat di luar batas menurutnya. Saat ini dia ingin sekali bertemu dengan Ana untuk bertanya.


Dia juga mencoba menghubungi Ana melalui ponselnya, tapi Ana sama sekali tidak menjawabnya. Akhirnya dia memutuskan untuk bicara dengan Ana ketika dia pulang dari perusahaan saja.


...----------------...

__ADS_1


Sedangkan Ana, sekarang di hatinya masih menggebu rasa marah yang sulit dia hilangkan karena semua orang terdekatnya seperti mendukung Abimayu untuk menikah lagi, dan tidak ada yang berpihak kepadanya sama sekali.


Dia juga telah bersiap dan menunggu Abimayu pulang ke rumah. Dia sudah yakin bahwa Abimayu telah mengetahui tentang kedatangannya ke pesantren.


Dia menunggu Abimayu di ruang makan, karena ada sesuatu yang akan dia lakukan.


"Apa maksudmu mendatangi orang tuaku?" tanya Abimayu kepada Ana saat dia sudah tiba di rumah, dia langsung berjalan ke arah ruang makan karena melihat Ana sedang berada di situ.


"Aku hanya ingin berkunjung!" jawab Ana dengan senyum tipis di bibirnya, karena tebakannya benar bahwa Abimayu audah mengetahui.


"Kunjungan seperti apa yang kamu katakan? Dengan berbicara tidak sopan kepada orang tuaku? Dengan berpakaian burukmu masuk ke pesantren itu? Berkunjung yang bagaimana, ha?" Abimayu tidak berhenti bicara karena rasa marahnya yang menggebu.


"Menurutku, itu sudah cara yang paling sopan aku lakukan." Ana membela dirinya.


"Sesopan apa dirimu sampai berpakaian burukmu masuk ke lingkungan Itu?"


"Jangan mendebatkan soal pakaianku lagi, itu sudah pakaian yang terbaik bagiku." Ana sudah sangat muak jika Abimayu terus membahas masalah pakaiannya.


"Ayo kita makan malam dulu," ajak Ana akhirnya. Dia sudah malas untuk berdebat saat ini dengan Abimayu karena dia ingin menunda untuk melancarkan aksinya.


"Kamu makan saja sendiri! Aku tidak berselera makan denganmu!"


"Aku tidak ingin makan sendiri, Mas. Ayo temani aku dulu!"


"Bukan urusanku harus menemanimu!" Abimayu berkata dan sudah berbalik ingin pergi meninggalkan Ana, tapi niatnya terhenti karena mendengar ucapan Ana.


"Ayo kita bicarakan baik-baik tentang pernikahan Mas Abi!" Ana berkata dengan pelan.


"Untuk apa kita membahas itu lagi, apapun jawabanmu, aku akan tetap menikah!"

__ADS_1


"Maka dari itu, ayo kita bicarakan lagi. Bukankah jika ingin menikah lagi, izin dari istri pertama juga perlu?" Ana memancing Abimayu dengan pernyataan yang mengarah kepada seperti dia akan memyetujui permintan Abimayu, supaya Abimayu ikut duduk dan makan bersamanya karena dia sengaja sudah menyiapkan makan malam ini.


Abimayu tampak mengalah, dan ikut duduk bersama Ana untuk makan malam bersama. Dia mengikut apa yang dikatakan Ana, mungkin nanti mereka akan bisa berbicara baik-baik tentang masalah pernikahan itu. Dia juga membiarkan Ana melayaninya dan menerima makanan yang diberikan Ana kepadanya.


"Jika tidak ingin membicarakannya, kamu jangan memakai trik murahan seperti ini." Abimayu berkata marah, karena di saat mereka makan bahkan setelah makan, Ana sama sekali tidak mengatakan apapun kepadanya. Dia hanya diam melihat ke arahnya.


"Selalu jadi orang yang tidak sabaran," jawab Ana sambil tersenyum.


"Aku tidak mempunyai banyak waktu untuk melayani trik murahanmu ini," kesal Abimayu kepada Ana.


"Bagaimana jika calon istri Mas Abi mengetahui, kalau calon suaminya adalah orang yang sangat kasar jika bicara?"


"Dia tidak akan pernah mendengarkan itu nantinya! Perkataan ini hanya sesuai untuk dirimu!" Hati Ana sedikit sakit mendengarnya. Tapi dia berusah untuk tidak emosi karena dia ingin rencananya berhasil, dan ini hanya tinggal beberapa waktu saja.


Ana terus mendebat Abimayu untuk mengulur waktu meskipun dia terus mendengar perkataan yang menyakitkan dari Abimayu. Hingga tidak lama kemudian, dia melihat Abimayu duduk dengan gelisah.


Sudut bibirnya terangkat sebelah, ada senyuman samar di bibirnya yang tidak terlihat oleh Abimayu.


Ana berdiri dari tempat duduknya, lalu berjalan mendekat ke arah Abimayu. Dia memeluk leher Abimayu dari belakang dan menurunkan tangannya dengan pelan ke arah bawah. Dia mengelus tubuh Abimayu yang masih dibalut dengan pakaian kerjanya.


"Apa yang kamu lakukan?" tanya Abimayu dengan suara yang tertahan karena dia seperti menikmati sentuhan yang diberikan oleh Ana.


"Aku hanya ingin menolong Mas Abi."


Ana berkata pelan di telinganya Abimayu yang membuat Abimayu semakin semakin gelisah.


"Lepaskan tanganmu Ana!" Abimayu berkata. Tapi perkataannya tidak sesuai dengan respon yang diberikan oleh tubuhnya. Dia seperti menikmati sentuhan dari tangan Ana di tubuhnya. Dia juga merasa heran, Tiba-tiba saja hasrat di dalam dirinya muncul dan dia seperti tidak bisa menahannya. Selama ini, jika Ana berusaha untuk menggodanya, dia tidak pernah ingin menikmati sentuhan yang diberikan Ana. Tapi sekarang, dia seperti menginginkan itu.


Ana terus menyentuh tubuh Abimayu, bahkan dia telah menciumi leher Abimayu dari arah belakang. Dia menahan tangan Abimayu yang ingin melepaskan tangannya, karena tangan itu sekarang terlihat bukan seperti ingin melepaskan diri dari Ana, tapi terlihat bagaikan membawa tangan Ana untuk terus menyentuh tubuhnya.

__ADS_1


Dalam aksinya itu, Ana terlihat senang karena dia telah berhasil menjebak Abimayu masuk dalam permainannya.


__ADS_2