
Di akhir pekan, Abimayu mengajak Ana dan Fatimah untuk pergi ke pesantren karena ada yang ingin dia selesaikan di sana. Mereka berencana akan menginap beberapa hari di sana.
"Pakai yang ini, Abi!" tunjuk Fatimah kepada pakaian yang ingin dia pakai saat ini.
"Boleh..." Abimayu menuruti permintaan Fatimah.
Pagi ini dia yang mengurusi Fatimah, dari mulai mandi hingga memakaikan Fatimah pakaiannya, karena Ana sedang sibuk untuk menyiapkan perlengkapan yang akan dibawa mereka ke pesantren untuk berkunjung.
"Bunda...." Suara Fatimah terdengar menangis memanggil Ana.
Ana menoleh untuk melihat gadis kecilnya yang menangis.
"Kenapa, Sayang?" tanya Ana sambil melihat penampilan Ana saat ini.
"Hijabnya salah," ucap Fatimah masih menangis.
Abimayu hanya melihat interaksi dua orang itu. Dia tidak tahu di mana letak kesalahan yang dia buat seperti yang dikatakan Fatimah pada hijabnya yang sudah melekat di kepalanya.
"Ya sudah, jangan menangis! Bunda perbaiki lagi, ya?"
Fatimah mengangguk lalu menghentikan tangisnya.
"Hijab nya Fatimah itu begini, Abi." Ana berkata menggoda Abimayu sambil memperbaiki hijab Fatimah.
Abimayu hanya menggelengkan kepala, ternyata dia hanya salah dalam meletakkan tali pengikatnya, seharusnya tali pengikat itu diletakkan agak ke bawah sedikit, tapi Abimayu mengikatnya dengan lurus sejajar.
"Kapan kita pergi, Bunda?" tanya Fatimah yang sudah tidak sabar untuk pergi karena dia merasa dirinya telah siap dengan sempurna dan tidak memikirkan ke dua orang tuanya yang belum bersiap sama sekali.
"Sebentar lagi ya, Sayang. Bunda sama Abi bersiap dulu!"
"Cepat Bunda, kita pergi." Fatimah kembali merengek.
"Sayang, kita akan pergi, Abi sama Bunda bersiap dulu, ya." Abimayu mengulang kembali perkataan Ana agar Fatimah tidak jadi menangis.
"Cepat Abi, Fatimah mau kerumah eyang sama mbah." Akhirnya Fatimah menangis kembali.
Ana dan Abimayu saling berpandangan, dan Ana menghela nafasnya sebentar.
"Ayo, Bunda! Kita bersiap dulu!" ajak Abimayu kepada Ana yang membuat Fatimah menghentikan tangisnya.
"Mas, bersiap dulu! Nanti aku setelahnya." Ana berkata karena dia harus menyelesaikan persiapannya yang sempat terhenti.
Wuahahaaa
__ADS_1
Tiba-tiba terdengar kembali suara Fatimah yang menangis karena melihat Ana yang masih belum bersiap, sedangkan Abimayu sudah ingin masuk ke dalam kamar mandi.
"Sayang, kenapa lagi?" tanya Ana heran karena Fatimah kembali menangis.
"Bunda juga mandi," ucap Fatimah dengan polosnya.
Hufffff
Ana hanya bisa menarik nafas.
"Sa...."
"Iya, Sayang. Bunda juga akan mandi dulu. Ayo, Bunda! Kita mandi dulu." Abimayu berkata sambil tersenyum, sedangkan Ana melebarkan bola matanya melihat ke arah Abimayu. Tapi yang lebih mengejutkan lagi, Fatimah langsung menghentikan tangisnya mendengar sang ayah mengajak sang ibu untuk mandi. Di dalam fikirannya, jika sudah melihat dua orang itu mandi, berarti tidak lama lagi mereka akan berangkat. Tapi jika Ana masih saja terlihat di depan matanya dan belum bersiap, membuat dia berfikir mereka akan lebih lama lagi akan berangkat, karena dia tidak sabar lagi untuk pergi.
"Mas..." Ana berkata dengan wajah bertanya nya.
"Fatimah tunggu Abi dan Bunda di sini dulu, ya." Fatimah yang model patuh kembali setelah Abimayu menyuruh dia menunggu.
Abimayu menarik tangan Ana dan membawanya masuk ke dalam kamar mandi.
"Mas ka...."
Stttttt
Abimayu meletakkan jari telunjuknya di bibir Ana.
"Ayo kita mandi berdua sekarang!" goda Abimayu kepada Ana.
Belum sempat Ana menjawab, Abimayu sudah menarik Ana ke bawah shower dan akhirnya mereka diguyur air dari atas yang keluar dari shower tersebut.
Ana sampai tidak bisa membuka matanya karena air tersebut terlalu kencang menjalar di wajahnya. Sedangkan Abimayu tidak memberikan dia untuk bergerak pergi dari guyuran shower tersebut.
Wajah Ana terlihat sangat menggemaskan di mata Abimayu karena terus berusaha untuk menghindari guyuran air di wajahnya. Abimayu mengangkat kepala Ana agar melihat ke arahnya. Wajah Ana terlihat sangat menggoda di matanya di saat air itu mengalir di wajahnya. Abimayu membawa wajahnya lebih dekat dengan Ana dan ingin melahap bibir Ana.
Dug dug dug
"Abi.... Bunda..."
Suara Fatimah terdengar memanggil mereka sambil menggedor pintu kamar mandi tersebut.
Gerakan Abimayu terhenti, lalu Ana mengambil kesempatan itu untuk mendorong tubuh Abimayu hingga dia terlepas dari cengkraman Abimayu saat ini.
Ana membuka pintu kamar mandi sedikit, lalu berbicara kepada Fatimah untuk menunggu sebentar lagi.
__ADS_1
"Cepat, Mas! Kalau tidak putrimu mu itu akan kembali berteriak memanggil.
Abimayu akhirnya menelan rasa kecewanya karena tidak berhasil melakukan aksinya, sedangkan Ana tersenyum sambil membelakangi Abimayu. Dia juga sedang mengatur degup jantungnya saat ini karena kejadian tadi.
...----------------...
"Kak, Sarah." Panggil Ana dengan sedikit kuat karena melihat Sarah yang berada di rumah Umi Aida setelah mereka tiba di rumah itu.
Ana sudah berlari ke arah Sarah dan memeluk tubuh Sarah dengan kuat. Dia meneteskan airmata di dalam pelukan Sarah.
"Kenapa menangis, Sya?" tanya Sarah yang masih memanggil Ana dengan nama Tasya, meskipun dia telah mengetahui siapa Ana sebenarnya dari cerita Umi Aida.
"Aku rindu kak Sarah." Ana berkata sambil melepas pelukannya dan menyapu air matanya.
"Hemmmm rindu, tapi tidak bertahu Kakak jika dia sudah bertemu lagi dengan ayahnya Fatimah." Sarah menggoda Ana. Dia juga tidak menyangka, ternyata Ana adalah iparnya. Sungguh Allah itu maha baik, Ana dititip kepadanya dalam beberapa tahun yang masih mempunyai hubungan dengannya, dia baru menyadari juga kenapa Hawa dan Fatimah terlihat begitu mirip, rupanya mereka mempunyai ayah yang terlahir dari seorang kakek yang sama.
"Maaf, Kak. Semuanya sangat terburu-buru." Ana meminta maaf karena tidak menyadari dia terlupa untuk memberitahu kabar ini kepada Sarah.
Keadaan rumah Umi Aida sekarang terlihat begitu ramai, karena semua keluarganya berkumpul di rumah itu. Umi Aida sekaligus membuat acara Syukuran untuk pernikahan Ana dan Abimayu yang ke dua kalinya.
Fatimah juga terlihat begitu senang karena bertemu kembali dengan Hawa dan beberapa sepupunya yang dulunya pernah berjumpa dengannya di rumah Sarah.
"Sebenarnya Kak Sarah ke sini juga tadinya ingin menemui Tasya, karena ada yang ingin Kakak sampaikan kepadanya." Sarah berkata di saat mereka sedang berkumpul bersama. Semua orang yang berada di rumah itu sedikit heran dengan Sarah yang memanggil Ana dengan nama Tasya.
"Memangnya apa yang ingin Kak Sarah sampaikan, Kak?" tanya Ana penasaran.
"Tapi sepertinya Kakak sudah langsung tahu jawabannya seblum memberitahu kepadanya."
Mereka semua penasaran dengan apa yang ingin dikatakan Sarah, terlebih lagi dengan Ana.
"Tapi Kakak juga harus menyampaikannya, agar amanah yang diberikan kepada Kakak tidak teringkari."
"Kak Sarah membuat orang penasaran saja!" suara Aisyah terdengar protes karena Sarah belum juga memberitahu.
"Kakak disuruh oleh Ustadz Alif untuk menyampaikan kepada Ana, Apakah Ana berkenan jika dia datang melamar!"
Orang yang pertama sekali terkejut mendengar itu adalah Abimayu sang suami. Sedangkan yang lain hanya tersenyum melihatnya.
"Apa dia tidak tahu kalau Ana sudah punya suami?" tanya Abimayu terbakar api cemburu. Ternyata selama Ana di sana, ada pria yang menaruh hati padanya.
"Ya, dulunya kan Tasya tinggal berdua bersama Fatimah selama beberapa tahun. Jadi dia berfikir Ana tidak bersama suaminya lagi, dan dia berniat baik ingin melamar Ana."
Wajah Abimayu terlihat masam dan kesal mendengar itu, sedangkan Ana tersenyum di balik cadar nya melihat Abimayu. Dia tahu bahwa sekarang sang suami sedang cemburu.
__ADS_1
"Assalmu'alaikum?"
Tiba-tiba terdengar suara seorang perempuan mengucapkan salam, dan orang itu adalah Nayla yang datang sedikit agak lama dari mereka semua.