Bertahan Mencintaimu

Bertahan Mencintaimu
bab 52


__ADS_3

Ana berangkat ke rumah Nayla bersama dengan Aisyah, dia tidak ingin di temani oleh Umi Aida. Sebenarnya dia juga tidak ingin pergi dengan Aisyah, tapi dia terpaksa harus pergi karena dia juga tidak tahu di mana rumah calon madu nya itu. Jadi dia membutuhkan seseorang dari mereka untuk membawanya.


Di dalam mobil, mereka sama sekali tidak bicara sepatah kata pun. Ana lebih memilih diam daripada harus berbicara. Sedangkan Aisyah, juga tidak tahu harus berkata apa dengan Ana.


"Dimana putri kalian yang ingin dilamar oleh suamiku?" tanya Ana langsung kepada orang tua Nayla setelah mereka tiba di rumah Nayla, dan kedatangan mereka disambut oleh orang tua Nayla.


"Maafkan kami! Mungkin ini memang salah, tapi Ini adalah usaha terakhir bagi kami untuk menyembuhkannya." Orang tua Ana berkata sebelum Ana benar-benar berjumpa dengan Nayla.


"Untuk apa kalian meminta maaf, seharusnya kalian tidak datang membawa masalah ini di dalam kehidupan keluargaku," jawab Ana dengan sinin. Dia juga tidak suka melihat orang tua Nayla, karena mereka juga termasuk orang yang ikut menyetujui pernikahan ini. Meskipun mereka beralasan ini semua adalah cara untuk menyembuhkan Nayla.


"Ana, kita ke sini bukan untuk berdebat!" Aisyah berkata sedikit tegas sambil mengingatkan Ana, karena dia melihat sikap Ana yang berbicara tidak sopan dengan orang tua Nayla.


Sebelum Ana menemui Nayla di kamarnya, Ana tidak ingin ditemani oleh siapa pun. Dia hanya ingin bertemu dengan Nayla berdua saja.


Saat Ana membuka kamar yang di tunjukkan ileh orang tua Nayla, dia melihat seorang wanita yang berbaring lemah di atas ranjang. Dia terus melihat wanita itu dengan tatapan tajamnya, dan menyadari bahwa mereka pernah bertemu sebelumnya.


Ana terus berjalan mendekat ke arah Nayla, lalu berhenti tepat di samping ranjang Nayla. Sedangkan Nayla berusaha untuk duduk untuk menyambut kedatangan Ana.


Ana melihat Nayla dari atas hingga ke bawah, dan dia tidak bisa pungkiri jika Nayla benar-benar terlihat sangat memprihatinkan.


"Kenapa kamu ingin menikah dengan suamiku?" Ana langsung bertanya, dan dia tidak perlu untuk mengenalkan diri lagi kepada Nayla karena dia yakin Nayla sudah mengenalinya. Ketika dia masuk ke kamar ini, Nayla juga tidak bertanya lagi tentang siapa dia sebenarnya.


"Aku belum menerima lamaran itu," ucap Nayla pelan karena keadaanya yang lemah.


"Kenapa kamu harus menjadikan sakitmu ini untuk membuat semua orang kasihan terhadapmu?" Ana berkata seperti tidak bertanya kepada Nayla, tapi lebih tepatnya dia sedang menyerang Nayla.


"Saya tidak pernah menjadikan itu agar orang lain mengasihani-ku." Nayla menjawab untuk membela dirinya dari tuduhan Ana yang sama sekali tidak benar.

__ADS_1


"Jika tidak, kenapa Abimayu ingin melamarmu?" Ana bertanya lagi.


"Maaf, saya juga tidak tahu kenapa tiba-tiba Abimayu datang melamar saya. Saya juga belum menerima lamaran itu," bela Nayla kembali pada dirinya.


"Bagus, ternyata kamu sadar diri. ingat! Kamu memang tidak pantas menjadi istri Abimayu. Meskipun menjadi yang ke dua."


Ana berkata dengan angkuh, san juga dia sedikit pun tidak merasa kasihan melihat keadaan Nayla.


"Meskipun kalian dulu pernah saling menyukai, tapi kamu tidak pantas untuk nya lagi! Dan sekarang juga masih tetap sama. Coba lihat keadaanmu, sangat tidak pantas untuk menikah dengan Abimayu bahkan dengan orang lain pun, karena tidak ada orang yang ingin dinikahkan dengan seseorang yang sakit." Ana masih terus mekanjutkan bicaranya sampai dia merasa semuanya telah dia katakan kepada Nayla.


Nayla hanya diam mendengarkan karena dia juga sudah tidak sanggup lagi untuk berdebat dengan Ana. Dia sedikit tidak percaya bahwa Ana bisa sekasar ini kepadanya meskipun dia sudah memberitahu bahwa dia tidak mengetahui sama sekali masalah lamaran Abimayu sebelumnya.


"Jika kamu terus begini, tidk ada orang yang akan mau menerimamu. Abimayu hanya kasihan denganmu, dan aku merasa penolakanku sangat sesuai. Untuk apa dia harus menikah dengan orang yang lemah dan tidak bisa melakukan apa-apa sepertimu. Kamu hanya akan menyusahkan dia nantinya, karena harus mengurusmu yang sakit." Ana melanjutkan kembali perkataannya tanpa melihat keadaan Nayla yang lemah.


Setelah Ana merasa sudah puas dengan apa yang dia katakan kepada Nayla, akhirnya dia memutuskan untuk keluar meninggalkan Nayla.


Mendengar itu, Aisyah langsung berpamitan kepada orang tua Nayla dan mengikuti Ana yang sudah berjalan keluar menuju mobil.


Sedangkan di kamar yang telah Ana tinggalkan, Nayla menangis setelah mendengar perkataan Ana yang menyakitkan baginya.


"Ana, apa yang kamu bicarakan dengan Nayla?" tanya Aisyah setelah mereka berada di dalam mobil.


"Bukan urusan kalian." Jawab Ana dengan cepat.


Aisyah kembali diam, dan tidak ingin bertanya lagi kepada Ana, karena dia tidak akan menemukan jawaban apa pun dari Ana nantinya.


...----------------...

__ADS_1


Sesampainya di rumah kembali, Umi Aida dan Abimayu terlihat duduk di ruang tamu menunggu kepulangan mereka.


"Bagaimana?" Abimayu langsung bertanya mengehentikan Ana yang ingin masuk ke dalam kamar. Sedangkan Aisyah memilih untuk berjalan ke arah anaknya yang sedang bermain. Dia tidak ingin ikut campur masalah yang sedang dibicarakan oleh Abimayu dan Ana.


"Apa?" Ana seolah tidak mengerti apa yang ditanyakan oleh Abimayu.


Sebelum mereka melanjutkan pembicaraannya, terdengar bunyi ponsel Umi Aida yang terletak di atas meja ruang tamu. Melihat siapa yang menghubunginya, Umi Aida menatap Ana dan Abimayu satu persatu. Ternyata panggilan itu berasal dari orang tua Nayla.


"Nayla mengatakan akan menerima lamarannya." Umi Aida berkata dengan pelan setelah dia menjawab panggilan dari orang tua Nayla.


Mendengar itu Abimayu merasa senang sambil melihatkan wajah bahagianya. Ana juga bisa melihat wajah bahagia Abimayu itu.


Ana tersenyum dalam hati karena dia tidak mampu memperlihatkan senyuman langsung dari bibirnya. Dalam hubungan pernikahan yang mereka jalani, baru kali ini Ana melihat senyum dan rasa bahagia Abimayu. Dia juga senang melihat Abimayu yang tersenyum bahagia itu, namun sayangnya, rasa bahagia itu bukan bersama dirinya.


Di balik itu Ana juga merasa marah terhadap Nayla, karena Nayla bukannya mundur setelah dia datang menemuunya dan mengeluarkan kata kasarnya, Nayla bahkan seperti menantangnya.


"Aku akan menyetujuinya!" ucap Ana yang bisa di dengar oleh Abimayu. Dia sudah menyetujui itu, karena sepertinya jika dia tetap dengan pendiriannya, makan Abimayu juga tetap akan menikah karena salah satu alasannya untuk kesembuhan Nayla. Dia juga akan menerima karena dia sudah berjanji tidak akan melepaskan Abimayu, jadi dia akan menerima kehidupan baru yang mereka jalani nantinya.


Senyum di bibir Abimayu sedikit menghilang ketika Ana mengucapkan kata setuju nya. Saat ini ada rasa lain di hatinya selain rasa bahagia, karena Ada perbedaan yang dia rasakan ketika Ana selalu membantah, dan mengucapakan dia tidak akan menyetujui jika dia menikah lagi dengan kata persetujuan yang diucapakan oleh Ana saat ini.


Abimayu dan Ana saling bertatapan selama beberapa detik, dan setelahnya Ana memutus tatapan itu dengan cepat setelah dia sadar jika Abimayu juga menatapnya.


"Ana," panggil Umi Aida dengan pelan.


"Aku tidak ingin mendengar apapun lagi dari kalian! Aku telah menyetujuinya, dan sekarang jangan ada lagi yang mencoba membahas ini denganku!" Ana berkata sambil masuk ke dalam kamar.


Kelancangan Ana yang berkata kepada Umi Aida, membuat Abimayu menjadi marah. Dia tidak ingin jika Ana berbicara tidak sopan kepada orang tuanya. Saat dia ingin bicara, Umi Aida melarangnya, sehingga dia memilih untuk mendengarkan orang tuanya dan tidak jadi untuk menemui Ana.

__ADS_1


__ADS_2