
Ana dan Abimayu sekarang berada di kamar yang sama. Ya, setelah pengakuan Ana di rumah sakit, Abimayu kembali melafadzkan ijab qabul untuk yang ke dua kalinya dengan orang yang sama untuk mensahkan hubungan mereka.
Mereka duduk saling berhadapan di pinggir ranjang. Ana merasakan degup jantungnya yang begitu kencang, dan saat ini dia terlihat sangat gugup ketika berada sedekat ini dengan Abimayu. Padahal dulu mereka juga sering berdekatan, tapi rasanya sangat berbeda di saat sekarang. Apalagi sejak tadi Abimayu terus memandangi wajahnya yang masih tertutup dengan cadar.
Ternyata selama ini Ana masih mencintai Abimayu meskipun dia pernah disakiti oleh pria itu. Ana sudah pernah mencoba untuk melupakan dan membuang perasaannya, tapi sejak dia kembali rasa itu kembali membara saat dia melihat Abimayu. Hatinya masih bertahan untuk mencintai Abimayu.
Dia juga melihat keseriusan Abimayu di saat Abimayu dekat dengan Fatimah. Waktu itu dia tidak bisa pungkiri bahwa hatinya juga menghangat ketika melihat kedekatan Fatimah dan Abimayu, bahkan di saat Abimayu tidak datang menemui Fatimah, dia juga merasakan hal yang sama dengan gadis kecil itu, yaitu merindu dengan pria itu.
Ana juga sudah menolak lamaran Justin kepadanya, karena dari awal dia juga tidak bisa menerima Justin.
"Mas boleh buka ini?" tanya Abimayu kepada Ana yang menundukkan wajahnya.
Ana hanya menganggukkan kepalanya dengan pelan pertanda menyetujui permintaan Abimayu.
Tangan Abimayu sudah terangkat dan membuka cadar yang di pakai Ana dengan pelan. Dia juga terlihat sangat gugup saat ini, dengan gerakan yang pelan, akhirnya cadar di wajah Ana telah terlepas.
Ana masih belum mengangkat kepalanya, karena dia masih malu. Abimayu menyentuh dagu Ana, lalu mengangkat kan kepala Ana untuk melihat ke arahnya. Seketika mata mereka bertemu dan saling berpandangan.
Abimayu sangat terharu karena dia bisa melihat wajah Ana kembali secara jelas, karena dia sangat merindukan wajah itu.
Mereka terus saling berpandangan, lalu tiba-tiba setetes air bening jatung menetes ke pipi Abimayu, tapi lama kelamaan air mata itu semakin banyak hingga membasahi pipinya hingga dia menangis terisak.
Ana juga tidak bisa menahan rasa harunya, dia juga ikut menangis.
"Mas..." Ana memberanikan diri untuk menyentuh pipi Abimayu dan menghapus setiap tetes air mata yang jatuh dengan jari-jarinya. Belum lama jari-jarinya dia menghapus air mata itu, Abimayu menghentikan gerakan Ana dan membawa tangannya Ana ke arah bibirnya, lalu menciumi tangan itu.
Abimayu juga lebih mendekatkan wajahnya dengan Ana, lalu dia mencium kening Ana dengan lama. Ana tidak menolak sama sekali, dia bahkan memejamkan mata untuk menikmati ciuman yang diberikan Abimayu kepadanya. Setelah Abimayu melepaskan ciuman dari kening Ana, dia turun ke bawah lagi untuk mencium ke dua mata Ana yang terpejam. Dia tidak tahu sudah berapa banyak mata itu mengeluarkan cairan bening karena perbuatan dirinya dulu.
Abimayu tidak bisa berkata-kata lagi, saat ini dia hanya ingin melepaskan rindu kepada sang istri yang telah sangat lama dia rindukan.
"Apa Mas boleh memelukmu?" tanya Abimayu dan tanpa menjawabnya Ana langsung menghambur ke pelukan Abimayu dan masih menangis. Melihat tingkah Ana yang begitu, Abimayu tersenyum dibuatnya lalu menciumi puncak kepala Ana berkali-kali.
__ADS_1
Malam ini sepasang pengantin lama tapi baru itu saling melepaskan rindu di hati masing-masing. Sepanjang malam mereka terus berpelukan hingga tanpa sadar mereka telah tertidur dengan posisi itu. Sedangkan Fatimah malam ini mereka biarkan tidur bersama sang nenek agar tidak menganggu mereka dulu.
...----------------...
Sekitar jam 4 subuh Abimayu terbangun dari tidurnya dan dia ingin bangkit, tapi tubuhnya seperti sangat susah digerakkan karena di peluk oleh sang istri sejak semalam.
Abimayu menolehkan wajahnya ke arah Ana yang masih tertidur lelap. Dia memandangi wajah itu kembali, dia tidak menyangka bahwa dia bisa melihat wajah itu kembali setelah sekian lama. Tangannya bergerak mengelus pipi Ana lalu dia mendaratkan ciuman di kening Ana tanpa meminta izin lagi kepada si yang punya.
"Ana... bangun, sudah tiba waktu subuh," ucap Abimayu. Tapi Ana masih juga belum bisa mendengarnya.
"Ana..." Abimayu kembali memanggil, tapi Ana masih tetap menutup mata.
Abimayu hanya tersenyum dan tidak marah, karena dia tahu mungkin Ana merasa sangat lelah. Berbeda dengan waktu dulu, Abimayu tidak akan peduli jika Ana tidak ingin bangun.
Abimayu merapatkan wajahnya ke wajah Ana yang masih memejamkan matanya.
Cup cup cup
Ehmmmm
Gumam Ana dengan mata yang masih belum terbuka sempurna.
"Ayo bangun! sudah subuh." Abimayu berkata lagi karena dia ingin mengajak Ana untuk shalat subuh bersama.
Ana menganggukkan kepala dan menutup matanya lagi.
Cup
Abimayu kembali mencium pipi Ana.
"Mas..." rengek Ana sudah merasa risih karena selalu diciumi oleh Abimayu.
__ADS_1
"Jangan tidur lagi, nanti shalatnya bisa terlambat." Abimayu takut Ana akan terlelap lagi dan terlambat mengerjakan shalat subuhnya.
"Iya, Mas. Aku menyusul setelah Mas Abi selesai," ucap Ana sambil duduk dari tidurnya.
Melihat Ana yang sudah duduk, Abimayu akhirnya beranjak dari atas ranjang dan pergi membersihkan diri lebih dulu. Tapi sebelum dia benar-benar pergi dia kembali mencuri untuk mencium pipi Ana kembali.
"Mas Abi...." Ana sudah mulai kesal dengan tingkah Abimayu. Dia bukan kesal karena marah, tapi dia merasa saat bangun keadaan wajahnya tidak bersih, tapi Abimayu tidak merasa jijik untuk terus menciuminya. Sedangkan Abimayu tertawa puas melihat Ana yang kesal.
Jika dulu Ana yang selalu berusaha untuk menggoda Abimayu dengan berani, tapi sekarang Abimayu lah yang akan memberikan cinta dan sayang sepenuhnya kepada sang istri.
...----------------...
"Ya allah, berkahilah hubungan yang telah kami jalin kembali ini. Ingatkan kami jika kami berbuat yang salah nantinya. Tautkanlah selalu hati kami dalam keadaan senang maupun susah, sedih maupun bahagia. Berilah kami kesabaran dan ketabahan dalam menjalani rumah tangga ini nantinya. Biarkanlah hanya maut yang menjadi pemisah kami nantinya, dan jadikanlah keluarga kami sakinah, mawaddah, warahmah.
" Amiiin."
Suara Ana mengaminkan doa Abimayu dari belakang.
Tok tok tok
"Bunda..." Suara Fatimah terdengar memanggil dari arah pintu kamar.
Ana ingin berdiri, tapi di hentikan oleh Abimayu karena dia yang ingin membukakan pintu untuk putri kecil mereka itu.
"Abi... Bunda..." ucap Fatimah dengan gembira setelah pintu kamar dibuka oleh Abimayu. Dia terlihat sangat gembira dengan memakai mukena kecil di tubuhnya. Ternyata dia juga sudah bangun sepagi ini karena Ana sudah membiasakan dia untuk selalu bangun subuh dan ikut shalat bersamanya.
"Kenapa Fatimah semalam ditinggal?" tanya Fatimah saat Abimayu telah membawanya masuk ke dalam kamar dan mendekat ke arah Ana yang masih duduk di atas sajadah nya.
"Semalam Bunda lupa kalau Fatimah main dengan Nenek."
Abimayu tersenyum melihat ke arah Fatimah yang sudah duduk berpangku kepada Ana. Hatinya menghangat menyaksikan pemandangan itu.
__ADS_1