Bertahan Mencintaimu

Bertahan Mencintaimu
bab 87


__ADS_3

Ana melihat ke arah Abimayu yang masih diam mematung di tempatnya. Saat ini Ana ingin sekali tertawa saat melihat raut wajah Abimayu yang sangat terkejut melihat dirinya yang sudah berani memperlihatkan tubuhnya dengan memakai lingerie seksinya dulu yang masih tersimpan rapi di dalam kamar tidur mereka. Ternyata Abimayu masih tetap menyimpan semua pakaian dan barang-barang nya di rumah itu meskipun dulu dia telah pergi.


Ana tidak tahan melihat Abimayu yang tetap berdiri terdiam seperti itu, dia memutuskan untuk menyudahi kegiatannya dan berdiri dari duduknya lalu berjalan menghampiri Abimayu.


"Sayang ka..."


Belum sempat Abimayu bertanya Ana telah lebih dulu memghentikannya dengan cara mencium bibir Abimayu. Ana terus mencium bibir itu dengan gerakan pelan, sedangkan Abimayu meskipun dia terkejut, tapi dia menikmati ciuman itu dan menyeimbangi gerakan dari bibir Ana.


Ana melingkarkan ke dua tangannya ke tubuh Abimayu, dan Abimayu memegang kepala Ana agar bisa lebih memperdalam ciumannya.


Mereka sama-sama memejamkan mata untuk menikmati ciuman yang mereka lakukan. Sedikit demi sedikit tangan Ana telah bergerak meraba punggung Abimayu yang terbuka, dan tangan Abimayu juga sudah melingkar di tubuh Ana dan melakukan gerakan yang sama dengan Ana. Mereka saling menyentuh dan merasakan setiap sentuhan yang mereka berikan.


Lama kelamaan ciuman Abimayu semakin ganas sehingga Ana tidak bisa menyeimbangi nya, dia juga seperti kehabisan nafas lalu melepaskan ciumannya.


Huffffff


"Kamu terlalu ganas, Mas!" ucap Ana di sela-sela dia mengatur nafasnya.


Abimayu hanya bisa tersenyum dan seperti tidak bisa bicara lagi karena gairahnya yang sudah membara. Tapi dia juga tidak ingin terburu-buru, jika Ana saat ini telah menyerahkan tubuhnya kembali, maka dia akan melakukan itu dengan bertahap agar mereka bisa menikmati.


"Sayang, kamu..."


Sttttt


Ana kembali mencium bibir Abimayu tapi dengan sentuhan cepat.


"Sekarang Mas boleh menyentuh dan melakukan apa yang Mas suka!" Ana berkata pelan di telinga Abimayu sehingga membuat hasrat Abimayu kembali membara.


Abimayu tidak bisa berkata-kata lagi, Ana sudah menyerahkan dirinya sepenuhnya saat ini untuk bisa di sentuh Abimayu. Hati Abimayu menghangat mendengar perkataan Ana itu, rasa resah dan gelisah dia sejak kemarin terlepas begitu saja dari dadanya.


Abimayu memegang kedua pipi Ana dan sedikit menarik wajah Ana ke atas agar dia bisa menatap wajah itu dengan lekat.


Abimayu sekarang merapatkan wajah mereka dengan gerakan pelan, lalu menyatukan bibir mereka kembali. Mereka saling mengecap kenikmatan dari bibir masing-masing, tangan mereka juga tidak tinggal diam saling meraba dan menyentuh bagian tubuh yang mereka sukai.


Abimayu membawa Ana ke atas ranjang sambil masih berciuman dan merebahkan tubuh mereka dengan dia yang berada di atas. Sedangkan Ana sekarang berada dalam kurungannya.

__ADS_1


Sedikit demi sedikit Abimayu melepaskan lingerie yang dipakai oleh Ana dan begitu juga dengan handuk yang dia pakai.


Akhirnya malam ini Abimayu kembali menyentuh Ana untuk yang ke dua kalinya, sedangkan Ana telah menyerahkan dirinya untuk Abimayu.


Hingga larut malam sepasang suami istri itu masih saling mengecap rasa nikmat dari penyatuan mereka, dan suara lenguhan kenikmatan memenuhi kamar yang mereka huni. Tubuh mereka seperti tidak merasakan lelah meski sudah melakukannya beberapa kali, dan dinginnya malam tidak mampu membuat mereka kedinginan karena mereka dihangatkan oleh sentuhan kenikmatan dari penyatuan tubuh mereka dan mereka juga seperti membalaskan dendam terhadap waktu yang telah mereka sia-siakan selama ini.


...----------------...


"Sayang...bangun! Sudah subuh." Abimayu membangunkan Ana setelah dia menunaikan shalat subuhnya.


Ana masih belum bangun sejak setelah dia memutuskan untuk shalat lebih dulu karena dia takut waktu subuh akan habis. Setelah itu dia kembali membangunkan Ana yang masih tertidur. Dia tahu jika istrinya itu sangat kelelahan akibat pergelutan mereka semalam karena mereka menyelesaikannya ketika jam sudah berada di angka dua malam.


Ehmmmm


"Ayo, Sayang. Nanti waktu subuh akan habis."


Ana membuka matanya dengan pelan karena mendengar perkataan Abimayu. Dia juga takut jika shalat subuhnya akan tertinggal. Di berusaha untuk berdiri meskipun tubuhnya terasa sangat remuk.


"Ayo." Abimayu mengangkat tubuh Ana dan membawanya ke dalam kamar mandi. Dia tahu jika sang istri merasakan sakit di tubuhnya saat ini.


"Kamu harus dibuat seperti ini, jika tidak kamu akan lama untuk shalat subuhnya." Abimayu berkata sambil tersenyum dan menurunkan Ana di dalam kamar mandimandi, karena dia menyadari Ana jadi begini juga karena perbuatannya.


Setelah selesai membersihkan diri, Ana kembali terlihat lebih bertenaga daripada saat bangun tidur tadi. Ana tidak ingin berlama lagi, dia langsung menunaikan kewajibannya. Sedangkan Abimayu telah turun ke bawah dan keluar dari rumah untuk berolahraga lagi di sekitar perumahan mereka.


Selesai berolah raga Abimayu kembali pulang ke rumah. Saat masuk ke dalam rumah, dia sudah mendengar suara sedikit ribut dari arah dapur, dia ingin melihat apa yang terjadi di dapur mereka saat ini sekaligus dia ingin minum air karena merasa dahaga setelah berolah raga.


Abimayu diam terpaku sejenak melihat pemandangan yang ada di depannya saat ini. Ya, Ana istrinya tidak lagi berpakaian tertutup ketika di rumah saat ini, dan sekarang Ana kembali seperti Ana yang dulu yang suka memakai pakaian seksinya.


Ana yang sedang memasak sarapan pagi terkejut ketika ada tangan yang tiba-tiba melingkar di perutnya, dan dia sudah bisa menebak siapa orang itu.


"Mas..." ucap Ana saat Abimayu sudah menciumi bagian lehernya.


"Biarkan seperti ini, Sayang! Ini terlalu sulit untuk Mas dapatkan."


Ana tersenyum mendengar celotehan Abimayu, lalu dia membalikkan tubuhnya menghadap Abimayu.

__ADS_1


"Tenang, Sayang. Ini akan selamanya bisa kamu nikmati," ucap Ana menggoda Abimayu dan mengecup bibir Abimayu dengan cepat. Abimayu ingin membalas ciuman itu, tapi Ana memghentikannya karena dia harus memasak.


"Sayang..." rengek Abimayu kepada Ana yang terlihat seperti Fatimah.


"Aku harus menyelesaikan ini, Mas." Ana sudah berbalik kembali membelakangi Abimayu.


Abimayu kembali menciumi Ana dari belakang.


"Mas, itu tidak akan membuat perut ku kenyang, karena sekarang aku sudah sangat lapar," ucap Ana sambil terus mengaduk makanan yang sudah dia letakkan di atas kompor.


"Baiklah, Mas akan bantu kamu, tapi kamu harus janji setelah ini kita akan melakukannya lagi!"


Mata Ana melotot mendengar perkataan Abimayu yang sangat berterus terang.


"Apa yang semalam masih belum cukup?" tanya Ana sambil memgulum senyumnya.


"Sekarang adalah waktu yang sangat tepat, Sayang. Karena gadis kecil itu sedang tidak di sini. Jika dia di sini Mas tidak tahu kapan bisa melakukannya."


Ana sudah menumpahkan tawanya. Dia tidak tahan melihat Abimayu yang berkata seperti itu.


"Mas juga ingin membuat adik untuk Fatimah, supaya Heri tidak lebih dulu daripada Mas." Abimayu berkata sambil tersenyum melihatkan giginya yang putih kepada Ana.


Ana hanya bisa menggelengkan kepalanya.


Setelah mereka selesai sarapan, Abimayu benar-benar menuntut janji itu. Dia tidak memberikan Ana untuk bernafas lagi, dia langsung mengangkat tubuh Ana dan membawanya ke dalam kamar mereka kembali.


Pagi ini mereka kembali menyatukan tubuh mereka dan merasakan kenikmatan dari penyatuan itu. Ana benar-benar kewalahan dibuat oleh Abimayu saat ini, karena Abimayu tidak berhenti menyatukan tubuh mereka hingga Ana kembali merasa lemah tidak berdaya karena tenaganya habis diserap oleh Abimayu dalam penyatuan kenikmatan itu.


"Sayang, bagaimana kalau kita pergi berbulan madu saja?" tanya Abimayu ketika mereka selesai.


Hemmmm


Ana hanya bergumam pelan karena sudah sangat lelah, bahkan untuk bersuara pun dia seperti tidak sanggup lagi. Dia juga berfikir bagaimana nantinya jika mereka pergi bermulan madu, mungkin dia hanya akan berada di tempat tidur sepanjang hari karena perbuatan Abimayu.


Sedangkan di samping Ana, Abimayu terus mengecup pelan jari-jari Ana, dan sedikit demi sedikit kecupan itu sampai ke bagian tangannya. Abimayu terus melakukan itu berulang-ulang hingga ponselnya berbunyi dan menyadarkan dirinya jika pagi ini dia harus pergi bekerja.

__ADS_1


__ADS_2