Bertahan Mencintaimu

Bertahan Mencintaimu
bab 33


__ADS_3

Di tengah malam Abimayu merasa kehausan, lalu dia turun ke lantai bawah untuk mengambil minum. Saat meneguk minumnya, dia melihat Ana yang masih tidur sambil meringkuk di sofa ruang tamu.


Sebelum kembali ke kamarnya, Abimayu membangunkan Ana untuk menyuruhnya supaya tidur ke kamar. Dia berfikir, bagaimana pun Ana yang tertidur di sofa karena menunggunya pulang. Selama Ana mengatakan berubah, dia selalu menunggunya pulang ke rumah setiap hari.


"Ana! Bangun!" panggil Abimayu kepada Ana yang masih tidur.


"Ana!" tangan Abimayu sekarang sudah menyentuh lengan Ana yang terbuka sambil sedikit mengguncang tubuh Ana, karena jika hanya dipanggil Ana tidak akan bangun sama sekali.


"Mmaaaaa...... di... nngggiinn." Ana berkata.


"Sudah tahu jika malam begini ada pendingin, kamu tetap saja memakai pakaian seksi begini," ucap Abimayu saat mendengar perkataan Ana, selain itu dia juga tahu maksud Ana memakai lingerie tipis begitu, sudah pasti karena Ana ingin menggodanya.


"Maaa... di.. nggin." Ana kembali berkata.


Abimayu mulai sedikit heran melihat Ana yang selalu berkata begitu. Dia melihat Ana dengan sedikit tajam, lalu menyadari bahwa saat ini tubuh Ana sedikit menggigil dan tangannya yang menyentuh lengan Ana terasa hawa panas.


"Ana, bangun! Apa kamu sakit?" tanya Abimayu kepada Ana yang masih tidur tapi tubuhnya menggigil.


Abimayu memindahkan tangannya ke arah kening Ana, dan merasakan keningnya Ana sangat panas. Saat itu dia menyadari bahwa Ana sedang demam, makanya dia merasa sangat kedinginan.


"Maaa..." Suara Ana masih terdengar memannggil mamanya.


Abimayu pergi meninggalkan Ana naik ke lantai atas, lalu setelah itu dia turun kembali sambil membawa sebuah selimut di tangannya. Dia menyelimuti Ana dan kemudian berjalan ke arah dapur mengambil air dingin dan kain kecil untuk mengompres kening Ana supaya panasnya menurun.


Saat ini rasa kemanusiaan pada diri Abimayu muncul, dia juga bukan orang yang jahat dan akan membiarkan Ana yang sakit.

__ADS_1


"Ana... bangun! kembali ke kamarmu." Abimayu kembali membangunkan Ana ketika dia sudah mengompres kening Ana dan panasnya sudah terasa turun. Ana juga sudah tidak terlihat gemetar kedinginan lagi. Dia tahu dalam keadaan kurang sehat begini, pasti sangat tidak nyaman jika ridur di sofa.


"Ehmmmm," jawab Ana tanpa membuka matanya.


"Ayo cepat bangun! Kalau tidak, aku akan biarkan kamu sendiri di sini." Abimayu sedikit mengancam karena sejak tadi Ana tetap tidak ingin membuka matanya.


Sedangkan Ana mencoba untuk membuka matanya karena bisa mendengar suara Abimayu, tapi matanya terasa sangat berat untuk dibukanya.


"Ana!" panggil Abimayu kembali.


"Ehmmmm" Ana kembali bergumam.


Ana belum juga bisa membuka matanya, kepalanya juga terasa sangat berat. Tapi dalam tidurnya dia merasakan bahwa tubuhnya seperti diangkat oleh seseorang. Sedangkan Abimayu sudah terlihat membawa tubuh Ana berjalan menuju kamar.


"Saat sakit pun kamu masih saja bertingkah seperti wanita rendahan," ucap Abimayu karena kesal dengan Ana yang sudah mengalungkan tangannya di leher Abimayu dan merapatkan kepalanya ke dada Abimayu, tapi matanya masih tertutup.


"Kenapa menghindar? Bukannya Mas ingin menciumku?" ucap Ana dengan percaya diri saat Abimayu dengan cepat menghindar stelah tersadar dari keterkejutan nya, dan wajahnya sudah terlihat merah karena menahan marah.


"Kamu adalah wanita yang tidak tahu berterima kasih," sindir Abimayu kepada Ana.


"Berterima kasih untuk apa?" kata Ana sambil bangkit dari tidurnya.


"Aku sudah sangat muak dengan caramu yang murahan itu." Abimayu kembali mengeluarkan kata kasarnya karena merasa sudah dipermainkan oleh Ana.


Ana bingung dengan perkataan Abimayu karena dia tidak tahu apa maksud dari semuanya. Dia hanya tahu, saat dia membuka mata, Abimayu sedang berada di atasnya seperti ingin menciumnya dan dia hanya ingin mewujudkan itu dengan cara mencium Abimayu lebih dulu.

__ADS_1


"Bukannya Mas Abi yang ingin menggodaku?" tanya Ana kepada dengan percaya diri kepada Abimayu yang ingin pergi dari kamar yang dia tempati.


"Perkataanmu itu adalah hal yang tidak mungkin aku lakukan."


"Lalu, kenapa Mas Abi bisa ada di kamar ini, ha?"


"Aku bukan seorang yang rendahan seperti mu, dan aku masih berhak untuk masuk ke dalam kamar ini." Abimayu menjawab dengan marah.


"Iya, Mas Abi memang orang yang baik, kalau begitu, ayo kita tidur bersama lagi!" ajak Ana sambil berkata memuji Abimayu yang membuat Abimayu semakin marah melihatnya.


"Dengarkan baik-baik! Sampai kapan pun aku tidak ingin lagi sekamar denganmu, disentuh mu saja aku tidak ingin, apalagi tidur sekamar. Aku orang yang masih punya harga diri, yang perlu aku jaga dari wanita sepertimu." Abimayu berkata sambil membesarkan bola matanya.


"Harga diri apa? Jangan jadi orang yang munafik," ucap Ana mengolok Abimayu karena kesabarannya juga sudah habis melihat Abimayu yang selalu merendahkannya lagi.


"Ana... " suara Abimayu naik satu oktaf karena Ana mengatakan dia yang munafik. " Apa selain rendahan, kamu juga wanita bodoh? Kamu tidak sadar apa yang baru terjadi denganmu? Kamu sedang demam, dan aku berusaha menolongmu. Aku masih punya hati untuk membantumu. Apa kamu tidak tahu kalau tadi kamu terlihat menyedihkan? Aku merasa seperti menolong ular yang terjepit. Ternyata, dia menggigit orang yang sudah menolongnya, dan keadaannya sekarang sama sepertimu."


Abimayu berlalu keluar meninggalkan Ana yang terdiam tidak membalas perkataannya lagi. Ana sedang mencerna perkataan yang disampaikan Abimayu kepadanya. Kemudian dia menggelengkan kepala setelah semua terasa jelas baginya.


Dia baru ingat, jika sedang demam, dia terkadang sering tidak sadar. Bukan dalam artian dia pingsan, tapi saat itu, dia tidak bisa membuka matanya dan merasa pergerakan orang yang sedang menolongnya berada dalam mimpinya.


Saat Abimayu membaringkan dia di atas ranjang dan saat membuka matanya, dia sudah tersadar dan berfikir bahwa Abimayu sengaja ingin menciumnya karena wajah Abimayu sangat dekat dengannya. Dia hanya ingin mewujudkan itu dengan cepat.


"Ya sudahlah, biarkan saja." Ana berkata sendiri. Dia ingin menjelaskan kepada Abimayu apa yang terjadi dengannya. Tapi setelah dia fikirkan lagi, juga tidak ada gunanya jika Abimayu tahu tentang itu, karena di mata Abimayu dia memang tetap menjadi wanita yang rendah.


Sedangkan di kamarnya, Abimayu masih menahan marah karena Ana telah menciumnya.

__ADS_1


Dia tidak menyangka, Ana bismenjebaknya sangup untuk berpura-pura begitu hanya untuk menjebaknya. Jadinya Abimayu semakin tidak menyukai Ana dan selalu menganggap Ana seorang wanita rendah yang melakukan berbagai cara supaya membuat dia bisa menyentuhnya.


__ADS_2