Bertahan Mencintaimu

Bertahan Mencintaimu
bab 32


__ADS_3

Dua tahun telah dilewati Ana menempuh rumah tangga bersama Abimayu. Selama dua tahun itu, tiada yang berubah dari hubungan mereka.


"Kenapa Mas Abi masih mengabaikanku?" tanya Ana mengahalangi Abi yang ingin pergi.


"Untuk apa kamu bertanya lagi?"


"Aku sudah memperbaiki diri, aku sudah mencoba menjadi istri yang patuh dan sudah peduli dengan kebutuhan Mas Abi!"


"Seharusnya kamu melakukan itu sejak dulu."


"Apa yang Mas Abi inginkan sebenarnya? Jangan katakan lagi jika Mas Abi ingin kita berpisah! Itu tidak akan pernah terjadi." Ana pergi meninggalkan Abimayu. Dia merasa kesal dan marah karena Abimayu masih mengabaikannya. Meskipun dia sudah berubah, tapi dia juga tidak mempunyai kesabaran yang tinggi. Dia akan tetap marah jika Abimayu masih mengabaikannnya.


Setiap hari, Abimayu dan Ana sama-sama tertekan dengan keadaan yang mereka jalani. Ana masih diabaikan oleh Abimayu, sedangkan Abimayu sibuk menata hatinya karena sering bertemu kembali dengan Nayla akhir-akhir ini.


...----------------...


Hari ini, Abimayu berkunjung ke rumah saudaranya Aisyah karena diia mempunyai urusan perkejaan di daerah yang satu kota dengan tempat tinggal mereka.


"Kenapa tidak bawa Ana, Bi?" Aisyah bertanya sambil membawakan minuman kepada Abimayu.


"Ana kerja, Mbak. Aku ke sini karena ada perkerjaan."


"Bukan alasan, apa salahnya membawanya ke sini?" Aisyah sedikit membantah Abimayu karena selama ini dia belum pernah datang membawa Ana ke rumah mereka.


"Mbak, aku ke sini benar karena ada pekerjaan!" Abimayu menegaskan lagi agar Aisyah tidak salah paham dengannya.


"Ya, terserah kamu, tapi Mbak kurang yakin. Apa hubungan kalian baik-baik saja?" Aisyah bertanya sedikit curiga, karena dia sangat tahu bagaimana seorang Abimayu.

__ADS_1


"Hemmm, begitulah." Abimayu seperti ragu untuk mengatakan kepada Aisyah bahwa hubungan mereka baik-baik saja.


"Abi...jawab yang benar. Jika begitu, Mbak bisa salah sangka kepadamu," ucap Aisyah mulai curiga.


Abimayu melihat ke arah Aisyah yang duduk sedikit berjarak dengannya, karena sejak dia tiba di rumah Aisyah, dia langsung disambut oleh dua orang keponakannya dengan bahagia dan mengajaknya untuk bermain bersama mereka.


"Sebenarnya, Aku mau menanyakan pendapat Mbak Ais." Abimayu menjauh dari keponakannya dan mendekat ke arah Aisyah.


Aisyah mengerutkan keningnya, matanya ikut menyipit. Melihat cara Abimayu menjawab pertanyaan mengenai hubungan rumah tangganya, Aisyah yakin ada sesuatu yang terjadi. Sejak dulu, dia sangat rapat dengan Abimayu, sehingga dia tahu jika Abimayu sedang mempunyai masalah terlihat dari cara Abimayu menjawab pertanyaannya.


"Pendapat tentang apa?" tanya Aisyah dengan masih mengerutkan keningnya.


"Tapi Mbak Ais janji tidak akan beritahu ini kepada abah dan umi." Abimayu berkata untuk menyepakati Aisyah.


Mendengar perkataan Abimayu begitu, Aisyah bertambah yakin kalau Abimayu sedang tidak baik-baik saja.


"Ehmmmm ya" Aisyah menjawab untuk meyakinkan Abimayu.


"Bagaiman pendapat Mbak Ais jika aku berpisah dengan Ana?" Abimayu sudah mengatakan kepada Aisyah tanpa ragu.


Bola mata Aisyah terbuka lebar mendengar perkataan adiknya. Dia sangat terkejut mendengarnya. Tapi, dia adalah orang yang sangat bijak, dan dia tidak ingin memberikan pendapatnya sebelum ia tahu apa alasan dari Abimayu berkata begitu.


"Apa alasannya?" tanya Ana ingin tahu, karena semua sesuatu yang terjadi pasti ada sebabnya.


Raut wajah Abimayu terlihat gelisah, dia tidak tahu harus memulai dari mana. Dia berani betanya pendapat Aisyah, karena hanya Aisyah lah satu-satunya anggota keluarganya yang pernah bertemu dengan Ana dengan keadaan Ana yang sebenarnya. Setidaknya, ada sesuatu hal yang dipercayai Aisyah dari apa yang dia katakan nantinya.


"Katakan Alasannya, Bi!" Aisyah kembali menanyakan alasannya, karena Abimayu masih belum mengatakannya yang membuat dia belum bisa berpendapat tentang hubungan Abimayu.

__ADS_1


Akhirnya Abimayu bercerita kepada Aisyah tanpa ada yang dia tutupi. Dia juga mengatakan alasannya tidak bisa menerima Ana sampai sekarang.


"Sekarang, kamu ingin nya bagaimana?" tanya Aisyah setelah mendengar semua cerita dari Abimayu.


"Kalau boleh, aku ingin kami berpisah saja, Mbak." Abimayu menjawab tanpa ragu sama sekali, karena sudah dari beberapa bulan yang lalu dia berfikiran seperti ini, tapi masih banyak yang menjadi pertimbangannya.


"Kamu fikirkan dengan baik dulu, jangan langsung mengambil keputusan begitu." Ana memberikan pendapatnya.


"Mbak, aku tidak bisa lagi jika setiap hari harus berhadapan dengannya, aku juga tidak ingin terus menambah dosa karena selalu membencinya. Aku tidak bisa, Mbak!"


Aisyah menarik nafas dengan pelan, dia merasa kasihan dengan saudaranya ini. Dari raut wajah Abimayu, Aisyah bisa tahu jika adiknya ini benar-benar tertekan dengan keadaannya.


"Mbak tidak bisa berpendapat soal ini, karena Mbak hanya mendengar cerita dari kamu. Seharusnya Mbak juga mendengarkan cerita dari Ana. Untuk saat ini, Mbak hanya menyarankan kamu untuk berbicara masalah ini kepadanya lebih dulu. Jika memang jalan terbaik dari kalian hanya berpisah, mungkin memang itu sudah menjadi penyelesaiannya."


"Aku takut dengan abah dan umi Mbak. Tapi aku juga sudah tidak tahan, Mbak."


Aisyah mengerti maksud dari cerita Abimayu, sebab dia sudah pernah bertemu dengan Ana dan melihat secara lansung adik iparnya itu.


"Mbak akan bantu bicara dengan abah dan umi. Abi...Berumah tangga itu, kita mencari ridhonya Allah, agar menjadi keluarga sakinah, mawaddah, dan warahmah. Jika keadaan kalian sudah seperti itu, Ana yang selalu membangkang untuk diajari dan kamu yang tidak pernah bisa mau menerimanya, jika memang tidak bisa dipertahankan lagi dan jalan satu-satunya hanya berpisah, tidak maslah. Tapi kalian harus membicarakannya dengan baik, mungkin jika kalian bicara baik-baik, kalian akan mendapatkan solusinya, karena yang menjalani hubungan itu adalah kalian berdua."


Perasaan Abimayu sedikit lega karena telah bercerita dengan Aisyah. Selama ini dia belum pernah menceritakan masalah yang dia hadapi sekarang kepada siapapun, bahkan dengan keluarganya. Aisyah lah orang yang pertama kali dia ceritakan, karena selama ini dia selalu merasa nyaman jika bercerita tentang masalahnya kepada Aisyah saudaranya.


"Kamu hati-hati menyetirnya!" Aisyah berkata saat Abimayu berpamitan kepadanya untuk pulang.


"Iya, Mbak."


"Ingat apa yang Mbak katakan, bicarakan baik-baik dulu dengan Ana, jangan pakai emosi." Aisyah kembali mengingatkan Abimayu.

__ADS_1


"Iya, Mbak. Abi akan coba." Jawab Abimayu dan berlalu pergi meninggalkan rumah Aisyah.


Jam 11 malam, Abimayu baru tiba di rumah. Saat dia membuka pintu, dia melihat Ana yang tidur di sofa ruang tamu, karena sejak Ana mengatakan akan berubah, Ana selalu menunggunya pulang bekerja, meskipun nantinya pertengkaran yang akan menajadi akhir dari semuanya.


__ADS_2