Bertahan Mencintaimu

Bertahan Mencintaimu
bab 43


__ADS_3

Pagi ini Ana bangun tidak seperti biasanya. Dia bangun lebih awal dari pada biasanya. Dia belum di beritahu oleh orang tuanya bahwa Abimayu telah mendatangi mereka untuk meminta izin kepada mereka bahwa dia akan menikah lagi.


Ana bergegas turun ke bawah untuk sarapan terlebih dahulu, dan dia tidak menunggu Abimayu ukut sarapan bersamanya.


"Mas Abi sarapan sendiri dulu, atau biarkan pelayan yang menyiapkan," ucap Ana terburu-buru.


"Aku bisa sendiri dan tidak perlu meminta pelayanan untuk membantuku." Sindir Abimayu.


"Ya, aku baru ingat jika suamiku adalah seorang yang sangat mandiri." Ana berkata memuji sang suami sambil tersenyum.


"Aku akan berangkat terlebih dulu!" Ana sudah berdiri dari kursinya.


"Mau ke mana kamu sepagi ini?" Abimayu tiba-tiba bertanya karena dia ingin tahu ke mana Ana pergi, karena tidak bisanya Ana pergi lebih dahulu darinya.


"Hemmmm kenapa Mas Abi ingin tahu?" balas Ana sedikit menggoda Abimayu.


Abimayu terdiam dan tidak tahu apa yang sedang dia lakukan. Kenapa dia ingin tahu dan bertanya ke mana Ana pergi saat ini.


"Aku tidak peduli, tapi kamu harus ingat kalau hari ini orang tuamu ingin berkunjung ke sini." Abimayu berkata mengingatkan.


Ana hanya tersenyum mendengarnya, karena dia juga sudah tahu tentang kedatangan orang tuanya.


"Aku berangkat dulu."


"Tunggu!" Abimayu kembali menghentikan langkah Ana dan membuat Ana heran.


"Kenapa lagi, Mas?"


Abimayu bersikap seperti tidak biasanya. Dia juga tidak mengerti kenapa dirinya seolah ingin menahan Ana untuk pergi.


"Ayo sini! Aku tahu Mas Abi ingin aku peluk, kan?" goda Ana sambil terus mendekat ke arah kursi Abimayu.


Ana sudah merentangkan kedua tangannya, tapi Abimayu sudah berdiri dengan cepat untuk menghindar.


"Kenapa Mas Abi menjauh? Ayo sini! Aku benar-benar ingin pergi karena aku akan terlambat, Mas." Ana berkata dengan manja sambil terus tersenyum.


Setelahnya Ana melihat Jam di tangannya.


"Aku akan pergi sekarang!" Kali ini Ana benar-benar pergi meninggalkan Abimayu yang masih berdiri menjauh untuk menghindarinya.


Sedangkan Abimayu sudah tidak ingin menghentikan Ana lagi karena dia juga bingung kenapa dia harus menghentikan Ana. Tapi setelah Ana berusaha berhenti dan menggodanya, dia merasa lebih tenang. Abimayu menyapu wajahnya beberapa kali karena merasa menyesal dengan apa yang telah dia lakukan barusan. Dia terlihat seperti tidak rela ditinggalkan Ana sebelum Ana melakukan sesuatu yang biasa dia lakukan sebelum dia pergi bekerja yaitu menggodanya.


...----------------...


"Pa, lebih cepat lagi jalankan mobilnya, Pa!" ucap Kiran kepada suaminya yang sedang menyetir.


"Jangan buru-buru! Mama tenangkan diri dulu!"


"Mama tidak bisa tenang sebelum bertemu dengan Ana dan mendengarkan penjelasan darinya." Kiran berkata dengan perasaan marah.

__ADS_1


"Papa mengerti. Tapi kita juga perlu hati-hati dalam berkendaraan, Ma."


Kiran tidak menjawab perkataan sang suami lagi. Dia hanya diam sambil melihat ke arah depan mobil dengan raut wajah sendunya.


Hari ini mereka sudah berjanji akan menjumpai Ana untuk menanyakan mengenai apa yang telah diberitahukan oleh Abimayu kepada mereka tentang Ana, karena apa yang disampaikan oleh Abimayu adalah suatu hal yang paling mereka larang untuk Ana lakukan.


...----------------...


Plak


Sebuah tamparan diterima Ana saat dia bertemu di butiknya bersama orang tuanya. Dia mengajak mereka untuk singgah di butiknya dulu karena dia masih ada urusan yang akan dia selesaikan.


"Kenapa Mama menamparku?" Tanya Ana yang sudah menangis karena sangat kesakitan akibat tamparan itu.


"Diam kamu." Jawab Kiran dengan matanya yang melebar melihat Ana.


"Ma, kita bicarakan baik-baik dulu! Jangan seperti ini," sambut Ardi kepada Kiran.


Mereka bertiga masih dalam posisi berdiri karena Ana langsung berdiri menyambut kedatangan orang tuanya di ruangan butiknya.


"Hati Mama terasa sangat sakit, Pa! Mama tidak tahan lagi untuk memendamnya, terlalu sakit, Pa?"


Ana yang masih sedikit menangis, merasa bingung, karena tidak tahu apa yang dimaksud oleh mamanya berkata seperti itu.


"Ayo, kita duduk dulu! Kita akan bicarakan dengan baik-baik."


"Diam kamu!" ucap Kiran kembali kepada Ana. Dia tidak ingin lagi mendengarkan ajakan suaminya yang menyuruh mereka untuk duduk.


"Sekarang, kamu jawab dengan jujur! Apa benar kamu suka pergi ke klub malam?" tanya Kiran kepada Ana.


Mendengar itu, Ana juga terlihat marah sambil masih memegang pipinya yang sakit.


"Apakah Mas Abi yang memberitahu kepada kalian?" Ana bertanya untuk memastikan. Dia sudah sangat yakin jika Abimayu lah yang memberitahu kepada orang tuanya tentang masalah ini. Dia tidak percaya, dengan reaksi orang tuanya saat mengetahui dia suka pergi ke klub malam.


"Itu tidak perlu! Sekarang, ya atau tidak?" Kiran kembali bersuara. Kali ini dengan sedikit kuat.


"Ya!"


plakk


Kembali sebuah tamparan hinggap di pipinya. Sakit yang pertama saja belum hilang, sekarang di mendapatkan tamparan itu untuk yang kedua kalinya.


"Kendalikan dirimu, Ma." Ardi akhirnya menarik Kiran menjauh dari Ana, dan membawanya duduk di atas sofa ruangan itu. Dia tidak ingin Ana mendapat tamparan untuk yang ke tiga kalinya.


Selanjutnya, dia menarik Ana yang masih berdiri sambil menangis karena tamparan Kiran, dan juga membawanya duduk di sofa. Tapi, jaraknya sedikit jauh dari Kiran. Kemudian, dia juga ikut duduk di antara mereka sebagai penengah.


Sakit yang dirasakan Ana, membuat di teringat dengan Abimayu saat ini.


"Ana!" Ardi memulai kembali percakapan mereka. "Kenapa kamu pergi ke klub itu? Apa tujuanmu?"

__ADS_1


"Aku, Aku... " Ana terbata ingin menjawab pertanyaan papinya. Tapi, dia tidak bisa menjawabnya.


"Kamu tidak mendengar larangan yang sudah kami katakan kepadamu."


"Pa, Aku pergi ke sana hanya untuk bersenang-senang. Aku tidak melakukan apapun di sana, Pa."


"Tidak ada orang yang akan percaya dengan ucapanmu itu." jawab Kiran dengan marah.


"Kenapa kalian tidak percaya? Aku mengatakan yang sebenarnya!"


"Kamu fikir, kami orang bodoh, Ana?"


Kiran dan Ana kembali berdebat.


"Ma, aku mengatakan yang sebenarnya!"


"Tidak! Kamu berbohong, kamu anak yang tidak tahu berterima kasih, kamu anak yang keras kepala."


Perkataan Kiran sudah ke mana-mana, Ana tidak pernah mendengar mamanya berkata sekasar itu kepadanya. Lalu, dia teringat kembali dengan Abimayu dan membuat marah pada dirinya berkobar.


"Kalau ini kalian dengar dari Mas Abi, kalian tidak boleh mempercayainya."


"Bukan karena Abimayu. Tapi, apa yang dikatakan Abimayu adalah benar."


"Kalian tidak boleh mempercayainya, Apa dia sudah mengatakan kepada kalian, bahwa dia akan menikah lagi?" beritahu Ana, dan ternyata orang tuanya sudah mengetahuinya.


"Lebih baik dia menikah lagi, daripada harus bertahan dengan wanita seperti mu, Ana."


"Ma, apa maksud Mama? Kenapa Mama membelanya? Anak Mama adalah aku, bukan dia, Ma." Sambil menangis manja Ana berkata.


Ardi hanya bisa menundukkan kepala, memejamkan matanya, dan mengusap keningnya setelah Ana membenarkan dia sering pergi ke klub malam itu.


"Anak yang tidak tahu diri," jawab Kiran.


Nafas Ana naik turun mendengar setiap kata kasar yang keluar dari mulut orang tuanya. Selama ini, mamanya selalu berkata lembut kepadanya dan tidak pernah memarahinya.


"Kepuasan apa yang telah kamu dapatkan selama ini di klub itu, ha?" Kiran berkata dengan sinis kepada Ana.


"Ma!"


"Dari awal kamu sudah diperingatkan, jangan pernah menyentuh yang namanya klub malam. Tapi kamu tidak mengindahkan itu. Selama ini, kami selalu menuruti kemauanmu, membebaskanmu, dengan syarat, jangan pernah ke situ. Itu larangan keras untukmu. Kamu mengatakan, Ya. Tapi kenapa kamu pergi juga?"


Air mata Kiran yang sejak tadi dia tahan, sudah jatuh membasahi pipinya. Ana bisa melihat kedua orang tuanya yang sangat kecewa dengan dirinya.


"Pa, Ma. Aku berani jamin, kalau aku tidak pernah melakukan sesuatu yang di luar batas di sana."


"Sudah ku katakan, tidak akan ada orang yang percaya dengan ucapanmu itu, Ana. Bahkan kami pun tidak percaya, meskipun kami adalah orang tuamu."


"Itu adalah trik Mas Abi, Ma. Supaya dia bisa bercerai denganku."

__ADS_1


__ADS_2