
"Kita mau kemana, Bunda?" tanya Fatimah kepada Ana yang sedang bersiap di rumah mereka, sedangkan Fatimah telah dia persiapkan terlebih dahulu darinya.
"Kita mau mengantarkan pesanan, Sayang." Jawab Ana yang masih membetulkan hijabnya.
Selama tinggal di sini Ana bekerja sebagai perancang busana untuk sebuah butik besar di kota tempat dia tinggal ini, jadi dalam seminggu sekali dia akan pergi ke pusat kota untuk mengantarkan rancangan busananya.
"Bunda, Fatimah main sama kak Hawa saja," ucap Fatimah tidak ingin ikut dengan Ana.
Mendengar itu Ana menjadi sedikit lebih hati-hati lagi. Dia tidak ingin Fatimah kembali berlari tanpa dia sadari seperti kemarin
"Sayang..." Ana sudah memegang tubuh Fatimah untuk menahan gerakannya nanti yang tiba-tiba. "Fatimah temani Bunda dulu hari ini, boleh? Nanti setelah itu, Fatimah boleh main dengan kak Hawa." Ana berkata dengan pelan agar Fatimah bisa mengerti apa yang dia inginkan.
"Fatimah tinggal sama Umi Sarah dan kak Hawa saja, Bunda." Fatimah menjawab dan meminta untuk tinggal saja, karena selama ini dia juga sering tinggal di rumah Sarah jika Ana pergi ke pusat kota.
"Ehmmmm tapi Bunda ingin ditemani Fatimah hari ini, Bunda ingin mengajak Fatimah membeli mainan baru." Ana akhirnya mengalah untuk membujuk Fatimah dengan cara biasanya, karena saat ini Fatimah sangat bersikeras untuk tinggal. Sebenarnya dia tidak ingin membujuk Fatimah dengan memberikan mainan, tapi sekarang dia sangat terpaksa melakukannya karena tidak ingin Fatimah pergi ke rumah Sarah. Beberapa waktu ini dia berhasil membujuknya, tapi sekarang dia juga sedang ingin cepat pergi ke pusat kota.
"Yeeeee." Fatimah bersorak riang sendiri karena Ana menjanjikan kepadanya mainan.
Sekarang mereka sudah berjalan ingin keluar dari pesantren, karena mereka harus pergi sedikit jauh dari lingkungan pesantren agar bisa menemukan angkutan untuk membawa mereka ke pusat kota.
"Ayo, Sayang! Kenapa Fatimah selalu melihat ke belakang?" tanya Ana yang merasa heran melihat Fatimah yang bergandengan tangan dengannya saat ini. Fatimah seperti tidak ingin melangkah karena melihat sesuatu berada di belakangnya.
"Fatimah...." panggil Ana dengan posisi dia masih menghadap arah depan, dan merasakan Fatimah telah melepaskan pegangan tangannya.
"Da daaa."
__ADS_1
Ana mendengar Fatimah berteriak sendiri dengan sangat kuat sambil melambaikan tangannya. Lalu dia juga mendengar suara beberapa anak yang menyambut teriakan Fatimah dari arah belakang. Di saat itu Fatimah benar-benar telah berhenti melangkah dan membalikkan badannya ke arah belakang, sehingga dia berdiri menghadap jalan tempat lewatnya mobil yang dia lihat.
"Bunda, itu teman kak Hawa di rumah. lihat bunda, itu teman Fatimah, mereka pergi naik mobil." Fatimah berbicara dengan cepat untuk memberitahu Ana, karena mobil yang dia lihat semakin menjauh. Dia ingin Ana melihat siapa teman barunya yang dikatakan olehnya itu.
Ana yang ingin membalikkan badannya berhenti dan membatalkan niatnya untuk berbalik setelah mendengar perkataan Fatimah, karena dia yakin bahwa orang yang dikatakan oleh Fatimah itu adalah keluarga Abimayu yang mungkin sedang dalam perjalanan kembali ke kota mereka.
"Bunda, ayo lihat, itu teman Fatimah," suruh Fatimah lagi.
Fatimah terus memaksa Ana untuk melihat, tapi dia tetap tidak ingin berbalik. Hingga setelah beberapa detik, Fatimah tidak lagi bersuara, dia hanya diam melihat satu buah mobil lagi yang berada di belakang. Dia terus melihat mobil itu dengan tatapan wajahnya yang tanpa ekspresi.
"Ayo, Sayang! kita pergi!" ajak Ana kembali setelah mendengar Fatimah tidak bersuara lagi.
"Bunda, teman Fatimah sudah pergi." Fatimah berkata, dan di saat itu Ana membalikkan tubuhnya karena telah yakin bahwa mobil keluarga Abimayu sudah menjauh dari mereka.
"Iya, Bunda. Ye yee Fatimah main sama kak Hawa." teriak Fatimah sambil melompat gembira.
Ana tersenyum melihat tingkah putri kecilnya itu, sedangkan di hatinya perasaan perih kembali menjalar melihat putrinya kecilnya begitu bahagia ketika menyapa keluarga Abimayu.
...----------------...
"Kamu mencari siapa, Nak?" tanya Umi Aida ketika mereka telah bersiap-siap akan pulang dan melihat Abimayu yang berdiri dengan gelisah sambil melihat ke sekitar rumah Sarah. Bahkan sesekali Abimayu terlihat berjalan ke halaman depan rumah Sarah.
"Ehmmm tidak ada, Umi." Abimayu menjawab sambil terus terlihat gelisah.
"Kalau begitu, ayo kita berangkat!" ajak Umi Aida kepada Abimayu karena yang lain sudah siap semua dan telah memasuki mobil.
__ADS_1
Abimayu menggelengkan kepalanya untuk menghilangkan rasa gelisah nya. Saat ini dia teringat akan gadis kecil yang bernama Fatimah itu lagi. Dia ingin melihat Fatimah sebelum dia pergi.
Abimayu menjalankan mobilnya dengan pelan, karena dia hanya sendiri di dalam mobil. Dia berharap bisa melihat sosok gadis kecil itu di sekitar pesantren ini.
Di saat mobilnya ingin keluar dari lingkungan pesantren, dari jarak yang sedikit jauh dia melihat sosok yang dia cari sejak tadi.
Gadis kecil itu berdiri sedikit berteriak karena menyapa keluarganya yang berada di depan mobilnya, dan disampingnya berdiri seorang wanita bercadar yang Abimayu yakini adalah ibu dari Fatimah.
Abimayu semakin memelankan mobilnya, dia ingin melihat Fatimah meski dari jarak yang sedikit jauh, dia terus melihat Fatimah yang juga melihat ke arahnya sambil berdiri mematung.
Dadanya terasa sesak ketika mobilnya telah meninggalkan lingkungan pesantren, karena dia tidak bisa melihat wajah Fatimah lagi, wajah yang mirip dengan wanita yang sangat dia rindukan saat ini.
Saat itu ponselnya tiba-tiba terdengar berbunyi.
"Aku masih akan beberapa hari lagi di sini? " Abimayu berkata di ponselnya.
"Aku mengerti, Abi. Tapi mereka mengatakan hanya ingin kamu yang menandatanganinya." Heri berkata dari seberang ponsel Abimayu.
"Kenapa akhir-akhir ini terlalu banyak para klien yang hampir tidak percaya dengan kita?" Abimayu memicit kepalanya karena akhir-akhir ini banyak sekali masalah yang terjadi di perusahaannya, dan itu tidak bisa di selesaikan tanpa dirinya.
"Bukan tidak percaya, tapi mereka ingin mendapatkan hasil yang pasti karena mereka langsung berhubungan denganmu."
"Huffff baiklah, aku akan pulang hari ini, dan suruh mereka untuk datang menemuiku besok pagi di perusahaan." Abimayu berkata lemah, karena lagi-lagi dia akan menunda pencariannya.
Abimayu harus kembali menghentikan pencariannya karena menyelesaikan masalah di perusahaannya. Dia yang awalnya sudah berniat akan tinggal di kota ini untuk beberapa hari lagi, harus di tunda. Dia akan menyerahkan masalah pencarian Ana kembali kepada orang suruhannya, dan dia juga sudah bertekad akan datang kembali ke kota ini hingga dia menemukan Ana.
__ADS_1