
Suasana siang di pesantren begitu sejuk. Daun pohon bergoyang lembut karena di tiup angin, kicauan burung terdengar karena tidak ada suara lain yang menganggu ketenangan di pesantren ini. Berjalan di sini ketika cuaca yang begitu terik, tidak membuat kita kepanasan, karena banyak pohon berdaun lebat yang tumbuh di sekeliling untuk melindungi diri kita dari sinaran cahaya matahari.
Ketika siang, para santri juga masuk ke dalam kelas untuk belajar. Mereka belajar pagi, siang, dan malam. Tetapi, tetap mempunyai waktu untuk istirahat. Jadwal belajar mereka sudah di atur sebaik mungkin supaya bisa belajar dan istirahat dengan teratur. Meski begitu, mereka selalu sholat tepat waktu. Jadwal yang sudah diatur, tidak pernah mengesampingkan kewajiban mereka.
Keadaan tenang seperti ini, sangat bagus bagi orang yang ingin menghilangkan lelah ketika sudah bekerja setiap hari. Seperti yang sering dilakukan Abimayu. Menurutnya, ini adalah tempat ternyaman untuknya menghilangkan lelah dari pekerjaan yang setiap hari dia hadapi.
"Bagaimana kabarnya, Abimayu?" tanya seorang ustad yang dikunjungi oleh Abimayu siang ini. Setelah berdebat dengan Ana, dia memutuskan untuk pergi keluar menjumpai seorang teman yang biasa dia kunjungi ketika datang ke sini.
"Baik, Ustad." Jawab Abimayu sambil tersenyum.
"Kebiasaan kamu, Abimayu. Sudah di bilang jangan panggil Ustad!"
"Kamu kan dipanggil Ustad kalau di sini."
"Hemmmm terserah lah, di bilangin juga tidak mempan," ucap orang yang dipanggil Ustad oleh Abimayu tersebut sambil tertawa.
...----------------...
Sekitar pukul empat sore, Ana bangun dari tidurnya. karena lelah, dia sempat tidur selama satu jam.
Dari luar, dia mendengar suara seorang wanita sedang membaca Al-quran, lalu Ana keluar dari kamar dengan wajah bangun tidurnya, dan memakai sepasang baju tidur pendek, sehingga memperlihatkan paha putihnya, dan dia lupa dengan peringatan dari Abimayu.
"Sudah bangun?" tanya Umi Aida dengan suara pelan karena mendengar suara pintu kamar yang dibuka oleh Ana.
Ana hanya mengangguk dan berjalan mendekat ke arah Umi Aida.
"Mas Abi kemana, Umi?" dia bertanya karena tidak melihat Abimayu di sekitar rumah.
"Abi pergi keluar, bertemu temannya. Mungkin, sebentar lagi akan pulang."
Ana masih duduk di samping Umi Aida, dia tidak berniat untuk pergi membersihkan dirinya terlebih dahulu.
"Maaf, Umi sudah menganggu tidur kamu." Umi Aida berfikir Ana terganggu dengan suaranya yang sedang membaca Al-quran, sehingga membuat Ana terbangun.
Ana menggelengkan kepalanya dengan cepat.
"Bukan Umi, Umi sama sekali tidak mengganggu. Aku memang sudah bangun."
__ADS_1
Umi Aida kembali tersenyum dan mengelus punggung tangan Ana dengan lembut.
"Kamu mau ikut, Umi?" tanya Umi Aida sekaligus mengajak Ana.
"Kemana Umi?" Ana menjawab dengan wajah bingungnya.
"Ke asrama para santri. Sore ini, Umi ada jadwal mengisi tausiah di sana."
Ana tidak bisa menolak karena jika dia tidak imut Umi Aida, maka dia akan tinggal sendirian di rumah ini. Sedangkan dia tidak tahu kapan Abimayu akan kembali.
...----------------...
Saat ini, Abimayu sedang duduk bersama beberapa Ustad di teras Musholla setelah selesai shalat ashar berjamaah, karena Abimayu tidak kembali ke rumah saat dia pergi keluar. Dia langsung ikut sholat ashar berjamaah ketika waktu sholat tiba.
Ketika sore hari, keadaan pesantren terlihat ramai, karena para santri sudah selesai belajar. Saat ini mereka dibebaskan untuk beristirahat. Sebagian dari mereka memilih untuk bermain bola, duduk bercerita bersama teman, menghafal sambil berjalan, dan yang lainnya untuk mengisi waktu istirahat.
"Bagaimana dengan para guru yang sydah di seleksi?" salah seorang Ustad dari teman berkumpul Abimayu bertanya.
"Kabarnya mereka akan mengajar dalam 3 minggu ke depan!" jawab salah satu Ustad yang lain.
"Sudah dipersiapkan Ustad."
"bagaimana dengan tempat tinggal mereka?"
"Itu juga sudah dipersiapkan, tapi mereka yang tinggal di sini hanya 3 orang, karena guru yang satu lagi bernama Nayla akan tinggal di rumahnya, karena dia berasal dari daerah sekitar sini."
Deg
Jantung Abimayu berdetak saat ada yang menyebut nama Nayla. Nama seorang wanita yang masih tersimpan di hatinya.
Dia teringat waktu dia menyatakan akan melamar wanita itu, dia meminta untuk memberikan waktu sedikit untuk Abimayu menunggu, karena dia ingin menyelesaikan kontrak kerjanya di luar kota. Setelah selesai, dia akan kembali ke daerah mereka dan akan mengajar di pesantren Kiamat Mustapa. Ternyata inilah saatnya wanita itu kembali, sedangkan dia telah menikah dengan orang lain.
...----------------...
Hari semakin sore, dan Abimayu memutuskan untuk pulang lebih dulu, dia khawatir terjadi sesuatu di rumah karena meninggalkan Ana.
"Assalamu'alaikum." Abimayu mengucapkan salam sambuk berjalan masuk ke dalam rumah.
__ADS_1
"Wa'alaikumsalam." Suara Umi Aida terdengar menjawab salam. "Itu Abi sudah pulang,' lanjut Umi Aida sambil menunjukkan Abimayu yang masuk ke rumah kepada Ana.
Abimayu yang sedang berjalan, juga melihat ke arah Umi Aida yang duduk bersama Ana. Tapi apa yang dilihatnya sekarang sungguh membuat dia menjadi emosi lagi.
"Ya sudah. Umi tinggal dulu, mau siap-siap." Umi Aida berdiri dari duduknya meninggalkan Ana.
"Maaf Umi," Ana berkata dengan sedikit menyesal sebelum Umi Aida benar-benar pergi dari hadapannya.
"Tidak apa. Sekarang Abimayu sudah ada di sini, kamu sudah ada temannya."
Di tempatnya, Abimayu masih berdiri dengan raut wajah marah, dia tidak mengerti dengan pembicaraan dua wanita itu.
Ana juga baru tersadar, sejak bangun tidur dia belum membersihkan diri. Tanpa peduli dengan tatapan Abumayu, dia berjalan ke arah belakang menuju kamar mandi untuk membersihkan diri.
"Apa kamu tidak punya telinga? Apa kamu tuli? kenapa tidak mendengarkan apa yang sudah aku katakan." Abimayu langsung marah kepada Ana saat dia masuk ke dalam kamar setelah membersihkan diri.
"Apalagi Mas? Apa yang salah?" tanya Ana heran.
"Kamu! Kamu yang salah! Kenapa kamu tidak memakai pakaian yang sudah aku belikan, ha?"
Ana baru sadar dengan kemarahan Abimayu saat ini. Dia lupa untuk mengganti pakaiannya.
"A a aku lupa," sedikit gugup Ana menjawab pertanyaan Abimayu.
" Bukan lupa. Tapi kamu sengaja."
"Aku benar-benar lupa!" bela Ana.
"Kalau begitu, aku akan mengajarimu bagaimana caranya supaya kamu tidak lupa."
Karena di rumah hanya ada mereka, Abimayu tidak takut untuk memarahi Ana. Dia berjalan ke arah kamar, dan diikuti oleh Ana. Abimayu membuka tas pakain mereka, lalu mengambil beberapa potong pakaian yang dibawa Ana dari rumah. Setelah itu, Abimayu kembali merobek pakaian Ana untuk yang kedua kalinya.
Ana melebarkan bola matanya, dia tidak percaya Abimayu akan berani melakukan itu di rumah orang tuanya.
"Kalau begini, kamu pasti tidak akan lupa lagi." Abimayu menunjukkan baju yang telah ia robek kepada Ana.
Ana hanya bisa mengelengkan kepalanya. Kenapa orang yang dia sukai ini sangat pemarah? Kenapa orang yang dia cintai ini sangat egois? Ana jadi penasaran, kapan dia bisa menaklukkan suaminya yang pemarah dan egois ini.
__ADS_1