Bertahan Mencintaimu

Bertahan Mencintaimu
bab 44


__ADS_3

"Kenapa kalian tidak percaya kepada-ku?" tanya Ana dengan marah.


"karena tidak ada yang bisa dipercayai dari ucapanmu!" jawab Kiran masih dengan ke marahnya.


"Aku tidak peduli dengan itu, yang aku tahu, aku tidak melakukan apapun saat di klub itu, dan aku berani bersumpah bahwa aku tidak seperti itu."


"Ana!" Kiran kembali berteriak. "Kamu tahu kenapa bahkan kami tidak mempercayaimu? Karena kami dulu adalah orang yang sama denganmu! Orang yang sukan pergi ke klub malam, dan kami tahu tentang semua kehidupan di dalam klub itu, jadi kamu jangan coba untuk membohongi kami!"


Ana terkejut mendengar pengakuan dari orang tuanya.


"Kami ingin kalian anak kami tidak mengikuti jejak kami yang dulu, karena semua kenikmatan di klub itu telah kami lalui terlebih dahulu daripada kamu. "


Kiran akhirnya mengatakan alasan kenapa mereka sangat melarang dan marah kepada Ana ketika mereka mengetahui bahwa Ana sering pergi ke klub malam itu. Ternyata sebelumnya mereka juga melakukan hal yang sama, dan sekarang mereka tidak ingin anak mereka mengikuti apa yang telah pernah mereka alami.


"Ayo kita pulang, Pa! ajak Kiran kepada suamimya.


Ardi hanya mengikuti ajakan istrinya. Lalu dia berdiri dan mereka pun meninggalkan Ana sendiri di dalam ruangan butiknya.


Saat ini Ana merasa sangat marah kepada Abimayu. Dia ingin berjumpa dengan Abimayu sekarang juga, dia ingin melampiaskan kemarahannya saat ini kepada orang yang menyebabkan semua ini terjadi.


...----------------...


Malam harinya, Ana menunggu Abimayu pulang seperti biasanya.


Saat dia mendengar suara pintu terbuka, dia langsung berdiri dengan raut wajahnya yang marah.


"Apa yang Mas Abi katakan kepada orang tuaku?" tanya Ana langsung dengan wajah marah. "Katakan! cepat katakan Mas!"


Abimayu heran mendengar pertanyaan Ana, dan dia juga melihat wajah Ana yang memerah saat ini.


"Apa maksudmu?" Abimayu bertanya balik.


"Kamu jangan pura-pura bodoh, Mas!" Ana sudah tidak bisa mengontrol emosinya lagi saat ini.

__ADS_1


"Aku memang tidak tahu apa yang kamu katakan!"


"Kenapa Mas Abi mengatakan tentang aku yang suka pergi ke klub malam kepada kedua orang tuaku?"


Mendengar itu, Abimayu telah mengerti maksud dari pertanyaan Ana.


"Aku hanya mengatakan yang sebenarnya, dan itu juga tidak salah, karena kenyataannya memang begitu!" jawab Abimayu dan ingin pergi dari hadapan Ana.


"Tapi dengan itu Mas Abi telah menuduh-ku!" teriak Ana dengan kuat.


"Aku tidak menuduhmu, Ana. Tapi itu adalah kebenarannya!"


"Mas Abi tidak berhak mengatakan itu semua, hanya aku yang berhak mengatakannya, karena akulah di sini yang dituduh sebagai pelakunya!"


"Kenapa kamu begitu marah, ha? Bukannya selama ini kamu juga telah membenarkannya?" Abimayu berkata dengan heran.


"Aku tidak membenarkannya! Itu karena Mas Abi selalu menuduh-ku!"


"Aku tidak ingin mendebatkan masalah ini lagi! Aku ingin istirahat!" ucap Abimayu dengan suara pelan karena dia juga merasa lelah.


"Jangan jadi orang yang bisanya hanya menuduh tanpa mengetahui kebenarannya." Ana berkata sambil menolak tubuh Abimayu sedikit kebelakang, hingga sedikit demi sedikit Abimayu berjalan mundur kebelakang karena Ana terus berjalan maju ke arahnya.


"Apa yang ingin kamu lakukan?" Abimayu bertanya di saat mereka sudah kembali berada di ruang tamu.


"Kita akan membuktikan semuanya malam ini," ucap Ana pelan sambil membuka sedikit demi sedikit pakaian yang dia pakai di hadapan Abimayu.


"Berhenti Ana, apa yang sedang ingin kamu lakukan?" tanya Abimayu lagi karena melihat satu persatu pakaian Ana mulai terlepas dari tubuhnya.


"Aku tidak akan berhenti sampai kita mendapatkan jawaban dari semuanya!" Ana berkata dan terus maju ke arah Abimayu, saat ini dia hanya tinggal memakai pakaian dalamnya saja yang menutupi bagian atas dan bawahnya.


"Berhenti Ana!" ucap Abimayu kembali dan ternyata tanpa dia sadari, tubuhnya sudah berhenti di dinding dekat pintu masuk rumah mereka.


Ana tersenyum kecil melihat Abimayu yang sudah terpojok di dinding. Tanpa rasa malu, Ana melepaskan dalaman bagian atas yang dipakainya. Sehingga menampakkan dadanya. Lalu dengan cepat dia membawa tubuhnya dan memeluk Abimayu.

__ADS_1


"Hentikan Ana!"


"Ayo kita buktikan! Sentuh aku agar Mas Abi bisa menemukan kebenarannya," tantang Ana kepada Abimayu yang terus berusaha melepaskan diri dari pelukan Ana yang sedikit kuat. Dia juga tidak ingin terlalu bergerak, karena jika dia banyak bergerak maka dada Ana semakin terasa di tubuhnya.


"Hentikan Ana, Aku tidak ingin melakukan hal yang kasar kepadamu nantinya!" ucap Abimayu sambil terus berusaha melepaskan pelukan Ana.


"Ayo Mas, jangan terlalu banyak menolak!" Ana sudah mulai menciumi leher Abimayu bagian bawah yang terjangkau olehnya saat ini.


"Ana, kamu jangan nekad! Kalau tidak jangan salahkan Ak..."


Abimayu berhenti bicara karena Ana telah memegang wajahnya dengan kedua tangannya dan mencium bibirnya, ternyata Ana telah melepaskan pelukannya dan beralih menciumnya.


Dug


Tubuh Ana telah jatuh terduduk di atas lantai.


"Aaauuuhhh," keluh Ana merasakn sakit karena didorong oleh Abimayu.


"Kenapa, ha? Apa Mas Abi takut jika ternyata yang aku ucapkan adalah benar?" Ana berkata sambil berdiri kembali dan membuat Abimayu memalingkan wajahnya karena melihat dada Ana yang terbuka tanpa penutupnya.


"Aku tidak takut sama sekali, Ana." Abimayu berkata dengan pelan. Dia merasa sudah sangat lelah saat ini.


"Pembohong," ucap Ana mengejek Abimayu.


"Ana... " panggil Abimayu dengan suara pelan. "Aku memang bukan pria yang sempurna dan baik. Aku juga manusia yang banyak berbuat kesalahan. Tapi aku telah menjamin diriku adalah orang yang tidak pernah berbuat macam-macam selama ini." Abimayu sekarang sudah menatap Ana yang berdiri di hadapannya.


"Apa aku salah jika menginginkan wanita yang aku anggap baik untuk menjadi pendamping-ku? Aku tidak ingin menyentuhmu karena aku benar-benar tidak bisa melakukannya, karena aku telah lebih dulu mengetahui siapa dirimu!"


"Tidak! Mas Abi belum mengetahui siapa aku jika kita belum melakukannya! Tuduhan Mas Abi semuanya belum terbukti benar." Ana tetap teguh dengan pendiriannya.


"Aku tidak bisa, Ana. Aku meminta kita berpisah, karena aku tidak ingin menjadi seorang pria yang selalu mengabaikan istrinya. Aku ingin hidup dengan tenang, Ana. Aku tidak ingin menjalani kehidupan seperti yang kita jalani sekarang." Abimayu berkata sambil melihat ke arah Ana yang juga melihatnya dengan tatapan tajamnya.


"Mas Abi terlalu keras kepala dengan masalah ini! Aku tidak akan menyerah sebelum aku bisa membuktikan bahwa tuduhan itu tidak benar." Ana juga masih tidak ingin mengalah.

__ADS_1


"Terserah padamu! Sekarang cepat gunakan kembali pakaianmu! Jangan jadi wanita yang terus terlihat murah di hadapanku." Abimayu mengambil kesempatan saat ini untuk pergi dengan cepat dari Ana, bahkan dia sempat berlari kecil agar tidak diikuti oleh Ana lagi.


Di tempatnya Ana masih berdiri terdiam dan terus melihat Abimayu meninggalkannya. Hatinya terasa sakit, apalagi hari ini dia telah menerima tamparan dari orang tuanya. Dia ingin membalas Abimayu, tapi dia sama sekali tidak berhasil karena lagi-lagi Abimayu bisa menghentikannya dan membuatnya merasakan sakit di hatinya karena perkataan yang diucapkan oleh Abimayu.


__ADS_2