Bertahan Mencintaimu

Bertahan Mencintaimu
bab 69


__ADS_3

Malam hari di kamarnya Ana terlihat duduk terdiam dan termenung. Dia masih memikirkan apa yang telah dia dengar dari Abimayu siang tadi.


Sedangkan Fatimah telah lama tertidur pulas di sampingnya. Selama mereka di sini putri kecilnya itu terlihat bahagia, dia juga bisa menerima keadaan baru saat mereka tinggal di sini.


Mengingat Abimayu yang datang menemuinya siang tadi, ingin rasanya dia kembali pergi jauh agar tidak bertemu dengan Abimayu lagi. Tapi, sekarang dia tidak bisa pergi lagi, karena memikirkan mama nya.


Klek


Suara pintu kamar Ana terbuka dan memperlihatkan Kiran yang berdiri di depan pintu.


"Mama boleh masuk?" tanya Kiran kepada Ana yang duduk di atas ranjang tidurnya.


"Kenapa bertanya begitu, Ma? Tentu saja Mama boleh masuk, aku tidak pernah melarangnya," jawab Ana yang merasa bersalah dengan pertanyaan orang tuanya. Dia seperti tidak sopan jika mama nya harus bertanya dulu jika ingin masuk ke kamar yang dia tinggali saat ini.


"Mama takut menganggu kamu." Kiran berkata sambil tersenyum


"Ma..." Ana berkata manja kepada mamanya.


"Bagaiman dengan Abimayu?" tanya Kiran kepada Ana. Saat Abimayu minta izin pulang kepadanya siang tadi, dia bisa melihat raut kekecewaan di wajah itu.


"Mas Abi seharusnya tidak perlu bertemu dengan aku, Ma." Ana menjawab dengan sedikit kecewa.


"Mama mengerti, tapi Abimayu datang untuk meminta maaf, iya kan?" Kiran bertanya dengan hati-hati, karena dia ingin menjaga perasaan Ana.


Ana menganggukkan kepalanya


"Apa dia sudah mengatakan dia yang tidak jadi menikah dengan Nayla?" tanya Kiran lagi ingin tahu.


"Iya, Ma."


"Mama juga tidak ingin memaksa kamu, Sayang. tapi selama ini yang mama lihat, Abimayu benar-benar menyesal. Dia juga tidak berhenti mencari kamu setelah kamu pergi meninggalkannya." Kiran memberitahu kepada Ana.


"Untuk apa semua itu, Ma? Dulu Mas Abi benar-benar tidak menginginkan-ku, dan pilihan-ku untuk pergi itu adalah yang paling tepat." Ana berkata dengan sendu.

__ADS_1


"Ya, tapi sekarang dia antara kalian ada Fatimah, meskipun kamu berusaha untuk menolaknya, itu tidak akan mengubah bahwa Abimayu bukan ayahnya. Dia tetap ayah dari Fatimah, karena dalam diri Fatimah mengalir darahnya."


Ana menghela nafasnya dengan berat


"Tapi, itu terserah dengan kamu, mama hanya memberi sedikit pandangan." Kiran berkata sambil memegang pipi Ana, sekarang Ana tidak menggunakan cadar nya, wajahnya terlihat jelas di mata Kiran. Lama sekali dia ingin melihat wajah putri manja nya ini, yang sekarang telah banyak berubah.


Kiran juga mengelus kepala Fatimah yang sedang tertidur, lalu menciumnya. Fatimah juga suatu kejutan yang sangat besar bagi dirinya saat Ana pulang membawa gadis kecil lucu ini. Dia kehilangan suaminya, tapi dia mendapatkan kebahagiaan yang baru lagi.


...----------------...


Keesokan harinya, Abimayu kembali datang ke rumah orang tua Ana. Setelah mengetahui bahwa Fatimah adalah putrinya, dia ingin melihat Fatimah lagi. Dia ingin dekat dengan Fatimah, dan ingin mengganti waktu yang telah terlewatkan bersama Fatimah beberapa tahun ini.


"Di mana Fatimah dan Ana, Ma?" Abimayu bertanya kepada kiran saat dia kembali datang ke rumah itu. Sekarang saat dia datang, hanya Kiran lah yang selalu menyambutnya.


"Assalamualaikum, Nenek...." tiba-tiba terdengar suara lucu Fatimah mengucapkan salam dari arah pintu depan.


Abimayu mengalihkan pandangan matanya kepada Fatimah yang sudah berlari kecil ke arah mereka.


Abimayu teringat akan perkataan nya yang menuduh Ana tidak bisa mendidik anak dengan baik ketika menjadi seorang ibu, tapi ucapannya itu sangat berbanding terbalik dengan kenyataan yang dia lihat sekarang.


"Fatimah dari mana?" tanya Kiran yang masih duduk di ruang tamu bersama Abimayu.


"Fatimah membeli ini sama bunda." Fatimah berkata sambil memperlihatkan sebuah boneka kecil di tangannya.


"Ayo, Nek! Kita main bonekanya!" ajak Fatimah kepada Kiran. Dia sepertinya belum menyadari bahwa Abimayu ada di situ.


"Apa Fatimah juga suka ini?" Abimayu berkata yang membuat Fatimah mengalihkan pandangannya kepada Abimayu.


"Mainannya banyak, Fatimah suka." Fatimah berkata dengan senang sambil mendekat ke arah Abimayu.


"Bagaiamana kalau Fatimah bermain dengan Paman saja?" tanya Abimayu sambil melihatkan mainan yang telah dibawanya untuk Fatimah.


Melihat mainan yang banyak di tangan Abimayu, Fatimah langsung menganggukkan kepalanya dengan cepat. Fatimah adalah anak yang cepat bergaul dengan orang lain, karena kehidupan di pesantren Sarah dulu dia banyak bertemu dengan orang-orangorang-orang, yang membuat dia menajadi anak yang ramah kepada siapa pun ketika dia di ajak bicara, apalagi bermain.

__ADS_1


"Ayo! Kita akan buka ini," tanpa menunggu lama abimayu membuka maianan yang masih terbungkua plastiknya itu.


"jangan sentuh dia!" tiba-tiba terdengar suara seorang wanita yang menghentikan gerakan tangan Abimayu, wanita itu adalah Ana.


"Ayo, Sayang. Fatimah mainnya sama Bunda saja!" ajak Ana kepada Fatimah yang sudah memegang beberapa mainan di tangannya.


"Fatimah main sama paman, Bunda..." Fatimah berkata menolak ajakan Ana.


"Fatimah main sama Bunda saja, ya. Kita akan main ini." Ana menunjuk maianan yang dibawa oleh Fatimah saat dia datang, Ana seakan tidak memberi jika Fatimah memainkan mainan yang telah dibawa Abimayu.


Abimayu terus melihat Ana yang memaksa Fatimah untuk ikut bersamanya, sangat jelas bahwa dia tidak ingin Abimayu dekat dengan Fatimah.


"Ana..." Abimayu mencoba untuk memanggil Ana dan ingin berbicara kepadanya. "Mas mohon, biarkan Fatimah bermain dengan Mas saja." ucap Abimayu mencoba agar dia membiarkan Fatimah bermain dengannya.


"Aku tidak mengizinkan, putri-ku sudah mempunyai aku yang bisa diajaknya untuk bemain," jawab Ana tegas.


Abimayu bisa melihat jika Ana sedang marah saat ini. Meskipun raut wajahnya tidak terlihat karena tertutup oleh cadar nya, tapi Abimayu bisa tetap melihatnya melalui matanya. Ya, karena dia masih bisa mengingat semua raut wajah yang ditampilkan oleh wanita yang sangat dia rindukan ini.


"Ayo, Sayang!" Ana sudah mengulurkan tangan kanannya untuk meraih Fatimah.


"Fatimah main di sini, Bunda! Fatimah mau main sama Paman." Fatimah terus menolak ajakan Ana.


Fatimah terlihat sudah menangis karena terus dipaksa Ana untuk ikut dengannya. Akhirnya Ana mengalah ketika melihat putri kecilnya itu menangis, lalu Ana mencoba mensejajarkan tubuhnya dengan Fatimah.


"Sayang....jangan menangis, Fatimah boleh main dengan Nenek, ya." Ana berkata, tapi dia tidak ingin mengatakan jika Fatimah boleh bermain Abimayu, yang membuat hatinya terasa perih.


"Fatimah main sama Paman, Bunda." Putri kecilku itu ternyata masih mempertahankan ku.


Abimayu hampir meneteskan air mata mendengar ucapan Fatimah, dia sungguh ingin bermain dengannya meskipun mereka hanya bertemu beberapa waktu saja. Abimayu menjadi terharu sendiri, dan dia berfikir andaikan Fatimah tahu dia adalah ayah nya, apakah Fatimah juga akan merasa senang?


Sedangkan Ana memilih untuk pergi meninggalkan mereka tanpa melihat sedikit pun ke arah Abimayu.


Dia membiarkan Fatimah bermain dengan Abimayu, karena melihat Fatimah yang begitu mempertahankan ingin bermain dengan sang ayah.

__ADS_1


__ADS_2