
Di perusahaannya Abimayu masih memikirkan tentang perejodohannya dengan seorang wanita yang sama sekali tidak dia kenal, bahkan sekarang mereka sudah resmi bertunangan.
"Hemmmmm apa yang kamu fikirkan, ha?" tanya Heri sang sekretaris yang melihat Abimayu duduk termenung di kursinya.
"Aku masih merasa bingung," Abimayu menjawab.
"Tidak ada yang perlu dibingungkan, sebentar lagi kamu akan menikah dengannya." Heri berkata karena dia sudah mengetahui tentang Abimayu yang sudah bertunangan.
"Ya, tapi aku masih ragu karena tidak pernah bertemu dengannya, aku juga tidak mengenalnya sama sekali." Abimayu berkata, karena dia benar-benar belum pernah bertemu dengan Ana. Dia tidak tahu bagaimana seorang Ana itu.
"Apa yang membuatmu ragu?" tanya Heri.
"Huuuuffff tidak, ayo kita lanjutkan lagi pekerjaannya." Abimayu kembali memfokuskan dirinya ke dokumen yang dia periksa saat ini.
"Apa kamu masih memikirkan Nayla?" Heri menebak sekarang, karena dia tahu bahwa Abimayu menyukai Nayla sudah sejak lama.
"Bukan itu." Abimayu menjawab berbohong kepada Heri, dia tidak ingin Heri mengetahui apa yang sedang dia fikirkan saat ini.
Fikiran Abimayu masih terasa sangat kacau, apalagi dia masih teringat dengan Nayla seorang wanita yang dia sukai bahkan dia sudah pernah melamar wanita itu sebelum dia dijodohkan dengan Ana. Tapi wanita itu meminta waktu untuk menunggunya untuk menyelesaikan kontrak kerjanya dulu, hingga dalam penantiannya itu, orang tuanya mengatakan bahwa dia telah dijodohkan.
Sekitar jam lima sore ketika waktu kerja sudah berakhir, Abimayu tidak langsung pulang ke rumah. Dia ingin singgah terlebih dahulu di sebuah cafe bersama Heri.
"Kamu harus puaskan waktumu sebelum menikah ini, Abi." Heri berkata seolah menasehati Abimayu yang ingin menikah.
"Aku tidak perlu mendengarkan penjelasanmu, karena kamu saja belum menikah saat ini, jadi aku tidak bisa percaya dengan kata-katamu,x jawab Abimayu menentang ucapan Heri, karena dia berkata benar.
"Hmmmm kamu tidak boleh meremehkan-ku, meskipun aku belum menikah." Heri berkata membanggakan dirinya.
"Ya ya ya kamu memang si paling benar," ucap Abimayu.
Tiba di cafe yang mereka tuju, mereka memilih untuk duduk di bagian paling sudut cafe, karena mereka merasa nyaman ketika duduk di bagian itu.
"Apa yang kamu lakukan, ha?" Tiba-tiba terdengar suara seorang perempuan yang sedang berkata sedikit kuat kepada seorang pelayan cafe di saat mereka telah duduk di kursinya.
"Maaf, Kak. Aku tidak sengaja."
__ADS_1
"Kamu sengaja!"
"Aku benar-benar tidak sengaja, Kak."
"Kamu harus diberi pelajaran. Di mana pemilik cafe ini? Aku ingin bertemu dengannya!"
Pelayan cafe itu terlihat masih diam dan tidak berani lagi untuk membela dirinya.
"Ana, biarkan saja. Dia juga sudah meminta maaf!"
"Tidak boleh, dia sengaja melakukannya padaku, aku harus memberi dia pelajaran."
"Ana, semua orang melihat kita."
"Aku tidak peduli! Biarkan semua orang melihat, karena yang salah adalah dia." Ana mengedarkan pandangannya ke sekeliling cafe, ternyata semua orang melihat ke arah mereka.
"Ayo kita pergi saja!"
"Tidak, aku ingin dia mengakui dulu bahwa dia sengaja melakukan itu."
"Ana, dia tidak sengaja."
"Maaf, Kak. Aku benar-benar tidak sengaja." terlihat pelayanan cafe itu masih menundukkan kepalanya.
"Kamu fikir aku percaya? Aku tidak akan melepaskanmu." Ana berkata tajam, dan setelah itu dia bisa melihat ada beberapa beberapa pria berjalan ke arah kursi mereka.
Abimayu masih melihat ke arah wanita yang sedang marah kepada seorang pelayan cafe itu. Dia melihat lebih lekat lagi, dan ternyata dia menyadari bahwa wanita itu adalah orang yang bertemu dengannya beberapa hari yang lalu, orang yang memiliki mobil yang tidak sengaja dia tabrak.
"Hemmmm wanita itu sangat kejam." Heri berkata karena dia juga ikut menyaksikan kejadian itu, karena jarak mereka juga tidak terlalu jauh.
"Ya... sepertinya," jawab Abimayu, dia juga sempat teringat saat wanita itu marah bahkan merendahkannya karena dia tidak sengaja menabrak mobil wanita itu.
"Aku tidak ingin mendapatkan wanita yang seperti itu." Heri berkata lagi.
"Kamu jangan memikirkan itu, tidak baik membicarakan orang lain." Abimayu berkata menasehati Heri, jika tidak Heri pasti akan terus membicarakan itu dan dia tidak suka.
__ADS_1
"Ya ya semoga calon istrimu tidak seperti dia." Heri tertawa.
"Heri..." Abimayu menjadi kesal melihat Heri.
"Tapi aku yakin, calon istrimu itu adalah orang yang baik, tidak mungkin seorang Abimayu anak Kiayai ternama dijodohkan dengan wanita yang seperti itu."
"Aku sudah sangat ingin memukulmu saat ini, Heri!" Abimayu melihat tajam ke arah Heri yang terus menggodanya.
Abimayu kembali melihat ke arah wanita itu yang masih marah-marah, sekarang bukan hanya pelayan cafe itu saja yang ada di situ, tapi juga telah ada beberapa pria yang menghampiri nya.
Dalam hati Abimayu sempat terpikir ucapan Heri, dia sedikit bergidik ngeri membayangkan, semoga calon istrinya itu bukan seperti wanita yang terlihat sedang marah-marah itu.
...----------------...
"Aku masih sangat marah saat ini." Ana berkata kepada dua orang temannya.
"Lupakan saja! Dia juga sudah mendapat teguran dari bos nya."
"Tapi aku merasa belum puas jika tidak melakukan hal yang sama dengannya." Ana berkata kesal.
"Pelayan itu memang sedikit keterlaluan."
"Bukan sedikit, tapi dia memang sudah keterlaluan, bekerja jadi pelayan saja sudah tidak tahu diri seperti itu." Ana sudah mengeluarkan kata kasarnya.
"Hemmmm kamu jangan terlalu suka berkata kasar begitu, bagaimana jika nanti calon suamimu tidak suka jika istrinya ini suka berkata kasar begitu." Salah seorang teman Ana menggodanya.
"Biarkan saja dia mengetahui bagaimana aku yang sebenarnya, tidak perlu menutupi diri darinya."
"Ya ya tapi kamu harus ingat, calon suamimu itu adalah seorang anak Kiayai, jadi tidak mungkin dia suka jika istrinya seorang yang kasar, dia pasti menyukai seorang istri yang lembut, shalehah, dan baik."
"Kamu fikir aku orang yang jahat?" tanya Ana dengan kesal mendengar penjelasan temannya.
"Bukan begitu, aku hanya melihat dari beberapa orang yang pernah aku temui."
Ana diam sejenak, dan memikirkan perkataan temannya. Dia juga merasa penasaran karena dia sama sekali belum pernah bertemu dengan Abimayu. Tapi nama Abimayu sudah sering dia dengar bahkan dia bisa menyukai seorang Abimayu tanpa tahu bagaimana wajah Abimayu sendiri.
__ADS_1
"Ayo kita cari tempat yang lain!" ajak salah seorang teman Ana.
"Ayo, temani aku membeli pakaian baru lebih dulu, tidak mungkin aku pergi dengan keadaan seperti ini." Ana berkata sambil melihatkan pakaiannya yang sudah basah karena pelayan di cafe tadi sengaja menumpahkan air di pakaiannya.