Bertahan Mencintaimu

Bertahan Mencintaimu
bab 83


__ADS_3

Di perjalanan pulang Abimayu belum bisa menghilangkan rasa kesalnya kepada Justin. Ya, hanya kepada Justin, tidak dengan sang istri, dan dia sekarang butuh sesuatu untuk menenangkan hatinya yang kesal itu.


Ana dan Fatimah asyik bercerita berdua di dalam mobil, dan saat itu Ana menyadari bahwa sang suami sejak tadi tidak banyak berbicara kepada mereka.


"Bunda... lihat itu, lampunya sangat cantik!"


"Abi...ayo cepat lihat."


Suara ceria Fatimah memenuhi ruang mobil mereka yang sedang berjalan.


Hingga sampai ke rumah, Abimayu tetap diam dan masih berat untuk bicara. Dia tidak langsung tidur malam ini, tapi dia memilih untuk pergi ke balkon kamar mereka di lantai atas untuk menenangkan dirinya.


Tidak tahu kenapa hatinya sedikit resah memikirkan Ana yang begitu ramah terhadap Justin ketika di restoran tadi.


Saat ini terlintas di fikiran Abimayu bahwa Ana menerima kembali dirinya mungkin hanya karena kasihan terhadap Fatimah, dan tidak ingin mengecewakan putri mereka itu yang sudah sangat terlalu dekat dengannya.


Huffff


Abimayu menggelengkan kepalanya dengan cepat karena tidak ingin berburuk sangka lagi kepada Ana. Dia takut akan mengulang kisah lalu tentang kesalahpahaman dia yang telah menuduh Ana. Tapi sekarang hatinya benar-benar resah, apalagi Ana belum ingin disentuh olehnya saat ini yang menambah sedikit keyakinan pada dirinya.


Tiba-tiba Abimayu merasakan sentuhan di bagian perutnya dari arah belakang. Lalu melihat dua tangan yang tertutup kain pakaian melingkar di perutnya, bahkan tangan itu sekarang sudah sangat erat memeluknya. Dia tidak menolak sama sekali, karena dia tahu siapa orang yang memeluknya itu.


"Mas..." Panggil Ana dengan suaranya yang pelan.


"Kenapa, hem?" lanjut Ana bertanya.


Abimayu belum menjawab pertanyaan Ana. Dia memejamkan matanya sejenak untuk menikmati pelukan yang diberikan oleh Ana kepadanya.


Mereka berpelukan dalam waktu yang sedikit lama, tangan Ana dia pegang dengan erat agar dia tidak melepaskan pelukannya.


Setelah puas merasakan pelukan itu, Abimayu memutar badannya menghadap ke arah Ana, dan sekarang mereka sudah saling berhadapan.


Ana sudah memberanikan diri untuk melihat mata Abimayu yang juga menatapnya. Ana ingin mencari tahu apa sebenarnya yang difikirkan Abimayu saat ini sehingga dia memilih banyak diam saat mereka pulang dari makan malam di restoran tadi.

__ADS_1


"Mas kenapa?" tanya Ana lagi.


"Mas tidak apa-apa, Sayang." Abimayu menjawab dengan pasti sambil mencubit hidung Ana yang mancung.


"Jangan bohong! Jika tidak, kenapa Mas sejak tadi seperti tidak ingin bicara?"


"Hemmm ya, Mas memang tidak ingin bicara saat ini!" ucap Abimayu yang membuat Ana terkejut.


"Mas tidak ingin bicara, tapi Mas ingin ini." Abimayu sudah menarik wajah Ana lebih dekat dengannya lalu memcium bibir Ana dengan cepat.


Ehmmmftt


Ana menolak tubuh Abimayu dengan kuat agar bisa terlepas dari ciuman itu.


"Ini tidak lucu sama sekali, Mas." Ana berkata dengan kesal, karena hari ini sudah berapa kali Abimayu menciumnya. Hampir setiap hari Abimayu selalu mencuri ciuman kepadanya. Apalagi pada saat dia tidur, Abimayu pasti tidak akan membiarkan wajahnya selamat dari ciuman darinya. Semua inci dan sisi wajahnya pasti diciumi oleh Abimayu.


"Maaf, Sayang." Setalah itu Abimayu terlihat terdiam lagi, dan Ana bisa merasakan jika saat ini ada yang sedang difikirkan Abimayu.


"Tidak ada, Sayang." Abimayu sudah melingkarkan tangannya di pinggang Ana. Tidak ada penolakan dari Ana, tapi dia lebih kepada berhati-hati agar Abimayu tidak menciumnya lagi. Ana jadi teringat ketika dulu dialah yang selalu lebih dulu berbuat seperti ini kepada Abimayu, bahkan sampai Abimayu muak melihatnya. Tapi sekarang keadaannya sudah berbanding terbalik.


Abimayu menarik Ana kembali mendekat ke arahnya, lalu dia membenturkan keningnya dengan kening Ana beberapa kali dengan gerakan pelan hingga ujung hidung mereka juga saling bersentuhan.


"Mas tidak suka kamu berbicara kepada Justin seperti yang tadi." Abimayu akhirnya mengatakan kegundahan hatinya saat ini.


Ana memendam tawanya ketika Abimayu berkata begitu, tapi lama kelamaan tawa itu lepas juga dari mulutnya karena dia tidak bisa lagi menahannya.


"Hemmmm ternyata suami-ku sedang cemburu," ucap Ana dengan sisa tawanya.


"Ya, Mas cemburu!" Abimayu langsung mengakuinya di hadapan Ana.


"Aku dan Justin hanya berteman, Mas. Kami juga sudah lama berteman, dan jika Mas cemburu itu adalah suatu hal yang tidak berdasar, karena aku tetap akan bertahan mencintai suami-ku seorang." Ana berkata sambil mengelus sebelah pipi Abimayu dengan tangannya.


"Jika bukan karena suami-ku ini, untuk apa aku menolak lamaran Justin saat itu, ha? Sekarang ayo kita tidur! Besok Mas bekerja, kan?" Ana sudah menarik tangan Abimayu untuk masuk kembali ke dalam kamar tidur mereka.

__ADS_1


"Ayo!" ucap Abimayu yang berjalan di belakang Ana sambil melepaskan tangannya yang di pegang oleh Ana.


Ana sempat melihat sebentar ke arah Abimayu yang di belakangnya karena melepaskan pegangan tangannya. Tapi setelah itu tubuhnya terasa melayang di udara karena Abimayu mengangkatnya dan membawanya ke atas ranjang di samping Fatimah yang telah tertidur.


Abimayu merebahkan tubuhnya di samping Ana dan memeluknya dari arah belakang.


"Mas...kenapa tidurnya harus begini?" tanya Ana, karena posisi mereka sekarang berbeda dari biasanya. Sekarang posisi mereka berdampingan tidak berada di antara Fatimah.


"Malam ini Mas ingin begini dulu!" jawab Abimayu sambil sesekali mencium puncak kepala Ana.


"Kasihan Fatimah, Mas. Nanti dia bisa jatuh." Ana mengingatkan Abimayu bahwa putri kecil mereka itu sekarang tidur dengan banyak bergerak. Jadi mereka harus tidur di antaranya agar bisa menghalangi Fatimah supaya tidak terjatuh dari atas ranjang mereka yang sedikit tinggi.


Abimayu akhirnya mengalah, karena dia juga takut putri kecilnya itu jatuh ke bawah.


Saat Abimayu merebahkan tubuhnya di samping Fatimah, dia langsung dijadikan oleh Fatimah sebagai bantal guling tidurnya. Tanpa sadar Fatimah langsung memeluk tubuh Abimayu.


Abimayu tidak merasa risih, lalu dia membalikkan arah tubuhnya yang mulanya telentang menjadi menghadap ke arah Fatimah sekaligus ke arah Ana. Dia membawa Fatimah yang sudah menempel di tubuhnya untuk lebih dekat ke arah Ana lagi.


"Sini, Sayang!" ucap Abimayu menyuruh Ana agar lebih dekat kepadanya.


"Kenapa, Mas. Nanti Fatimah nya bisa sesak." Ana menolak permintaan Abimayu.


"Mas ingin memeluk kalian berdua saat tidur," jawab Abimayu mengutarakan maksudnya.


"Fatimahnya nanti merasa sesak, Mas." Ana menolak lagi, karena dia tahu jika dia memaksa untuk dekat lagi, makan Fatimah yang berada di antara mereka akan merasa sesak.


Hemmmm


Abimayu bergumam pelan, lalu dia juga tidak kehabisan akal. Dia menjulurkan tangan kirinya dan meminta Ana untuk menjulurkan tanga kananya.


"Begini juga tidak masalah." Abimayu berkata sambil memegang tangan Ana yang sudah terjulur ke arahnya.


Ana hanya bisa menggelengkan kepala dan tersenyum dalam hati melihat tingkah Abimayu sekarang. Sungguh dia tidak menyangkan bahwa Abimayu akan berubah seperti ini yang sangat menyayanginya dan Fatimah.

__ADS_1


__ADS_2