
Sebulan sudah telah berlalu, hubungan Abimayu dan Fatimah semakin dekat, mereka seperti tidak bisa dipisahkan lagi. Hampir setiap Hari Abimayu datang menemui Fatimah. Bukan karena Abimayu melanggar apa yang telah dijanjikan, tapi karena Fatimah lah yang selalu ingin bertemu setiap hari dengannya.
Sedangkan Abimayu juga merasa seperti telah mengingkari janjinya, tapi di balik itu ada sesuatu perasaan lain bersemi di hatinya, tidak bisa di pungkiri nya, ketika dia datang melihat Fatimah, juga ada seseorang yang ingin dia lihat.
"Bunda, kenapa Abi tidak datang sekarang?" tanya Fatimah karena hari ini dia telah menunggu Abimayu sejak tadi yang belum menampakkan dirinya.
"Ehmmm Abi Fatimah bekerja, Sayang. Jadi tidak boleh diganggu. Nanti setelah pulang bekerja, Abi pasti datang ke sini."
Ana mencoba memberi pengertian kepada Fatimah, dia sudah yakin bahwa hari ini Abimayu mungkin tidak akan datang, karena hari sudah tidak sore lagi, sudah lewat dari jam biasanya Abimayu datang.
"Fatimah ingin bertemu Abi, Bunda."
Fatimah sudah menangis karena Abimayu belum datang hari ini untuk melihatnya.
"Kenapa, Sayang?" tanya Kiran yang baru saja tiba karena mendengar suara Fatimah yang menangis.
"Fatimah ingin bertemu Mas Abi, Ma." Ana berkata dengan wajah lesunya karena dia tahu Fatimah sekarang sangat susah untuk dibujuk.
"Kamu coba hubungi Abimayu dulu," Kiran menyuruh Ana.
Ana menggelengkan kepalanya dengan cepat. Dia tidak ingin menghubungi Abimayu, bagaimana pun dia tidak akan melakukan itu.
Fatimah masih saja terus menangis membuat Ana menjadi bingung. Ana terus mencoba untuk membujuk Fatimah sampai dia benar-benar tidak lagi menangisi ketidakhadiran Abimayu saat ini.
Hingga malam tiba tangis Fatimah akhirnya mereda. Ana tidak menyangka begitu besarnya pengaruh Abimayu dalam kehidupan Fatimah.
Selama ini Fatimah memang tidak pernah merasakan kasih sayang yang begitu dalam dari seorang pria dewasa seperti Abimayu.
Fatimah sudah tertidur saat ini, Ana memandangi putri kecilnya itu dengan rasa yang sendu. Jika dulu Fatimah tidak ada, mungkin sekarang dia menjadi wanita yang menyedihkan karena mungkin dia masih bertahan menjadi istri yang diabaikan oleh suaminya.
Ting
Suara ponsel Ana terdengar berbunyi tanda ada pesan yang masuk.
"Assalamualaikum, Ana. Ini Mas Abi. Maaf karena sudah lancang mengirim pesan, Mas meminta nomor ponsel kepada mama."
__ADS_1
Pesan dari Abimayu kepada Ana, dan ponselnya berbunyi kembali.
"Mas hanya ingin mengetahui kabar Fatimah. Maaf, sore tadi Mas tidak sempat datang, karena ada yang harus Mas kerjakan di sini."
Pesan ke dua dari Abimayu.
"Besok Mas juga belum bisa datang, tolong beritahu Fatimah, ya."
Setelah Ana membaca semua pesan itu, Ana tidak langsung membalasnya, dan jika bisa dia tidak akan ingin untuk membalasnya.
...----------------...
Di sisi lain Abimayu sedang sibuk mengurus suatu kegiatan di pesantren, selama beberapa tahun ini, dia telah menyetujui menggantikan abahnya untuk mengelola pesantren karena melihat kondisi abahnya yang sudah semakin tua.
Kegiatan yang mereka lakukan di pesantren selesai hingga larut malam, dan membuatnya tidak bisa menjumpai Fatimah hari ini, dan mungkin untuk besoknya juga.
Dia mencoba mengirim pesan kepada Ana untuk memberitahunya, karena dia juga khawatir Fatimah akan menanyakan dirinya karena tidak datang menemuinya.
Perlahan dia mengetik pesan untuk di kirim kepada Ana, dia bagaikan seorang pria lajang yang sedang ingin mendekati seorang wanita pujaannya, karena berapa kali dia sudah mengetik pesannya, dia juga kembali menghapusnya karena ragu.
Setelah pesan itu terkirim, dia menjadi gelisah. Dia hanya ingin memberitahu Ana, tapi dia juga berharap Ana membalas pesannya.
Beberapa menit kemudian, terdengar ponselnya berbunyi, Abimayu dengan cepat melihatnya. Bibirnya tertarik ke samping setelah melihat nama dari si pengirim pesan.
" Iya, Mas. Aku mengerti."
Hanya kalimat itu yang di kirim Ana untuk Abimayu, tapi mampu membuat hatinya menghangat.
"Apa Fatimah menanyakan kenapa Mas tidak datang? "
Abimayu kembali mengetik dan mencoba bertanya melalui pesan. Jika boleh, dia ingin sekali langsung menghubungi Ana saja, tapi dia tahu mungkin Ana tidak akan menjawabnya, karena pesan yang dia kirim saja dibalas begitu lama oleh Ana.
"dia sempat menangis tidak berhenti! "
Membaca balasan pesan yang dikirim Ana, Abimayu menjadi tidak tenang. Dia langsung menghubungi Ana ingin memastikan.
__ADS_1
"Assalamualaikum, Ana."
"Waalaikumsalam."
Deg
Jantung Abimayu berdetak mendengar suara itu dari seberang ponselnya. Abimayu diam sejenak untuk menormalkan kembali detak jantungnya. Selama dia belum bicara, orang yang dia hubungi juga tidak ingin bicara."
"Sekarang bagaimana Fatimah? " Abimayu langsung menanyakan tentang Fatimah, karena memang tujuan awalnya ingin bertanya kabar Fatimah.
"Dia sudah tidur sekarang."
"Syukurlah, maaf Mas benar-benar tidak bisa datang menemuinya. Besok masih ada kegiatan di pesantren dan tidak boleh Mas tinggal. " Abimayu menjelaskan kegiatan apa yang membuatnya tidak bisa datang. Jika bisa, dia juga ingin sekali pergi menemuinya putri kecil nya itu, tapi di sini juga juga sudah menjadi tanggung jawabnya yang tidak bisa dia tinggalkan.
"Beritahu dia, ya. Besok Mas juga tidak datang, semoga dia bisa mengerti. Ap..."
"Aku akan beritahu dia, aku akan tutup dulu panggilannya."
tut
Belum habis lagi apa yang ingin disampaikan Abimayu, Ana telah mengakhiri panggilannya. Dia terlihat memang tidak ingin bicara lagi dengan Abimayu.
Abimayu memandangi layar ponselnya yang sudah gelap, lalu menarik nafasnya dengan dalam dan menghembuskannya dengan pelan.
"Kenapa, Nak?" tiba-tiba Umi Aida telah berada di sampingnya bertanya.
"Tidak, Umi. Abi baru saja menghubungi Ana untuk menanyakan kabar Fatimah," jawab Abimayu dengan perasaan tidak menentu.
"Ehmmm Umi dan abah juga ingin bertemu dengan Fatimah, Nak." Umi Aida berkata sendu. Sejak dia diberitahu Abimayu bahwa Ana telah kembali dan membawa Fatimah, dia ingin sekali bertemu dengan mereka, tapi saat ini kondisi tubuhnya sedang kurang sehat, sehingga dia tidak bisa pergi untuk bertemu mereka. Dia juga tidak menyangka ternyata Fatimah adalah cucunya, gadis kecil yang dia lihat di rumah Sarah. Sekarang dia mengerti kenapa Fatimah mirip dengan Hawa, karena mereka memang bersaudara. Saat ini dia juga sangat ingin bertemu dengan Ana menantunya, meskipun Ana mungkin juga masih membencinya.
"Maaf, Umi. Nanti Abi akan coba bicara dengan Ana."
Abimayu mengerti dengan perasaan umi dan abahnya yang ingin sekali bertemu dengan cucu mereka, dia juga merasa sedih melihatnya. Tapi dia juga tidak ingin membawa Fatimah sembarangan meskipun dia berhak jika membawa Fatimah untuk bertemu orang tuanya.
Dia harus meminta izin kepada Ana dulu untuk membawa Fatimah bertemu dengan orang tuanya. Dia tidak ingin membuat wanita itu semakin tidak menyukainya lagi, jika bisa dia ingin wanita itu seperti dulu lagi yang selalu bertahan mencintainya. Dia sebenarnya sangat merindukan wanita itu, dia juga sangat ingin mereka bisa kembali seperti dulu yang tinggal bersama meski waktu itu banyak goresan luka yang dia perbuat, dia ingin menghapus luka itu, tapi sepertinya dia tidak mempunyai kesempatan lagi.
__ADS_1