Bertukar Tubuh

Bertukar Tubuh
*Main Part 10


__ADS_3

Albi sungguh baru melihat sikap lain dari Sela sekarang. Perempuan yang selama ini sangat manis, lemah lembut, juga penuh dengan sopan santu jika berhadapan dengannya. Kali ini, malah berbanding terbalik dengan apa yang dia ketahui sebelumnya.


'Jadi ini wajah aslimu, Sel? Sungguh, aku tidak menyangka akan hal ini.' Albi lagi-lagi hanya bisa bicara dalam hati.


"Sela, kau tidak akan melihat aku pergi. Karena selamanya, aku tidak akan meninggalkan istriku. Maksudku, aku tidak akan meninggalkan suamiku sampai kapanpun."


"Heh! Berani kamu menantang aku ternyata. Dina .... "


"Sudah Sela. Jangan bertengkar lagi dengannya. Ini rumah sakit. Kita akan dapat masalah jika kita bertengkar dengan perempuan ini di sini."


"Tapi tante, aku sungguh sangat kesal dengan dia. Aku sudah memberikan dia kesempatan untuk pergi meninggalkan Albi berulang kali. Tapi apa? Dia malah tetap bertahan, dan lihat apa yang sudah terjadi sekarang. Dia bikin Albi koma, kan?"


"Aku tahu kamu kesal, Sela. Karena sama seperti kamu, aku juga merasakan hal yang sama pada perempuan itu. Hanya saja, kita tidak bisa membiarkan Albi salah sangka nantinya."


"Maksud tante apa?"


"Jika dia ingin bertahan, maka biarkan dia bertahan hingga Albi bangun. Karena aku yakin, setelah Albi sadar, dia sendiri yang akan mengusir istrinya dari sini. Jadi, jika itu bisa Albi lakukan, kenapa kita harus susah payah melakukannya?"


"Tante yakin dengan keputusan ini?" tanya Sela dengan nada berat. Sepertinya, dia sungguh merasa berat hati untuk keputusan yang sudah diambil oleh mama Albi barusan.


"Aku yakin dengan semua yang aku katakan, Sela. Aku tahu siapa Albi. Dia pasti akan tetap teguh dengan keputusan yang sudah dia ambil. Jadi, tunggu saja dia bangun. Maka hal menyakitkan akan perempuan itu rasakan."

__ADS_1


"Ya susah kalo tante yakin dengan keputusan tante. Aku tidak bisa bicara banyak. Hanya bisa mengikuti apa yang tante katakan saja," ucap Sela dengan nada pasrah.


"Untuk kamu, Dina. Nikmati waktumu menjadi istri Albi yang sekarang hanya tinggal sedikit saja. Karena setelah Albi bangun, kamu tidak akan pernah menjadi istri Albi lagi. Kamu akan Albi buang layaknya rongsokan yang tidak berarti sedikitpun di matanya. Dan, saat itu aku pastikan, rasa sakit yang akan kamu terima itu lebih sakit dari rasa sakit yang kamu alami sebelumnya. Mengerti?"


Setelah berucap kata-kata itu, Sela langsung beranjak meninggalkan Dina. Albi yang sekarang menghuni tubuh Dina, ingin sekali marah. Namun, dia tahan dengan sekuat tenaga.


'Sabar, Albi. Sabar. Ini bukan saatnya kamu marah. Karena ini, bukan waktu yang tepat untuk marah. Kamu sedang berada di tubuh istrimu. Kamu tidak bisa melakukan hal yang bisa membuat istrimu rugi. Jadi, kamu harus tetap bersabar,' kata Albi berucap dalam hati.


'Dina. Kamu adalah perempuan yang terbaik ternyata. Maafkan aku atas kesalahan yang selama ini aku perbuat padamu. Aku layak kamu benci, Dina. Namun, aku yang tidak tahu malu ini sangat berharap dapat kesempatan kedua. Agar aku bisa menebus semua kesalahan yang telah aku perbuat sama kamu selama ini.'


Albi kembali berucap dalam hati dengan mata yang menatap sayu ke arah tubuhnya berada. Sebenarnya, dia ingin sekali menghampiri tubuh itu sekarang. Namun, itu tidak bisa dia lakukan karena ada mamanya dan Sela yang sedang berjaga di sana.


Albi yang kini berada di tubuh Dina itupun milih untuk kembali ke tempatnya. Dia berniat akan menemui tubuhnya setelah mamanya juga Sela pergi meninggalkan ruangan tersebut.


Terbesit sesal yang cukup dalam di hati Albi sekarang. Dia sangat menyesali semua yang telah dia lakukan pada istrinya. Dia mengira, Dina yang telah berubah karena telah dia bawa pulang ke rumah setelah menikah. Tapi pada kenyataannya, dia yang tidak peka akan apa yang istrinya alami juga rasakan.


'Dina. Kamu sedikitpun tidak salah, Sayang. Maafkan aku yang terlalu bodoh selama ini. Aku mempercayai apa yang aku lihat dengan mata kepalaku. Tapi aku tidak menyadari apa yang kamu rasakan dengan hatiku. Sungguh, aku adalah suami yang terlalu naif, Dina.'


Seribu penyesalan memang tidak akan mengembalikan semuanya kebentuk semula. Tidak juga bisa merubah keadaan buruk yang telah terjadi. Namun, meskipun begitu, Albi berharap dia masih punya kesempatan emas untuk memperbaiki semuanya. Semua yang telah rusak, bisa dia perbaiki meski tidak akan untuk seperti semula.


Menyadari kesalahan itu, tanpa sadar, Albi menitikkan air mata secara perlahan. Dia yang kuat, tanpa pernah menjatuhkan air mata selama ini, sekarang jadi begitu rapuh saat menyadari semua kesalahan.

__ADS_1


Albi tergugu dalam diam selama beberapa saat. Samapi pada akhirnya, seorang suster datang ke ruangan tersebut untuk memeriksa keadaannya. Saat itulah, Albi baru bisa mengakhiri tangisan penyesalan yang dia rasakan.


"Eh, ternyata mbak sudah bangun? Kenapa tidak ada yang memanggil kami ketika mbak bangun dari pingsan?"


Pertanyaan itu sontak membuat Albi cukup prihatin pada istrinya. Rasa bersalah pun semakin besar dia rasakan sekarang.


Albi terdiam. Hal itu membuat suster tersebut memahami apa yang Albi rasakan.


"Sudahlah, jangan terlalu di pikirkan, mbak. Syukurlah, mbak sudah sadar dengan cepat. Oh iya, bagaimana keadaan mbak sekarang? Apa ada keluhan?"


"Saya baik-baik saja, Sus. Tidak ada keluhan sama sekali. Tapi ... bolehkah saya tahu bagaimana keadaan pasien yang ada di sebelah saya? Apa dia baik-baik saja, suster? Apa luka yang dia alami terlalu parah?"


Suster itu langsung menatap Albi dengan tatapan yang tidak Albi pahami maksud dan tujuannya. Namun, dari tatapan itu bisa Albi rasakan hawa yang tidak enak. Atau lebih tepatnya, hawa prihatin yang cukup dalam.


"Katakan saja, suster! Saya berhak tahu bagaimana dengan kondisi suami saya sekarang," ucap Albi dengan tegas. Namun pada dasarnya, dia sedang sangat rapuh saat ini. Ketegasan yang dia perlihatkan hanya semata-mata untuk menguatkan hati saja.


"Mbak istri dari pasien yang ada di sebelah ya?" Suster itu malah bertanya dengan tatapan yang seolah-olah tidak percaya dengan apa yang Albi katakan.


"Iya, Sus. Saya istrinya. Kenapa? Apakah ada yang salah?"


"Oh, tidak, mbak. Tidak ada yang salah. Hanya saja, perempuan yang tadinya ada di ruangan itu sudah mengaku sebagai istri dari pasien tersebut. Jadinya, saya merasa sedikit bingung dengan keadaan ini."

__ADS_1


Albi pun langsung menatap suster tersebut dengan tatapan yang tak percaya. Bagaimana tidak? Dia sungguh tak habis pikir dengan ulah Sela saat ini. Sungguh, Sela ternyata lebih sadis dari apa yang dia dengar dari mulut istrinya.


__ADS_2