
Sementara itu, Dina dan Albi saling pandang. Sebuah kejanggalan telah menghampiri hati mereka berdua sekarang. Hal itu karena nama. Perempuan paruh baya itu baru menyebutkan nama Lastri. Sedangkan mama Albi namanya bukan Lastri, melainkan, Laras.
Namun, belum sempat mereka berdua berucap untuk membahas soal nama yang wanita paruh baya itu katakan. Wanita paruh baya itu kembali bicara dengan suaminya.
"Kamu tahu, Pa? Aku sangat berharap bertemu dengan anakku. Sekarang, Tuhan telah memberikan aku jalan yang selama ini aku harapkan."
"Mereka," ucap wanita itu sambil menunjuk ke arah Albi dan Dina. "Mereka tahu di mana anakku sekarang. Karena itu, aku tidak ingin kehilangan kesempatan ini. Sedikitpun tidak pernah sanggup untuk kehilangan lagi."
"Aku tahu apa yang kamu rasakan, Ma. Karena aku juga merasakan hal yang sama dengan apa yang kamu rasakan. Anak yang hilang itu adalah anak kita. Putri kamu, putri aku juga. Tapi, kita tidak boleh percaya dengan mereka begitu saja. Bagaimana kalau mereka ternyata berbohong pada kita, Ma?"
"Kami tidak akan berbohong pada kalian, Tuan. Karena itu tidak ada untungnya buat kami. Kami datang karena permintaan dari seseorang yang sudah merasa bersalah besar pada kalian berdua. Karena orang itu telah memisahkan anak kalian dari kalian."
"Cepat, nak! Katakan di mana anakku saat ini! Aku sangat ingin bertemu dengan putriku sekarang."
"Tunggu! Aku ingin tahu siapa orang yang sudah mengutus kalian datang ke sini. Aku bukan tidak mau percaya pada apa yang kamu katakan. Tapi aku harus waspada dan hati-hati. Karena sekarang, modus penipuan bisa berbentuk apa saja," kata suami dari wanita itu dengan tegas.
__ADS_1
"Papa!" Sang istri terlihat tidak suka dengan apa yang suaminya katakan. Dia menatap kesal suaminya sekarang.
"Ma. Aku hanya sedikit waspada saja. Jangan menatap seperti itulah."
"Tidak masalah, nyonya, tuan. Aku juga sangat maklum dengan apa yang tuan katakan barusan. Waspada itu memang harus selalu diutamakan. Karena hati manusia, mana kita bisa tahu, kan?" Albi malah membenarkan apa yang suami dari wanita itu katakan.
Sementara Dina, dia hanya bisa diam mendengarkan pembicaraan suami dan orang tuanya. Nyali untuk ikut bicara sedikitpun tidak terlintas dalam hatinya sekarang. Karena rasa syok yang sudah menguasai hati, lebih kuat dari semua rasa yang ada dalam hati Medina saat ini.
"Kamu benar. Sekarang, katakan siapa orang yang sudah meminta kalian datang buat menemui kami. Aku juga sudah tidak sabar untuk tahu."
"Orang itu adalah ... Laras, Mamaku."
"La-- ras? Mama ... mamaku?" Wanita itu berucap dengan gelagapan. Lalu, dia menoleh ke arah suaminya.
Albi tahu apa yang kedua pasangan itu pikirkan. Mereka pasti sedang bingung dengan nama Laras yang Albi sebut barusan itu. Soalnya, orang yang telah mereka bicarakan itu bernama Lastri.
__ADS_1
"Aku juga tidak tahu banyak hal. Tapi, sebelum mama pergi, mama memberitahukan pada kami untuk datang ke alamat ini. Dia ingin menebus kesalahan yang sudah dia perbuat dengan mengatakan pada pemilik rumah ini, tentang rahasia masa lalu yang sudah dia sembunyikan dengan sangat baik."
"Oh iya, ini foto mamaku," ucap Albi sambil merogoh saku celana untuk memperlihatkan bukti foto sang mama.
Pasangan suami istri tersebut langsung membulatkan mata saat melihat foto yang terpajang di layar gawai Albi. Keduanya dengan wajah kesal sama-sama berucap satu nama. Yaitu, tetap nama Lastri.
"Jadi, kamu adalah anak dari Lastri?" Suami dari perempuan itu bertanya dengan nada tinggi ke arah Albi.
"Pa, jangan bahas soal itu dulu. Kita bahas soal putri kita dulu dengan mereka. Karena keberadaan putri kita adalah hal yang paling penting sekarang. Mereka tahu di mana putri kita berada. Jadi, kita tidak bisa membahas hal lain dulu."
"Lagian, jikapun dia adalah darah daging Lastri, itu tidak ada masalah dengan kita. Karena yang sudah jahat pada kita itu bukan dia, melainkan mamanya. Dia tidak ada sangkut-pautnya. Jadi, tidak perlu melibatkan dia dalam masalah kita dengan mamanya," ucap perempuan itu lagi sambil menatap Albi dengan tatapan penuh keibuan.
Suaminya tidak menjawab apa yang perempuan itu katakan. Dia hanya bisa menurut meski wajah kesal terlihat dengan sangat jelas.
"Ya sudah kalo gitu, terserah pada mama saja. Mama tahu hal yang terbaik, bukan?" Sang suami berucap pasrah sambil duduk kembali.
__ADS_1
Mereka sudah bisa sedikit tenang sekarang. Meskipun rasa penasaran dan ingin tahu itu semakin memuncak. Tapi, kini ketenangan sudah menghampiri hati mereka semua.
"Kalian berdua. Sebaiknya duduk di sini. Kita bicara pelan-pelan." Wanita itu bicara sambil melambaikan tangannya kearah Albi dan Dina.