
"Jika benar apa yang mama katakan. Lalu di mana Sela sekarang, Ma? Kenapa dia tidak ada di sini buat jagain, Albi?" Pertanyaan itu muncul dari mulut Albi yang kini berada di tubuh Dina.
Hal itu langsung menarik rasa emosi yang cukup besar dalam hati mamanya. Namun, wanita paruh baya itu sudah terbiasa memainkan peran jadi mertua baik. Jadi, dia tidak akan menunjukkan emosinya yang besar itu di hadapan Albi.
"Tadi malam, Sela ada urusan mendadak. Makanya dia tidak bisa datang. Mm ... sebenarnya, setelah urusannya selesai. Sela juga ingin datang ke sini. Tapi dia punya halangan lain. Tubuhnya yang sudah beberapa hati tidak fit, jadi langsung drop akibat kena angin malam."
"Huhf ... kasihan anak itu. Gadis baik yang polos, tidak pernah dihargai setiap kebaikan yang dia perbuat. Tapi malahan selalu dicurigai. Benar-benar malang dia, Al." Mama Albi berucap lagi dengan nada yang penuh dengan simpati.
Namun, lain dengan apa yang diucapkan, lain pula dengan apa yang sedang dia rasakan. Sekilas, mama Albi melirik Dina dengan tatapan tajam. Lalu, saat berpindah arah, mama Albi begitu cepat memperlihatkan wajah lembutnya pada Albi.
'Awas saja kamu, Dina. Sudah berani melawan aku kamu sekarang. Tunggu saja kamu. Aku akan bikin Albi benci kamu kembali. Dasar sial! Seharusnya aku tidak meninggalkan Albi tadi malam. Jika saja aku ada di samping Albi saat dia terbangun tadi malam, maka dia pasti sudah meminta Dina pergi jauh dari hidupnya. Sial! Benar-benar sial!'
Mama Albi menggerutu dalam hati sangking kesalnya dia. Ingin rasanya dia ulang kembali waktu agar apa yang hampir saja dia dapatkan, tidak rusak seperti saat ini.
'Akan aku pastikan, kamu tidak akan pernah bisa bertahan lama lagi jadi istri Albi, Dina. Karena aku akan jadi penghalangan terbesar untuk hubungan kalian. Agh! Semua salah aku. Aku yang ceroboh malah memberi celah untuk perempuan sialan ini.' Kata mama Albi dalam hati lagi.
"Dina. Sebaiknya kamu pergi ke ranjang mu. Bukankah pagi ini, kamu sudah harus keluar dari rumah sakit ini, bukan?"
"Iya, Ma. Aku memang akan keluar dari rumah sakit ini. Tapi aku .... "
"Dina. Kamu baru saja mengalami kecelakaan yang sama dengan Albi. Sebaiknya, kamu pulang untuk istirahat total supaya kondisimu membaik secepatnya. Kita lupakan dulu semua masalah yang terjadi sebelum kejadian ini. Karena yang terpenting adalah, keadaan kamu membaik secepatnya."
__ADS_1
Albi tidak bisa berkata apa-apa. Ucapan yang mamanya ucapkan barusan ini sungguh sangat berbeda dengan beberapa hari yang lalu. Ini sungguh sama persis dengan mamanya yang lemah lembut saat bicara dengan Dina ketika berada dihadapannya. Yah, walaupun mamanya tidak suka dengan sang istri. Tapi sikap lembut sebagai orang tua itu masih tetap ada.
'Ya Tuhan ... jadi inilah mamaku yang sebenarnya. Bermuka dua, dan terlalu pintar bersandiwara sampai aku sendiri tidak melihat celah sedikitpun. Tuhan ... ini terlalu menyedihkan buat aku. Aku punya mama yang seperti ini. Benarkah ini orang tua yang melahirkan aku ke dunia, Tuhanku?'
Albi menangis dalam hati. Menyayangkan sikap sang mama yang begitu buruk. Jika tidak suka dengan istrinya, kenapa tidak perlihatkan langsung saja supaya dia tahu. Kenapa mamanya malah memainkan sandiwara yang sadis seperti ini. Albi sungguh sangat sedih akan hal itu.
Karena terlalu sedih, Albi langsung beranjak tanpa mengucapkan sepatah katapun terlebih dahulu. Dia langsung saja meninggalkan mamanya dan Dina.
"Nah. Itu kamu lihat kan Al, bagaimana sikap Dina. Mama ajak bicara baik-baik, tapi malah mengabaikan mama begitu saja. Hadeh ... heran deh mama dengan hati juga perasaan istri kamu itu," kata mama Albi bicara pada menantunya sendiri.
Sementara Dina yang diajak bicara juga malahan diam saja. Dia sibuk memikirkan apa yang suaminya sedang rasakan saat ini.
'Terima kasih banyak ya Tuhan. Engkau sudah memberikan aku keajaiban ini untuk membuka mata suamiku. Dengan begini, aku yakin hubungan kami ke depannya akan baik-baik saja. Semoga saja harapan ini tidak salah. Dan yang paling penting, tidak mengecewakan hati.'
"Al." Karena Albi diam mematung tanpa menghiraukan apa yang mamanya katakan. Sang mama tentu saja merasa cukup kesal.
"Albi! Kamu dengar apa yang mama katakan gak sih, Nak?"
"Eh, iy--iya, Ma. Ma--maaf. Aku .... "
"Kamu mikir apa sih? Mikir istri kamu ya?"
__ADS_1
"Apa aja sih yang udah istri kamu katakan sampai kamu jadi seperti ini, Albi? Mama jadi merasa sangat menyesal karena telah meninggalkan kamu tadi malam."
Raut wajah kesal, juga sangat menyesal kini tergambar dengan jelas. Mama Albi sepertinya sangat menyayangkan anaknya sadar tepat pada saat dia tidak ada di tempat. Karena dia tidak bisa membuat sang anak semakin membenci menantu yang tidak dia harapkan kehadirannya itu.
Sementara itu, Dina yang cukup memahami apa yang sedang mama mertuanya rasakan, hanya bisa menatap sayu saja. Hatinya yang sedih membuat Dina tidak tahu harus berucap kata-kata apa untuk menjawab apa yang mama mertuanya katakan. Meski sekarang dia sedang berada di tubuh sang suami, tapi tetap saja, dia merasa sangat terluka dengan sikap benci yang mamanya perlihatkan.
"Albi. Kamu kok malah ngeliatin mama seperti itu sih? Apa ada yang salah dengan kata-kata yang mama ucapkan tadi, Al?"
"Eh, ng--nggak kok, Ma. Tidak ada yang salah kok, mama. Aku hanya sedang memikirkan sesuatu saja. Kalo untuk Dina, tidak ada yang dia bicarakan. Kami hanya berusaha membuka hati masing-masing untuk saling mengerti saja, Ma."
Ucapan Dina barusan langsung mengubah ekspresi wajah sang mama. Dia yang awalnya sudah kesal, kini langsung memasang wajah cemas yang sepertinya sangat tidak setuju dengan ucapan Dina barusan.
"Ap--apa maksud kamu barusan dengan berusaha membuka hati, Al? Jangan bilang kalo kalian bicara untuk berbaikan kembali ya. Soalnya, kesalahan yang Dina perbuat itu sungguh besar, Albi. Mama gak ingin dia ngerugiin kamu lagi, Al."
Sontak, ucapan itu langsung membuat Dina kaget. Sejujurnya, dia sangat tidak mengerti dengan apa yang baru saja mama mertuanya katakan.
"Barusan ... mama bilang apa, Ma? Kesalahan yang sungguh besar? Ke--kesalahan apa?" tanya Dina dengan wajah yang sangat terkejut.
Ekspresi yang Dina perlihatkan tentu saja membuat mama mertuanya bingung.
"Albi. Jangan bilang kalo kamu sudah lupa dengan kesalahan yang istrimu perbuat ya, Al. Istrimu sudah .... "
__ADS_1