Bertukar Tubuh

Bertukar Tubuh
*Main Part 58


__ADS_3

Sementara cerita itu berakhir, Medina pun langsung menghambur ke dalam pelukan mama dan papanya dengan cepat. Sedangkan Albi, dia hanya bisa menatap dengan tatapan haru. Menjadi saksi pertemuan sang istri dengan kedua orang tua yang sejak kecil tidak pernah bertemu walau hanya satu kali pun.


"Anakku ... jangan pernah pergi dari mama lagi, sayang." Perempuan itu berucap dengan suara pelan sambil terus membelai punggung Medina.


"Iya, sayang. Jangan pernah tinggalkan kami lagi. Hanya kamu yang kami punya, nak. Satu-satunya harta berharga dalam hidup kami."


Medina tidak bisa menjawab dengan kata-kata. Karena saat ini, kebahagiaan yang dia rasakan sangat besar sampai tidak bisa menggerakkan bibirnya sedikitpun. Ditambah tangisan haru, juga rasa syukur karena telah mempertemukan dia dengan keluarga yang selama ini sangat dia harapkan.


......


Malam itu, Medina tidak diizinkan pulang. Mama dan papanya sangat ingin dia tinggal di situ mulai dari saat mereka tahu kalau Dina adalah anak mereka. Walau sempat Dina menanyakan, kenapa mereka tidak ingin melakukan tes DNA dulu untuk membuktikan kebenaran itu. Tapi jawaban pasangan suami istri tersebut cukup menyenangkan hati Dina.


"Sejak pertama melihat kamu, kami sudah yakin kalau kau adalah anak kami, sayang. Jadi, untuk apa tes DNA lagi?" Papa Dina menjawab dengan senyum lebar di bibirnya.


"Tapi ... aku masih tidak puas dan masih merasa tidak tenang jika tes DNA tidak dilakukan," ucap Dina dengan wajah tidak nyaman.


"Sayang. Tes DNA itu tidak dibutuhkan. Karena kamu sungguh sangat mirip dengan mama pas mama masih muda. Jadi, mama tidak akan meragukan kamu itu anak mama. Semua itu sudah cukup kok buat mama. Lagian, perasaan mama juga tidak bisa dibohongi kok, sayang. Kamu anak mama. Memang anak mama yang hilang."


"Meskipun mama tidak merawat kamu, Nak. Tapi aku tetaplah mama yang sudah mengandung, dan melahirkan kamu. Jadi, ikatan kita sebagai ibu dan anak, tidak akan bisa diragukan, sayang."

__ADS_1


"Mama kamu benar, Medina. Apa yang mama kamu rasakan, papa juga merasakannya. Ikatan yang kita punya itu lebih akurat dari tes DNA atau apalah semacamnya." Papanya pula menyela.


Namun, penjelasan itu masih tidak membuat hati Dina merasa puas. Dia masih merasa tidak nyaman jika kedua orang tuanya tidak melakukan tes DNA untuk membuktikan kalau mereka adalah keluarga.


"Tapi .... " Medina berucap. Namun, dia tidak menyelesaikan ucapannya. Wajah tidak nyaman itu masih tergambar dengan sangat jelas di raut wajah Medina.


Mama dan papanya sungguh mengerti dengan apa yang Dina perlihatkan lewat raut wajah tersebut. Merekapun saling bertukar pandang sejenak.


Lalu, papanya menarik napas pelan. Dan membuang secara perlahan dengan cepat.


"Baiklah, nak. Kalau itu yang kamu inginkan. Kita akan lakukan tes DNA besok. Kamu tenang saja. Tidak perlu cemas dengan hasilnya. Karena kami yakin kalau kamu itu adalah anak kami."


....


Saat tahu kalau Medina dan Albi adalah pasangan suami istri, mama dan papa Dina tentunya sedikit terkejut. Terutama, papa Dina yang masih merasa kesal dengan mama Albi. Orang yang sudah memisahkan mereka dari anak kandung mereka sejak bayi.


Awalnya, Albi sangat takut kalau dia akan dipisahkan dengan istrinya karena kesalahan yang mamanya buat. Tapi, kedua orang tua Dina bukanlah orang tua yang kejam dan tidak punya perasaan.


Ketika tahu anaknya sudah menikah, dengan anak orang yang sudah memisahkan mereka lagi. Mereka tidak ingin marah. Tapi, berusaha menerima kenyataan itu dengan lapang dada. Berusaha memaafkan kesalahan yang sudah berlalu. Yang tidak akan pernah bisa mereka ulang kembali walaupun mereka marah seperti apapun.

__ADS_1


"Yang salah mama kamu, Nak. Bukan kamu. Jadi, kami akan berusaha menerima kamu sebagai menantu kami."


"Iya. Meskipun aku sangat kesal dengan mama kamu, tapi apa yang istriku katakan itu benar adanya. Lagian, kamu juga sudah menjaga anak kami dengan baik selama ini. Kamu pun sudah sangat berjasa besar dengan menjadi orang yang sudah menemukan kami dengan anak kami."


"Terima kasih banyak, Nak. Hanya itu yang bisa kami ucapkan sekarang," kata mama Dina pula menyambut ucapan suaminya.


"Tidak perlu berterima kasih padaku, Tante .... "


"Tante?" Wanita itu bicara sambil mengangkat satu alisnya. Hal itu membuat Albi jadi salah tingkah.


"Iy-- iya. Tan --tante." Albi menjawab dengan gelagapan karena gugup.


"Bukan tante. Aku ini adalah mama dari istri kamu. Jadi, mulai dari sekarang, kamu harus panggil aku, mama."


"Aku aku, papa." Papa Dina langsung menjawab.


Albi yang gugup langsung tersenyum.


"Papa. Mama." Albi berucap sambil menggaruk-garuk kepalanya yang tidak gatal.

__ADS_1


__ADS_2