
Sontak, ucapan itu langsung membuat mata Sela membelalak akibat kaget. Karena saat ini, dia tidak ingin Dina dan Albi tahu semua kebenarannya. Karena jika sampai Albi tahu, usahanya untuk menikah dengan Albi pasti akan hancur. Harta keluarga itu yang selama ini dia incar, tidak akan pernah bisa dia dapatkan sedikitpun.
"Tidak tante! Tante tidak bisa melakukan hal itu."
"Kenapa tidak bisa, Sela? Apa alasannya sampai kamu bilang aku tidak bisa melakukan hal itu?"
"Itu .... " Sela serba salah sekarang. Dia berusaha mencari alasan yang tepat untuk bisa menggagalkan niat mama Albi.
"Tante. Tante jangan lupa akan janji tante padaku. Tante ingin menikahkan aku dengan Albi, bukan? Jangan lupakan soal itu, tante."
"Maaf, Sela. Janji itu sepertinya tidak bisa aku laksanakan. Karena saat ini, Albi sudah tahu akan rahasia yang aku simpan selama lebih dari dua puluh tahun. Aku juga tidak bisa memaksa anakku. Karena selama ini aku sudah mencoba. Tapi hasilnya nihil alias tidak ada."
"Tapi tante .... "
"Sela, cukup! Jangan paksa aku melakukan apa yang tidak bisa aku lakukan. Kamu lupakan saja soal niatmu untuk menjadi istri dari anakku. Karena itu tidak akan pernah terjadi."
Kata-kata itu langsung membuat emosi Sela meledak. Rasanya, dia sangat marah saat ini. Ucapan itu sungguh sangat menyakitkan hatinya.
Sementara itu, mama Albi langsung beranjak setelah mengucapkan kata-kata itu. Dia langsung berjalan menjauhi Sela.
__ADS_1
Ketika mama Albi baru ingin menginjak anak tangga untuk turun ke bawah. Sela yang sudah tidak bisa berpikir jernih langsung kalap dan dengan cepat mendorong tubuh mama Albi sehingga jatuh terpeleset dari atas tangga.
"Aaa ...!" Teriakan itu terdengar nyaring.
Tubuh wanita paruh baya itupun berguling-guling dari satu anak tangga ke anak tangga yang lain. Hingga pada akhirnya, tergeletak di lantai bawah dengan darah segar yang mengalir perlahan dari hidungnya.
"Rasakan kamu tua bangka! Siapa suruh kamu bikin aku marah dan kenapa juga kamu ingkar janji. Kamu permainkan aku dengan seenaknya. Karena itu, jangan harap kamu bahagia dengan anak juga menantu kampungan mu itu."
Sela turun dengan elegan dari lantai atas. Tidak sedikitpun rasa bersalah terlukis di wajahnya. Entah makhluk apa yang kini telah menguasai hati Sela. Yang jelas, dia seperti tidak melakukan kesalahan sedikitpun saat ini.
Selanjutnya, Sela langsung beranjak meninggalkan mama Albi tanpa memperdulikan keadaan wanita paruh baya itu yang sedang sekarat. Rumah yang sedang sepi karena si bibi sedang tidak ada di rumah, membuat hati Sela bertambah lega setelah melakukan kejahatan besar seperti barusan. Dia dengan bebasnya meninggalkan rumah itu seperti tidak terjadi apapun sebelumnya.
Albi sedang berada di kantor saat si bibi datang untuk mengatakan apa yang sedang terjadi dengan mamanya. Si bibi langsung datang karena tidak bisa menghubungi Albi lewat udara.
"Kenapa bibi bisa sampai ke sini? Ada perlu apa?" tanya Albi langsung dengan nada datar karena dia juga masih menyimpan amarah buat bibi itu.
Sebelumnya, Albi tidak pernah bersedia menerima tamu dari keluarganya. Karena dia sudah memutuskan hubungan dengan keluarga, maka dia memberikan perintah untuk tidak mengizinkan siapapun datang bertemu.
Tapi kali ini, si bibi bisa bertemu karena tepat saat dia datang, Albi sedang berada di depan pintu. Awalnya Albi ingin menghindar. Namun si bibi bersikeras untuk bertemu dengannya sampai berteriak-teriak keras. Karena hal itulah mereka bertemu saat ini.
__ADS_1
"Den Albi. Bibi datang kali ini untuk menyampaikan kalau mama Den Albi saat ini sedang berada di rumah sakit Den. Mama Den Albi jatuh dari tangga. Saat ini, keadaan mama Den Albi sedang sekarat."
"Apa!? Mama ada di rumah sakit? Mama jatuh dari tangga, bik? Bagaimana bisa seperti ini? Kenapa bisa sampai mama jatuh?"
"Bibi juga tidak tahu bagaimana ceritanya sampai nyonya bisa jatuh. Karena saat bibi pulang dari pasar, nyonya sudah tergeletak di atas lantai dengan kondisi yang cukup mengenaskan."
"Tidak mungkin. Ini sedikit tidak masuk akal. Mama kenapa bisa jatuh jika tidak ada sebab."
Tiba-tiba, sebuah pikiran tidak baik melintas di benak Albi. Dia langsung menatap bibi dengan tatapan tajam.
"Mama ... beneran jatuh dari tangga, kan Bi? Ini ... tidak bohong, kan? Bukan sandiwara mama, kan bi?"
"Ya Tuhan, Den Albi. Apa sih yang Den Albi pikirkan tentang nyonya. Keadaan nyonya saat ini sedang kritis, Den. Kenapa bisa Den Albi berpikir buruk tentang Nyonya."
Bibi terlihat sangat kesal. Mungkin, jika Albi bukan majikannya, dia sudah memukul Albi dengan tangannya karena dia terlalu kesal dengan tingkah Albi barusan.
"Aku berkata seperti itu karena aku tahu bagaimana mama, Bik. Selama ini, mama sudah banyak membohongi aku. Mama sudah terlalu banyak bersandiwara di depan aku. Tidak salah kalau aku berpikir, kali ini mama bersandiwara lagi."
"Tapi nyonya kali ini tidak bersandiwara, Den Albi. Beliau benar-benar mengalami nasib buruk sampai keadaannya sangat memprihatikan."
__ADS_1
"Saya hanya melakukan tugas saya, Den. selebihnya, Den Albi yang tentukan sendiri. Jika Den Albi beranggapan nyonya bohong atau bersandiwara, itu hak Den Albi. Tapi bibi katakan satu hal. Jangan menyesal di kemudian hari. Karena penyesalan itu tidak ada gunanya, Den."