Bertukar Tubuh

Bertukar Tubuh
*Main Part 17


__ADS_3

"Jadi Mas, apa kita benar-benar bertukar tubuh sekarang?" tanya Dina setelah suster yang datang untuk mengecek kondisinya pergi.


Pertanyaan itu Dina lontarkan semata-sama hanya untuk meyakinkan apa yang sedang dia alami saat ini. Karena sekarang, apa yang sedang terjadi masih membuat keraguan yang besar di dalam hati Dina.


"Iya, sayang. Kita memang benar-benar bertukar tubuh saat ini. Aku ada di tubuhmu, dan kamu ada di tubuhku."


"Bagaimana bisa kita bertukar tubuh seperti ini, Mas Albi? Ini kenyataan yang sungguh sangat tidak masuk di akal. Ini seperti sebuah mimpi, Mas."


"Dina, awalnya aku juga tidak percaya dengan apa yang sedang aku alami. Tapi, pada akhirnya aku sadar juga, kalau semua yang sedang aku alami ini adalah kenyataan. Bukan khayalan, juga bukan mimpi."


"Lalu ... untuk pertanyaan kamu tentang bagaimana bisa kita bertukar tubuh barusan, aku juga tidak memahaminya. Karena saat aku bangun, aku sudah berada di tubuh kamu. Sedangkan tubuhku, masih terbaring lemah di sini," ucap Albi lagi dengan suara pelan.


Keduanya pun sama-sama terdiam untuk beberapa saat dengan pikiran masing-masing. Tidak ada yang berucap, hingga pada akhirnya, Albi kembali angkat bicara.


"Ah, sudahlah sayang. Anggap ini adalah anugerah untuk memperbaiki hubungan rumah tangga kita yang hampir saja berakhir. Dengan aku yang masuk ke dalam tubuhmu, maka aku bisa tahu apa saja yang selama ini sudah kamu lalui." Albi berucap dengan senyum manis di bibirnya.


"Dan, yang terpaling penting itu, kamu baik-baik saja. Prediksi dokter ternyata tidak tepat. Kamu sadar cepat dengan kondisi tubuh yang normal. Ini adalah hal paling membahagiakan untuk kita berdua," ucap Albi lagi.


"Mas, apa saja yang sudah kamu lalui selama kamu ada di tubuhku?" Dina malah menanyakan hal tersebut dengan nada penuh dengan kecemasan.


Albi tahu kalau saat ini, Dina sedang mencemaskan dirinya. Hal itu membuat Albi terdiam sejenak karena tidak tahu apa yang harus dia katakan. Haruskah dia jujur dengan semua yang sudah dia lalui selama menghuni tubuh sang istri? Atau malah berbohong untuk menghilangkan rasa cemas yang istrinya rasakan.


Tapi, kedua pilihan itu terasa cukup sulit. Jika ingin berbohong, maka itu terasa sangat tidak mungkin. Karena semua yang Dina lalui itu adalah hal buruk. Dina cukup memahami semua jalan yang hidupnya lalui.

__ADS_1


"Mas. Jawab pertanyaan ku! Apa saja yang sudah kamu alami selama kamu berada di tubuhku? Apa semuanya baik-baik saja, Mas?"


"Tenang sayang. Semuanya baik-baik saja. Aku adalah pria yang kuat. Meskipun perlakuan mama dan Sela sedikit tidak menyenangkan hati. Tapi itu tidak akan mempengaruhi hatiku sedikitpun. Aku bisa mengatasi mereka berdua."


Dina terdiam. Hatinya sudah bisa menebak sebenarnya. Albi berubah, pasti karena sudah menyaksikan sendiri bagaimana sikap mamanya dan juga Sela si perempuan bermuka dua.


"Maafkan aku, Sayang. Selama ini, aku begitu tidak peka akan kehidupan kamu yang ternyata sungguh sangat tidak menyenangkan. Kamu mendapat perlakuan buruk dari orang yang ada di sekitarmu, termasuk aku sebagai suamimu. Sekali lagi, aku minta maaf padamu. Aku sungguh sangat menyesal akan hal itu."


"Harus berapa kali kata maaf yang kamu ucapkan padaku, Mas? Aku sudah bilang, tidak perlu minta maaf padaku. Karena semua yang terjadi, tidak akan pernah bisa dikembalikan lagi hanya dengan mengucapkan kata maaf."


"Aku tahu, Dina. Tapi kata maaf aku ucapkan sebagai bentuk penyesalan atas apa yang sudah aku lakukan selama ini. Aku berjanji, aku akan membuat kamu bahagia mulai dari sekarang. Aku akan jaga kamu sekuat dan sebisa aku."


"Tapi mas, sekarang aku adalah suami. Sedangkan kamu adalah istriku. Posisi kita sudah bertukar. Yang tertindas bukan aku lagi, kan? Tapi, malahan kamu."


"Jika begitu, aku bersedia menerima karma atas apa yang sudah aku lakukan di waktu lalu, Dina. Aku bersedia menerima semua perlakuan buruk dari semuanya, termasuk, dari kamu sebagai suamiku sekarang."


"Mas .... "


"Dina. Aku hanya minta satu hal padamu. Aku bersedia menerima semua karma, tapi tolong jangan katakan apa yang sudah terjadi diantara kita berdua pada siapapun. Biarlah kita menjadi diri kita masing-masing pada saat kita berdua bersama saja. Sementara di hadapan orang lain, kita harus berperan seperti layaknya si pemilik tubuh. Pertukaran tubuh ini, harus jadi rahasia kita berdua saja. Apa kamu bersedia menyimpan rahasia ini?"


Dina tidak langsung menjawab. Dia malahan terdiam memikirkan ucapan Albi barusan dengan menatap lekat wajah Albi yang sedang berada di sampingnya saat ini.


"Dina. Bagaimana? Apa kamu setuju?" tanya Albi untuk memastikan jawaban dari Dina. Karena sudah beberapa saat, Dina masih terdiam dengan posisi yang sama dengan sebelumnya.

__ADS_1


"Apa alasannya, Mas?"


"Cukup simpel. Aku ingin merasakan jadi kamu selama kita masih tidak tahu cara untuk kembali ke tubuh masing-masing tanpa ada yang mengetahui selain kita berdua saja."


"Kamu tidak takut tersiksa jiwa dan raga, Mas Albi?"


"Tentu saja tidak. Aku tidak akan takut tersiksa. Karena seperti yang sudah aku katakan sebelumnya, aku siap menerima karma atas apa yang sudah aku lakukan."


"Kamu yakin, Mas?"


"Yakin, Sayang. Ya ampun, kamu kok jadi rewel gini ya. Perasaan, kamu itu gak serewel ini deh saat ada di tubuh kamu. Apa karena kamu ada di tubuh aku ya? Jadinya, kamu rewel gini, Yank?"


"Mas ... ah. Kamu kok jadi suka menggoda gini sih. Aku itu nggak suka menggoda ya. Jadi, jangan salahkan karena kamu berada di tubuhku, karena itu kamu mulai bisa hangat dan suka menggoda sekarang."


"Eh, jadi kamu ingin bilang secara tidak langsung, kalo aku itu suka rewel? Iya gitu maksudnya?"


"Eh, aku nggak ngomong ya. Tuan tubuhnya sendiri yang ngomong. Jadi, itu emang tuan tubuhnya sendiri yang merasa deh kek nya."


"Dina."


"Mas Albi."


Keduanya pun saling tertawa lepas. Candaan yang mereka buat, akhirnya bisa membangkitkan suasana hangat di antara mereka lagi.

__ADS_1


Dina sangat bahagia dengan keadaan saat ini. Karena sekarang, dia bisa merasakan kehangatan dari hubungan mereka berdua lagi. Setelah hubungan pernikahan yang hambar dan hampir saja berakhir. Kecelakaan yang membuat mereka bertukar tubuh ternyata bisa menghangatkan suasana yang sudah hambar begitu lama.


Terukir rasa syukur dalam hati Dina sekarang. Meski dia tidak berada di tubuh yang harusnya dia tinggali. Tapi karena tidak berada di tempat yang seharusnya, dia malah bisa memperbaiki hubungan yang hampir saja musnah.


__ADS_2