
Albi dan Dina langsung menuruti apa yang perempuan itu katakan. Mereka duduk di sofa kosong yang letaknya berhadapan dengan pasangan suami istri tersebut.
"Sekarang katakan! Di mana anakku saat ini?" Perempuan itu berucap langsung tanpa basa basi lagi.
"Anak nyonya ada di dekat nyonya. Dia tepat berada dihadapan nyonya sekarang," kata Albi sambil melirik Dina. Sementara Dina masih tetap dengan mode diamnya.
Tentu saja ucapan itu membuat pasangan suami istri tersebut kaget sekaligus tak percaya. Mereka kompak melihat kearah Dina yang sejak tadi tidak pernah bicara sedikitpun.
"Ap-- apa ... apa kamu bilang? Anak-- anak kami sekarang ada di sini? Mak-- maksudnya ... maksudnya ... anak kami dia!?" Perempuan itu bicara dengan suara gelagapan. Gugup, senang, bahkan sedikit tak percaya sedang menyatu dalam hatinya berkumpul dan diaduk menjadi satu.
Lalu, belum sempat Albi menjawab. Suami dari perempuan itu langsung berucap.
"Perempuan ini adalah anak kami? Kamu bicara yang sebenarnya?" tanya pria itu dengan tatapan tajam ke arah Dina.
"Iya. Perempuan itu memang anak kalian. Anak yang mamaku culik dan mamaku buang di depan panti asuhan. Kenapa? Kalian tidak percaya dengan apa yang aku katakan?" Albi berucap tegas sekarang.
__ADS_1
Entah apa yang membuat Albi merasa kesal. Kedua pasangan itu tidak terlihat meragukan apa yang dia katakan sebenarnya. Tapi, hatinya yang takut akan penolakan itu memancing timbulnya rasa kesal.
"Apa!? Lastri membuang anakku di depan panti asuhan?" tanya perempuan itu dengan suara penuh dengan emosi.
"Maaf, Nak. Saya bukan tidak percaya dengan apa yang kamu katakan. Sejujurnya, sejak awal bertemu dengan dia, aku sudah merasa kalau dia sangat tidak asing bagiku. Dia mirip seperti istriku saat masih muda. Tapi sayangnya, aku tidak bisa memikirkan hal itu dengan baik tadinya."
Pria itu berusaha menjelaskan dengan sangat baik. Selanjutnya, mereka langsung menatap Dina dengan tatapan lekat selama beberapa saat. Air mata bahagia mengalir di pipi kedua pasangan itu. Rasa haru dan syukur sedang mereka rasakan saat ini.
"Sayang .... " Perempuan itu berucap sambil beranjak tadi tempatnya. Sepertinya, dia ingin menghampiri Dina sesegera mungkin.
Namun, Dina yang masih duduk langsung berdiri dengan cepat. "Tunggu!" Dina berucap dengan nada tinggi sambil mengangkat satu tangannya.
Sementara Albi yang juga merasa kebingungan itu, langsung bangun untuk mengetahui apa yang sedang terjadi pada istrinya.
"Ada apa, Dina? Kenapa kamu malah mencegah mereka untuk mendekat? Mereka adalah keluarga kamu. Orang tua yang selama ini kamu impikan kehadirannya. Kenapa sekarang .... "
__ADS_1
"Mas. Aku memang sangat mengharapkan pertemuan ku dengan kedua orang tua kandungku. Tapi, aku tidak bisa menerima satu hal dalam pikiranku sekarang. Aku dibuang. Tapi kenapa mereka tidak berusaha menemukan aku jika mereka memang menyayangi aku sebagai anak? Apakah kehilangan aku itu tidak berarti apapun buat mereka."
Mendengar ucapan itu, tanpa basa basi lagi. Cerita tentang bagaimana mereka kehilangan anak merekapun langsung dimulai.
Ternyata, saat perempuan itu melahirkan di rumah sakit, mama Albi sudah menunggu di sana. Lalu, setelah selesai dilahirkan, mama Albi langsung menculik anak tersebut tanpa membiarkan si perempuan menggendong sang anak sedikitpun.
Selanjutnya, ketika tahu anak mereka diculik. Sang papa berusaha melakukan segala cara untuk menemukan anak mereka. Tapi sayang, rencana balas dendam yang sudah mama Albi susun selama berbulan-bulan itu ternyata sungguh luar biasa mantapnya.
Mereka tidak menemukan jejak dari penculikan itu sama sekali. Ada banyak kabar simpang siur yang menganggu konsentrasi pencarian. Mulai dari kabar kecelakaan yang Lastri alami, hingga sampai meninggalnya sang bayi bersama si penculik akibat jatuh ke laut.
Semua kabar itu mereka terima dari orang suruhan yang mereka bayar untuk menyelidiki anak mereka. Tapi, kabar yang simpang siur itu malah membuat harapan pupus dan kepala yang pusing akibat tidak tahu mana yang benar dan mana yang salah.
Hingga lebih dari dua puluh tahun. Si perempuan tetap percaya kalau anaknya masih hidup. Batinnya mengatakan hal itu. Dia pun tetap berusaha menyelidiki walau sama saja. Tidak ada sedikitpun hasil dari usaha yang dia lakukan.
Namun sebenarnya, usaha yang dibarengi dengan doa itu tidak pernah sia-sia. Karena Allah yang maha tahu, memang paling tahu apa yang terbaik untuk hambanya.
__ADS_1
Sekarang, anak yang dia cari telah datang sendiri padanya. Tanpa bersusah payah lagi menemukan, anak itu datang padanya begitu saja. Rencana sang pencipta memang terkadang sangat unik. Tapi itulah yang terbaik untuk manusia sebagai hamba- Nya.
Perempuan itu lalu menyeka air mata yang jatuh setelah bercerita panjang lebar tentang sang anak. Kini, rasa sedih yang dulunya ada dalam hati, sudah menghilang dengan kehadiran sang anak di sini.