
Tentu saja nyali Tirta langsung menciut akibat bentakan itu. Mana dia juga mendapatkan tatapan tajam yang mengerikan lagi dari sang istri. Bertambah ciut pulalah nyali Tirta saat ini.
"Aku tidak suka kamu ikut campur dengan urusan orang, Mas. Apalagi itu urusan rumah tangga orang. Lagipula, kamu itu tidak lebih baik dari orang yang kamu bicarakan. Sudah jelas-jelas kamu berbohong barusan, bukan?" Istrinya kembali berucap dengan nada yang penuh penekanan.
Tentu saja Tirta tak bisa berkata apa-apa. Dia hanya menundukkan kepala karena takut dengan kemarahan istrinya. Karena tanpa sang istri, dia bukan siapa-siapa. Dia tidak bisa melakukan apapun karena tidak punya apa-apa.
Sementara itu, istri Tirta kini langsung menghampiri Medina dan Albi yang kini masih berdekatan. Tapi sepertinya, hati mereka sedang berjauhan.
"Untuk kamu, mbak. Seharusnya kamu bahagia punya suami seperti mas ini. Meskipun mama mertua kamu yang tidak baik padamu. Tapi suami kamu begitu berusaha keras untuk tetap berada di pihak kamu. Karena satu hal yang harus kamu ketahui, mbak. Tidak semua laki-laki bisa seperti suami mbak. Berada di samping mbak dan menjauh dari mamanya. Karena jauh dari mama itu tidak mudah, mbak."
"Maaf jika aku sedikit sok tahu. Tapi aku hanya ingin mengingatkan saja. Aku tidak ingin menggurui. Tapi sebagai sesama manusia, aku hanya ingin saling mengingatkan saja. Sebelum kamu terlambat dan memilih berjalan di jalan yang salah. Semoga apa yang aku ingatkan bisa menyadarkan kamu."
"Oh iya, aku juga minta maaf jika aku terkesan terlalu ikut campur dalam hal pribadi kamu, mbak. Aku sungguh tidak berniat. Maafkan aku sekali lagi," ucap perempuan itu dengan penuh ketulusan.
Setelah berucap, perempuan itu tidak menunggu jawaban dari Dina lagi. Dia langsung beranjak meninggalkan tempat tersebut dengan wajah yang masih tetap sama. Terlihat penuh dengan ketenangan meski hal besar terjadi barusan.
"Sayang! Tunggu aku," ucap Tirta sambil berlari untuk mengejar sang istri.
Kini tinggal Dina dan Albi saja lagi di taman tersebut. Suasana terasa sangat hening. Tidak ada kata yang terucap. Karena keduanya sedang memikirkan segala hal yang baru saja mereka lewati.
Beberapa menit kemudian, Albi pun memilih memulai ulang pembicaraan mereka, mendahului Dina.
"Dina. Aku ... sungguh minta maaf."
__ADS_1
"Tahu dari mana kamu tentang semua ini, Mas? Termasuk, tentang istri Tirta itu?"
"Aku ... aku tahu dari hasil penyelidikan."
Lalu, Albi bercerita semua yang dia lakukan tanpa sedikitpun ia tutupi dari istrinya. Hal itu dia lakukan agar perubahan besar untuk memperbaiki rumah tangga mereka berjalan lancar.
"Jadi ... kamu sudah tahu semuanya?"
"Belum, sayang. Hanya untuk orang tua kandung kamu yang belum bisa aku ketahui. Entah bagaimana ceritanya. Hal ini sungguh sangat sulit buat aku."
"Aku .... "
Ucapan Median terpaksa dia tahan akibat deringan ponsel Albi yang berbunyi. Hal itu langsung mengalihkan perhatian mereka berdua.
Medina hanya menjawab dengan anggukan pelan saja. Selanjutnya, Albi langsung menjawab panggilan itu dengan cepat.
"Ya, Sus. Ada apa?"
Ucapan Albi bisa Dina dengar dengan sangat baik. Karena saat ini, Albi masih berada disekiran Dina. Kata sus itu langsung membuat Dina penasaran. Sayangnya, dia masih terlalu gengsi untuk bertanya pada Albi. Lagipula, Albi masih ngobrol dengan orang tersebut. Untuk itu, yang bisa Dina lakukan hanyalah memperhatikan saja.
"Apa!? Se-- karat kembali!"
Wajah panik tergambar dengan jelas. Bahkan, kini tangan Albi yang sedang memegang ponsel pun terlihat bergetar akibat panik itu.
__ADS_1
"Baiklah. Saya ke sana sekarang."
"Ada apa, Mas?" Dina langsung bertanya setelah Albi mengakhiri panggilannya. Karena dia sangat merasa penasaran dengan apa yang sedang terjadi.
"Mama sekarat lagi, Din. Aku harus ke rumah sakit sekarang juga."
"Apa!? Mama ... se--karat? Kok ... kok bisa, Mas? Bukannya mama itu baik-baik saja."
Meskipun kesal dengan ulah mama mertuanya. Tapi saat mendengarkan kalau orang tua itu sedang sekarat. Kekesalan Dina tentu saja terkalahkan oleh rasa cemas.
"Mama jatuh dari tangga, Dina. Karena itu aku sibuk mengurus soal mama sampai lupa dengan kamu. Aku lupa dengan janjiku, karena aku sangat sibuk. Sekarang, mungkin aku tidak bisa mengantarkan kamu pulang. Karena aku harus ke rumah sakit untuk melihat mama."
"Ya Tuhan .... Ini ... ini sungguh-sungguh, Mas?"
"Iya. Ini sungguh kenyataan, Dina. Mama di dorong oleh seseorang. Dan sekarang, orangnya sudah ada di kantor polisi."
"Apa? Jadi itu bukan kecelakaan tanpa sebab, Mas?"
"Bukan."
"Lalu, siapa orangnya?" Medina sungguh antusias sekarang. Hal itu sedikit membuat hati Albi tenang sekaligus bahagia.
Dia punya istri yang baik. Tidak menaruh dendam walau apa yang sudah mamanya lakukan sangat-sangat menyakitkan buat hati sang istri. Tapi sekarang, istrinya masih bisa merasakan sedikit kekhawatiran. Hal itu sudah cukup untuk Albi merasa bersyukur karena telah menikahi Dina.
__ADS_1