
"Aduh! Apa yang mama lakukan, Ma!? Sakit, tahu gak? Mama tidak boleh terlalu kasar seperti ini pada Dina. Dina juga sedang tidak begitu sehat sekarang."
"Peduli apa aku padamu, hah? Mau kamu tidak terlalu sehat, kek. Kamu sakit parah, kek. Atau bahkan, kamu mau mati sekalipun. Aku tidak akan peduli dengan keadaan kamu. Yang jelas, aku tidak pernah suka dengan kamu. Aku tidak pernah setuju kamu menjadi istri dari anakku. Sampai kapanpun, tidak akan pernah setuju."
Setelah berucap kata-kata itu, mama Albi langsung beranjak meninggalkan Albi yang kini masih terduduk. Sedangkan Albi yang pertama kali mendapatkan perlakuan kasar dari mamanya itu, hanya bisa terdiam sambil menatap sang mama dengan tatapan tak percaya sekaligus kesal.
"Apa kamu, hah! Kenapa menatap aku seperti itu? Tidak suka? Mau marah? Mau berontak? Oh, silahkan! Berontak sekarang sesuka hatimu. Aku tidak akan peduli dengan kamu. Apalagi takut," ucap mama Albi lagi setelah menyadari kalau Albi yang kini berada di tubuh Dina menatapnya dengan tatapan lekat yang terasa menusuk hati.
"Kenapa mama begitu tega sih, Ma? Kenapa mama ...."
"Stop! Aku tidak ingin mendengar ucapan omong kosong dari mulutmu lagi, Dina. Kamu sudah tahu apa alasannya, bukan? Jadi, kenapa harus bertanya lagi padaku."
"Sekarang, cepat bangun dan segera kembali ke ranjang mu. Aku sudah sangat-sangat tidak ingin melihat wajah kamu lagi di sini. Wajah kamu bikin hatiku semakin panas saja soalnya."
"Bagaimana jika aku tidak mau, Ma? Karena aku ingin tetap berada di samping mas Albi sekarang." Albi berucap sambil bangun dari jatuhnya yang terasa sedikit sulit akibat sakit pada kaki karena kecelakaan kemarin.
"Heh! Sudah berani melawan apa yang aku katakan kamu sekarang ya? Dapat keberanian dari mana kamu, hah!"
Belum sempat Albi menjawab apa yang mamanya katakan. Pintu ruangan tersebut seketika terbuka dengan memunculkan Sela dari balik pintu tersebut. Sontak saja, mata Albi dan juga mamanya langsung melihat ke arah pintu dengan cepat.
"Ada apa ini?" tanya Sela yang mendapat tatapan dari orang yang ada di dalam kamar tersebut. Ia merasa cukup canggung akibat tatapan itu.
__ADS_1
"Ini, Sel. Perempuan kampungan yang terbuang udah bisa ngelawan apa yang tante katakan. Heran deh tante. Semakin dia ingin dibuang oleh Albi, semakin keras pula pendiriannya. Apa dia sudah mulai gila ya?"
Kata-kata itu langsung membuat Sela melihat ke arah Albi yang sedang berdiri tak jauh dari mamanya. Lalu, Sela mengangkat tangannya dengan telunjuk dia arahkan ke wajah Albi.
"Dia? Sudah berani melawan tante ya?"
Pertanyaan itu langsung mendapat anggukan dari mama Albi. Kemudian, akibat anggukan yang mama Albi berikan, Sela malah tertawa lepas.
"Ha ha ha .... Tante baru menyadari kalau dia itu perempuan yang suka ngelawan?"
"Aku kan udah bilang sejak awal, tan. Medina bukan perempuan baik-baik lho. Dia itu perempuan yang dibuang oleh keluarganya. Ya jelas saja dia akan bersikap sesuka hati. Mana selevel dengan kita, tante."
"Jadi, semua ini gara-gara kamu, Sela? Kamu adalah penyebab utama rusaknya hubungan aku dengan Dina?"
Karena terlalu kesal, Albi bahkan lua dengan kondisi yang sedang dia alami. Hal itu membuat Sela dan mamanya saling tatap akibat bingung.
Namun, itu hanya untuk sesaat saja. Karena detik berikutnya, Sela malah berjalan mendekat ke arah Albi berada.
"Kamu ngomong apa barusan? Ngatain aku penyebab rusaknya hubungan kalian? Huh, kasian sekali kamu, Dina. Eh, tunggu sebentar deh. Gara-gara terlalu kesal, kamu langsung salah ngucapin nama. Kasian sekali deh kamu."
Sela malah mengejek Albi dengan senang hati. Ejekan itu di sambut tawa kecil oleh sang mama. Hal itu membuat hati Albi semakin kesal. Tapi sayang, dia tidak bisa berbuat apa-apa. Karena tubuh yang dia pakai saat ini, bukanlah tubuhnya. Hal itu menyulitkan Albi untuk bertindak.
__ADS_1
'Sabarlah dulu, Albi. Kamu tidak bisa melakukan sesuatu dengan tubuh istrimu ini. Karena mereka mungkin akan menyakiti kamu. Hal itu sungguh tidak baik buat kamu, apalagi buat istrimu sebagai pemilik tubuh. Dia dan kamu akan sama-sama terluka,' kata Albi dalam hati berusaha menenangkan emosinya yang hampir sampai ke ubun-ubun akibat kesal.
Saat Albi berusaha menguasai hati, Sela yang suka menjahati Dina tidak tinggal diam. Dia yang kesal akan wajah Dina karena Albi lebih memilih perempuan itu sebagai istri, langsung mendorong tubuh Dina untuk menjauh darinya.
"Pergi sana! Jangan pernah perlihatkan wajahmu di depan aku lagi. Karena wajahmu selalu bikin aku merasa kesal."
"Apa yang Sela katakan itu benar, perempuan kampung. Sebaiknya kamu menyingkir dari pandangan kami. Semakin melihat wajahmu, aku semakin merasa pusing. Wajah kamu selalu bisa bikin tekanan darahku jadi naik," ucap mama Albi pula.
Tidak bisa melakukan apa-apa selain mengalah dan pergi, Albi merasa cukup tersakiti akibat hal itu. Dia berjalan meninggalkan tempat di mana dia berdiri sebelumnya. Membawa hati yang kesal menuju ranjang tempat dia berbaring sebelumnya.
'Jadi, ini yang Dina rasakan selama ini ternyata. Diperlakukan secara buruk oleh orang yang berada di sekitarnya. Termasuk aku, suaminya sendiri. Kasihan sekali dia. Diperlakukan secara buruk sangat tidak menyenangkan. Maafkan aku, Dina. Ternyata, hidupmu terlalu sulit selama ini sayangku,' kata Albi dalam hati sambil memandang langit-langit putih tempat yang ada di rumah sakit tersebut.
....
Beberapa hari berlalu. Albi yang ada di tubuh Dina terus melakukan apa yang dia lakukan sebelumnya. Menghampiri tubuhnya saat mamanya juga Sela tidak ada di sekitar kamar tersebut. Bicara dengan tubuh yang tidak bisa menjawab apapun yang dia katakan. Bahkan, sering juga Albi mencium tangan atau pipi dari tubuhnya sendiri.
Awalnya, dia merasa sedikit aneh saat melakukan hal itu. Namun, saat memikirkan wajah sang istri, dia bahkan melakukan hal tersebut dengan sepenuh hati.
"Semoga kamu bangun tepat di saat mama dan Sela tidak ada di sini, Dina. Karena ada banyak hal yang ingin aku ceritakan padamu setelah kamu bangun nanti." Albi berucap sambil membelai rambut dari tubuhnya sendiri.
"Dan, semoga kamu memaafkan aku, sayang. Memaafkan semua kesalahan besar yang sudah aku lakukan padamu selama ini. Aku juga ingin bilang, aku sungguh tidak kuat menjalani kehidupan yang selama ini kamu jalani, Dina. Kehidupan yang terasa sangat buruk akibat perlakuan orang yang ada di sekitar kamu."
__ADS_1