Bertukar Tubuh

Bertukar Tubuh
*Main Part 28


__ADS_3

"Ini ... apakah benar ini lemari bagaian istriku?" tanya Albi dengan nada yang sedikit tidak percaya dengan apa yang matanya lihat.


Lalu, tangan Albi lincah membuka bagian lain dari lemari besar tersebut. Sama saja, tidak dia jumpai lagi baju-baju milik istrinya. Baju milik sang istri hanya ada di lemari pintu bagian pertama yang dia buka. Sedangkan yang ketiga pintu dari lemari tersebut semuanya milik dia.


"Tidak. Bagaimana mungkin aku begitu tidak peduli dengan keadaan istriku selama ini. Bagaimana mungkin aku begitu ... dasar aku suaminya yang tidak berguna. Pakaian istriku saja aku tidak pernah memperdulikannya."


Albi mengutuk dirinya sendiri karena hal tersebut. Dia sungguh menyesali apa yang telah dia lakukan selama ini. Dia tidak pernah membeli baju untuk Medina. Tidak pernah mengajak Medina jalan-jalan seperti layaknya suami orang pada umumnya.


Albi sedang bersandar di samping lemari saat pintu kamar mereka terbuka. Dina yang baru muncul dari balik pintu tersebut, langsung memberikan tatapan yang penuh dengan tanda tanya pada Albi yang sedang memperlihatkan wajah penuh sesal.


"Ada apa, Mas Albi? Kenapa lagi kamu hm?"


"Dina. Maafkan aku untuk aku yang tidak becus jadi suami kamu. Aku .... "


Albi tidak bisa melanjutkan ucapannya lagi. Dia langsung saja berjalan cepat, lalu menarik tubuh istrinya untuk dia peluk dengan erat.


"Maafkan aku untuk aku yang tidak layak jadi suami kamu, Dina. Aku menyesal akan hal itu. Sungguh sangat menyesal Medina. Maafkan lah yang bodoh ini, Dina sayang."


"Apa yang kamu katakan sih, Mas? Aku sungguh tidak mengerti dengan apa yang sedang kamu bicarakan."


Lalu, Albi yang begitu menyesali apa yang sudah dia lakukan sebelumnya langsung menjelaskan apa yang sedang terjadi. Tanpa melepaskan pelukannya dari Medina tentunya, dia terus mengucapkan kata-kata yang penuh dengan nada penyesalan.


"Mas, semua itu sudah terjadi. Mau kamu menyesal seperti apapun, semua tidak akan kembali seperti sebelumnya. Karena yang sudah terjadi, tidak akan pernah bisa kamu ubah. Hanya saja, jika kamu punya kesempatan untuk memperbaiki kesalahan yang sudah terjadi, maka manfaatkan kesempatan itu dengan sebaik mungkin. Karena tidak semua orang punya kesempatan itu, Mas. Tidak semua orang punya kesempatan kedua untuk memperbaiki kesalahan."

__ADS_1


Kata-kata itu langsung membuat Albi melepaskan pelukannya dari Dina. Dia tatap wajah Dina yang terlihat tegas dan serius, namun juga terlihat guratan sedih di sana.


Albi juga langsung menyeka air mata yang jatuh ke pipi dengan cepat.


"Apa yang kamu katakan benar, Dina. Aku tidak bisa menangis karena menyesali apa yang sudah terjadi. Karena sekarang, yang perlu aku lakukan adalah berusaha memperbaiki apa yang sudah aku rusak selama ini."


"Mm ... iya, Mas. Itu baru benar. Jadi, apa kamu akan pergi buat berbelanja nantinya?" Dina bertanya dengan nada menggoda.


"Tentunya ... nggak, sayang. Aku gak akan belanja sekarang."


Dina langsung menaikkan satu alis karena kata-kata itu. Tentu saja dia agak bingung dengan kata-kata yang baru suaminya ucapkan. Karena sebelumnya, dia pikir kalau suaminya akan membelikan banyak baju untuk menebus kesalahan itu.


"Kenapa? Mm ... maksud aku, kamu gak mau beli baju buat kamu pakai, Mas?"


"Aku gak akan belanja sekarang, Dina. Karena sekarang, aku akan jadi diri kamu yang sebelumnya. Memakai pakaian yang sudah ada ini saja. Tapi, aku akan belanja banyak setelah kita kembali ke tubuh masing-masing."


"Sayang, bukan aku gak mau manjain diri kamu sekarang. Tapi aku akan menghukum diriku dulu untuk saat ini. Karena yang ada di tubuh kamu ini aku. Otomatis, yang dapat dan ngerasain pakaian baru juga aku, bukan kamu. Iyakan?"


Dina tidak menjawab. Dia hanya terdiam dengan tatapan lurus ke arah suaminya. Sementara Albi yang mendapatkan tatapan itu langsung meletakkan tangannya ke atas bahu Dina dengan lembut.


"Apa yang kamu pikirkan, Sayang? Kamu masih mikir aku gak adil kah saat ini, Dina?"


"Nggak kok, Mas. Aku gak mikir soal itu."

__ADS_1


"Lalu, apa yang sedang kamu pikirkan sekarang? Kamu barusan diam tanpa berucap. Sepertinya, ada beban pikiran yang sedang mengganggu pikiran kamu, Dina."


"Memang, Mas. Aku memang ada beban pikiran yang cukup berat. Kamu tahu tentang apa?"


Pertanyaan Dina langsung Albi sambut dengan gelengan pelan. Karena sungguh, dia tidak tahu apapun tentang pikiran istrinya. Sementara itu, Dina langsung menarik napas panjang untuk menguasai hatinya terlebih dahulu sebelum dia melanjutkan pembicaraan.


"Ini tentang apa yang mama kamu katakan barusan, Mas." Dina berucap sambil menatap lekat wajah Albi.


Ucapan itu tentu saja membuat Albi langsung memasang wajah serius. Dia membalas tatapan sang istri dengan tatapan penasaran.


"Apa yang mama katakan padamu tadi? Mama bilang hal yang tidak baik untuk kita lagi kah?"


"Kamu cukup tahu mamamu, kan Mas? Tentu saja dia bicara hal yang buruk untuk hubungan kita. Dan kali ini, dia bicara hal yang lebih tidak masuk akal lagi. Tentunya, untuk aku."


"Katakan Dina! Apa yang mama bicarakan?"


"Mama minta aku nikahin Sela. Ah, bukan aku Mas, tapi kamu. Mama minta kamu nikahin Sela meski tidak menceraikan aku sebagai istri kamu."


"Apa!? Apa mama sudah tidak bisa mikir hal normal sekarang, Dina? Kenapa mama sampai mikir jauh seperti ini sih?"


"Aku juga gak tahu, Mas. Entah apa yang mama kamu pikirkan tentang aku, tentang rumah tangga kita, juga tentang Sela. Entah apa yang mama lihat dari Sela, yang tidak aku punya. Juga ... aish, entahlah. Aku sendiri pusing memikirkan semua ini. Entah kesalahan apa yang telah aku perbuat pada mama kamu mas, sampai dia begitu tidak suka dengan aku yang menjadi istri kamu." Dina berucap panjang lebar dengan suara datar lebih terdengar tenang.


Sebenarnya, bukan karena dia tidak merasa sedih atau kesal dengan apa yang dia katakan. Hanya saja, rasa itu sudah biasa sampai dia tidak tahu bagaimana harus memperlihatkannya lagi sekarang. Karena kesal, sedih, dan kecewa adalah makanan Dina selama ini. Selama menjadi istri Albi tepatnya.

__ADS_1


Sementara itu, Albi yang melihat wajah sang istri hanya bisa terdiam.


'Maafkan aku untuk hal yang tidak bisa aku katakan sekarang, Dina. Aku menyimpan rahasia yang mungkin bisa kamu jadikan alasan besar mengapa mama tidak suka padamu. Tapi, rahasia besar itu tidak bisa aku ucapkan sekarang. Karena kebenaran, juga kepastian akan alasan dari rahasia itu harus aku selidiki terlebih dahulu. Aku harus memperjelas kan nya terlebih dahulu, Dina."


__ADS_2