
"Ini tidak bisa kita biarkan, Tante. Albi tidak bisa bersikap tegas seperti itu pada tante. Tante itu mamanya, dia harus nurut dong apa yang tante katakan. Bagaimana sih Albi ini?" Sela berucap dengan nada sedang berusaha untuk membangkitkan emosi mama Albi lagi.
"Tante juga jangan lemah dong dalam menghadapi anak tante sendiri. Tante harus tegas dengan Albi. Jangan biarkan Dina menang tante."
"Kamu bilang tante lemah, Sela? Apa tante terlihat lemah tadi itu, ha? Tante sudah berusaha sangat tegas, kamu tahu? Tapi walau bagaimanapun tante berusaha, tetap saja Albi tidak bisa tante paksakan. Apalagi dia juga sedang sakit sekarang. Mana bisa tante sangat keras padanya." Mama Albi berucap dengan nada cukup kesal.
Sela yang mendengarkan hal itu langsung naik darah. Ingin rasanya dia memarahi mama Albi sekarang. Tapi sayangnya, dia tidak bisa melakukan hal itu. Karena mama Albi masih dia butuhkan. Dukungan, juga restu dari orang tua itu masih dia perlukan. Jika tidak, maka dia tidak akan pernah mau bicara dengan wanita tua yang sudah berani membentaknya seperti barusan.
....
Hari demi hari berlalu. Dina yang di rawat, kini sudah dibolehkan pulang oleh dokter. Sementara hubungan mama Albi dengan Dina yang kini menghuni tubuh Albi, masih terlihat sangat buruk.
Dina tetap bertahan dengan pandangannya. Melawan dan menolak keras apa yang mama mertuanya inginkan. Sementara Sela, dia mulai kesal dengan hal tersebut. Mulai menampakkan siapa dirinya meski tidak secara terang-terangan.
Ketika mereka baru tiba di depan pintu rumah, mama Albi langsung menahan tangan Dina dengan cepat. Sontak saja, Dina yang kini tinggal di tubuh Albi jadi sedikit terkejut. Sementara Albi yang ada di tubuh Dina, hanya bisa terdiam sambil ikut menghentikan langkah kakinya.
"Ada apa, Ma?" tanya Dina berusaha tetap santai. Tetap berusaha bersikap selayaknya Albi. Walau pada kenyataannya, dia sungguh sangat tidak berbakat.
"Mama ingin bicara empat mata sama kamu, Al. Kamu sudah sembuh, sudah seharusnya mama bicara terang-terangan sama kamu. Tapi, hanya untuk kita berdua. Tidak untuk orang lain."
"Siapa yang orang lain, mama? Di sini hanya ada kita bertiga. Aku, mama, dan Dina istriku. Kita satu keluarga kok."
"Kamu kok sekarang jadi semakin keras kepala sih, Al? Mama itu hanya ingin bicara berdua dengan kamu saja. Bukan bicara keluarga yang bisa istri kamu dengar."
__ADS_1
"Emangnya mama mau bicara apa?"
"Ikut saja dengan mama maka kamu akan tahu apa yang ingin mama bicarakan."
"Baiklah. Aku akan ikut mama. Mama mau bicara di mana sekarang?"
Pertanyaan itu langsung membuat mama Albi menoleh dan langsung memberikan tatapan aneh pada anaknya. Sementara Albi asli yang ada di samping Dina, langsung menyenggol lengan Dina dengan cepat.
"Kalau ada hal penting yang ingin kalian bahas. Biasanya, kalian akan masuk ke ruang kerja kamu, Mas."
"O-- oh. Iy--iya. Aku ... lupa. Maaf, Ma." Dina jadi gelagapan. Karena selama ini, dia tidak tahu atau lebih tepatnya, kurang tahu akan hal itu. Meski menikah sudah lama, dia tetap tidak begitu banyak tahu akan hal penting suaminya.
Mama Albi langsung memberikan Dina tatapan tajam yang penuh dengan rasa kesal.
"Eh, ng--nggak kok, Ma. Aku gak urus semua urusan mas Albi. Tapi, aku hanya mengingatkannya saja. Karena mama harus ingat, mas Albi itu agak sedikit mengalami gangguan ingatan karena kecelakaan itu. Jadi .... "
"Cukup! Aku tidak mau mendengarkan penjelasan panjang lebar dari kamu lagi. Penjelasan yang tidak ada manfaatnya."
"Albi, sekarang ikut mama. Mama ingin bicara hal penting sama kamu."
Dina langsung melirik Albi yang ada di sampingnya. Albi yang mengerti maksud dari lirikan itu langsung memberikan anggukan pelan. Menyetujui untuk Dina pergi untuk mendengarkan apa yang mamanya ingin katakan.
"Baik, Ma."
__ADS_1
Dina pun mengikuti langkah sang mama memasuki ruang kerja yang biasanya selalu tertutup rapat. Sementara itu, Albi yang sudah tidak melihat keberadaan Dina dan mamanya langsung meninggalkan tempat di mana dia berdiri sebelumnya. Dia masuk menuju kamar tempat tidur mereka. Kamar yang hanya akan dia datangi jika dia membutuhkan sesuatu saja. Seperti saat ingin tidur, mandi, atau bahkan hanya untuk berganti pakaian saja.
Namun, sekarang kamar itu adalah kamar yang sangat dia rindukan. Karena kamar itu dulunya terasa cukup hambar saat hubungannya dengan Dina rusak. Karena Dina selalu berada di kamar jika tidak ada aktifitas luar seperti berkunjung ke panti asuhan tempat di mana dia di besarkan.
Albi duduk di atas ranjang itu dengan tenang selama beberapa saat. Memperhatikan sekeliling kamar dengan seksama.
"Mm ... karena aku tidak kembali selama beberapa minggu, aku jadi rindu dengan kamar ini. Kamar ini terasa agak berbeda setelah aku tinggalkan beberapa lama." Albi berucap sendiri.
"Ya Tuhan ... apa yang aku katakan sih sebenarnya? Rindu apanya sih? Ah, ya sudahlah. Tidak perlu memikirkan hal yang tidak-tidak. Sebaiknya aku segera mandi sebelum Dina kembali. Karena aku yakin, saat Dina kembali akan ada berita yang tidak baik yang akan dia bawakan untuk aku. Maka dari itu, aku harus mandi supaya aku merasa segar untuk menerima berita yang tidak mengenakkan hati." Albi berucap sambil bangun dari duduknya.
Dia tahu, setiap pertemuan dengan mamanya, maka tidak akan ada hal baik yang akan dia dengar. Pasti soal berita buruk. Berita yang tidak akan menyenangkan hati.
"Semoga saja kamu kuat, Dina. Kamu bisa bantu aku mempertahankan hubungan rumah tangga kita berdua yang hampir musnah ini. Aku yakin kamu mampu. Aku menaruh harapan besar padamu," kata Albi lagi sambil bangun dari duduknya.
Albi menarik napas panjang. Lalu melepaskan napas itu secara perlahan. Berusaha menenangkan hati yang seperti sedang tidak baik karena keresahan akibat menunggu sang istri kembali.
"Huhf. Sebaiknya aku mandi sekarang. Ya-ya -ya. Aku harus segera mandi," ucap Albi sambil berjalan menuju lemari sang istri.
"Lemari Dina. Mm ... iya, inilah lemarinya." Albi masih tetap bicara sendiri saat dia berada di depan lemari bagian samping dari satu lemari besar dengan empat pintu yang berada di kamarnya.
Lalu, tangan Albi ringan membuka pintu lemari itu dengan cepat. Ketika pintu lemari tersebut terbuka, Albi sedikit terkejut dengan isi dari lemari itu.
"Ini ... apakah benar ini lemari bagaian istriku?" tanya Albi dengan nada yang sedikit tidak percaya dengan apa yang matanya lihat.
__ADS_1