
Sampai di dekat sang istri, Albi langsung menjatuhkan pelukan. Dia peluk erat tubuh mungil istrinya dengan penuh perasaan.
"Jika kamu pergi juga dari aku. Biarkan aku mati saja. Aku terkesan sangat egois, bukan? Tapi aku sungguh tidak ingin hidup sendiri lagi."
Medina langsung membalas dekapan Albi dengan dekapan hangat juga. Sebenarnya, dia hanya berbohong saja dengan Albi. Dia tidak akan pergi, karena dia tahu, Albi sangat terluka saat ini. Albi butuh teman untuk menghibur hati yang sedang sedih.
Ancaman untuk pergi itu sengaja dia katakan agar Albi tidak terfokus dengan kesedihan juga rasa bersalah yang sedang dia rasakan. Dina ingin Albi kuat. Meski pun itu tidak mudah. Dina tidak melarang Albi sedih. Tapi dia tidak ingin Albi menghukum diri. Dengan tidak makan dan minum, itu sama saja menghukum diri agar sakit.
"Aku tidak akan pergi, Mas. Tapi kamu harus janji padaku untuk tetap tegar. Aku tahu kamu sedih, tapi aku tidak mau kamu menghukum diri kamu karena kesedihan itu. Kamu tahu, kan? Aku sangat mengkhawatirkan kamu sekarang."
"Aku tahu, Sayang. Aku hanya butuh waktu untuk pulih. Aku mohon kamu bantu aku."
Dina langsung mengukir senyum kecil di bibirnya. "Tentu saja, Mas. Aku pasti akan bantu kamu."
.....
Dua bulan kemudian, Albi sudah semakin membaik meski dia juga sering murung. Tapi itu sudah jauh lebih baik dari sebelumnya.
Albi sudah mulai melakukan kegiatan normal seperti sebelumnya. Bahkan, dia sudah bisa menghadiri sidang putusan hukuman untuk Sela.
__ADS_1
Sela di hukum penjara seumur hidup atas kejahatan yang sudah dia lakukan. Keluarga Sela jatuh miskin karena hutang yang menumpuk dan tidak bisa mereka bayar. Rumah di sita, kerjaan tidak punya.
Kini, orang tua Sela harus menyambung hidup dengan bekerja sebagai buruh harian lepas. Karena itu, mereka tidak bisa membantu Sela untuk membayar pengacara waktu itu.
Sementara pacar Sela, dikabarkan tewas akibat kecelakaan ketika pulang dari klab malam bersama perempuan. Hidup Sela yang berakhir tragis dengan kehilangan semua orang yang dia sayang. Kini, dia harus terima hidup di balik jeruji besi yang sempit dan sejuk. Sungguh tragis dan menyeramkan.
....
Setelah lebih dari dua bulan menangguhkan datang ke alamat yang bibi berikan. Medina akhirnya datang ke alamat tersebut setelah genap seratus hari kepergian mama mertuanya.
Dia datang bersama Albi. Hari itu sedikit gerimis. Mobil yang mereka tumpangi sampai di depan sebuah rumah mewah dengan pagar besi yang cukup tinggi. Satu pos satpam terlihat di depan pagar tersebut.
"Ada perlu apa, Mas? Mbak? Apa ada yang bisa saya bantu?" Satpam itu menyapa dengan ramah.
"Apa ini rumah pasangan Anna dan Kiyar?" tanya Albi dengan penuh harap. Dia tidak ingin istrinya kecewa lagi. Karena ini, adalah harapan terakhir buat sang istri bertemu kedua orang tua kandungnya.
"Iya, mas. Ini rumah pasangan Anna dan Kiyar. Ada perlu apa yang mencari majikan saya?"
"Keperluan pribadi, Mas. Apakah mereka ada di rumah sekarang? Bisakah kami bertemu dengan mereka jika mereka ada?" Kali ini Medina yang berucap. Dia sepertinya sangat tidak sabar lagi.
__ADS_1
"Kebetulan, tuan dan nyonya ada di dalam. Karena cuaca tidak baik, mereka ada di rumah hari ini. Silahkan masuk jika kalian ingin bertemu. Penjaga pintu akan mengantarkan kalian ke dalam untuk bertemu tuan dan nyonya."
Entah karena satpam itu memang baik, atau karena masib mereka yang memang sedang mujur. Mereka diizinkan masuk tanpa terlalu banyak proses lagi.
.....
Benar apa yang satpam itu katakan. Di depan pintu ternyata ada dua orang penjaga yang bertubuh cukup besar dari pada satpam penjaga gerbang. Sepertinya, keamanan rumah itu dijaga dengan sangat ketat.
"Ada keperluan apa kalian datang ke sini? Sepertinya, kalian orang asing yang belum pernah bertamu sebelumnya," ucap salah satu dari dua penjaga itu dengan tatapan tajam yang menusuk.
"Maaf, Pak. Kami memang belum pernah datang. Kedatangan kami ini untuk bertemu dengan nyonya Anna dan tuan Kiyar. Ada hal yang harus kami bahas dengan kedua majikan kalian."
"Kalian mau bahas apa?"
"Apa kalian sudah buat jani sebelumnya?" tanya penjaga yang satu lagi.
Sudah mereka duga. Kalau penjaga pintu memang lebih keras dan cerewet dibandingkan penjaga gerbang. Terbukti sekarang. Mereka diberikan banyak pertanyaan hanya ingin masuk ke dalam.
Tapi sebenarnya, itu juga hal yang wajar. Karena kedua penjaga ini bertanggung jawab atas keselamatan majikan mereka. Banyak tanya adalah cara mereka memastikan orang yang akan majikan mereka temui itu orang yang baik dan tidak akan membahayakan majikan mereka.
__ADS_1