Bertukar Tubuh

Bertukar Tubuh
*Main Part 33


__ADS_3

Dia pun akhirnya berhasil memaksa Tirta untuk bicara setelah beberapa menit lamanya. Tirta tidak punya kemampuan untuk menyembunyikan cerita masa lalu mereka yang telah lewat dua tahun yang lalu.


"Kau suka padaku, Dina. Tapi kamu tidak mengatakan itu padaku sebelumnya. Hubungan kita yang dekat, aku tidak berpikir kalau aku juga suka kamu. Karena aku selama bersama, selalu menganggap kamu adikku."


"Kemudian, kau mengatakan semua itu. Tapi aku tidak bisa memilih kamu, karena aku sudah punya calon istri yang aku pilih sendiri. Kamu pun marah, dan sangat benci padaku. Hingga kamu memutuskan kontak kita. Sampai aku tidak bisa menghubungi kamu lagi."


"Dan, aku memilih membiarkan kamu melakukan apa yang ingin kamu lakukan. Aku pikir, dengan begitu, hubungan kita berdua mungkin akan membaik nantinya. Tapi sayangnya, hubungan kita malah semakin memburuk. Ditambah kamu yang menikah lagi dengan pria baru kamu kenal beberapa bulan saja."


"Aku berusaha .... "


"Cukup! Aku sudah tidak ingin mendengarkan cerita tentang hubungan yang buruk lagi sekarang," ucap Albi dengan nada tinggi menghentikan ucapan Tirta.


"Apa kamu sudah ingat dengan aku sekarang, Din?" tanya Tirta malah antusias penuh harap.


"Tentu saja tidak. Karena mengingat pria seperti kamu itu tidak ada gunanya. Ke depannya, aku minta tolong jangan dekati atau datang buat mencari aku lagi. Karena pria seperti kamu sungguh sangat tidak di butuhkan di sini."


"Kamu masih marah padaku, Dina. Maka dari itu kamu tidak ingin ingat padaku. Aku tahu, kamu bukan lupa padaku, melainkan kamu sengaja tidak ingat aku."


"Dina, sekarang aku sudah berpisah dengan istriku. Aku datang untuk kamu. Tolong maafkan aku, karena sekarang aku sudah menyadari kalau aku punya rasa padamu, Dina."


Ucapan Tirta barusan langsung membuat Albi menatap tajam pria itu. Rasa jengkel yang sebelumnya dia rasakan, kini bertambah semakin membesar.


'Pria gila dari mana sih ini? Berani-beraninya dia datang buat nyari istriku setelah dia dibuang oleh istrinya. Dasar pria bajingan yang tidak berkelas. Coba saja kamu nyari istriku untuk reunian cinta yang tidak berguna sama sekali. Cih, baru menyadari kalau dia cinta pada istriku setelah pernikahannya berjalan dua tahun. Dasar pria gila!' Albi bergumam dalam hati dengan emosi yang meluap.

__ADS_1


'Jika saja tidak memikirkan harga diri dari istriku, aku pasti sudah memukul wajah pria yang tidak tahu malu ini. Huh, sabar Albi, sabar. Kamu tidak sedang berada di tubuhmu. Kamu sedang berada di tubuh istrimu. Jangan rusak wajah istrimu, Albi.'


Albi tidak kuat untuk tetap berada di depan Tirta. Karena semakin dia melihat wajah pria itu, hatinya merasa semakin geram saja. Tangannya ringan untuk memukul wajah pria yang dia anggap tidak tahu malu yang ada di hadapannya saat ini. Untuk itu, Albi memilih beranjak meninggalkan pria itu sekarang juga. Secepat yang dia bisa agar emosinya tidak lepas dari kendali.


Namun, tentu saja Tirta tidak akan membiarkan Albi meninggalkan dirinya. Karena dia masih belum selesai bicara dengan Dina sekarang.


"Tunggu, Dina! Aku belum selesai bicara dengan kamu. Kenapa kamu malah mau pergi begitu saja sekarang?"


Tirta berucap sambil memegang tangan Dina. Tentu saja Albi merasa semakin marah. Dia tepis tangan itu sekuat tenaga agar tidak menempel lama di kulit sang istri.


"Lepaskan tanganmu dari tangan istriku! Jangan sentuh dia!"


"Istri?" tanya Tirta dengan tatapan bingung.


"Ya! Aku istri dari suamiku. Kenapa? Apa kamu sudah lupa kalau aku sudah punya suami?" Untung saja, jalan pikiran Albi cepat. Dengan cepat dia bisa memikirkan apa yang harus dia ucap setelah dia salah berucap barusan.


"Tentu saja aku tidak lupa kalau kamu sudah punya suami, Dina. Tapi, aku tahu bagaimana hubungan kamu dengan suamimu sekarang. Hubungan kalian sedang tidak baik-baik saja sekarang, bukan? Suamimu begitu membenci kamu, kan?"


Albi tentu saja kaget dengan ucapan itu. Sangking kagetnya dia, dia sampai melebarkan mata menatap wajah Tirta. Amarahnya seketika meluap. Dia pun lupa dengan siapa dirinya lagi sekarang.


Albi langsung menarik kerah baju Tirta dengan kasar. "Tahu dari mana kamu soal hubungan rumah tanggaku yang tidak baik, hah? Tahu dari mana kamu, soal suamiku yang sedang benci aku? Tahu dari mana!"


"Dina. Ke-- kenapa kamu jadi begitu galak seperti ini? Kamu terlalu .... "

__ADS_1


Seketika Albi sadar dengan apa yang dia lakukan. Dia pun langsung melepaskan kerah baju Tirta yang dia cengkram sebelumnya.


"Cukup! Jangan banyak bicara. Katakan kamu tahu dari mana tentang apa yang kamu katakan tadi padaku! Jangan buat emosiku bertambah besar lagi sekarang."


"Kau sungguh menakutkan, Dina. Berbeda dari dirimu yang dulu, yang aku kenal. Kamu sekarang seperti bukan kamu. Apa karena ini, kamu dibenci suamimu? Atau ... apa karena suamimu benci kamu, maka kamu jadi seperti ini, Dina?"


'Pria bajingan yang menyebalkan. Dasar bodoh!' Albi berkata dalam hati sambil menggenggam erat tangannya untuk menyalurkan emosi.


"Katakan padaku! Dari mana kamu tahu soal aku yang dibenci oleh suamiku! Jangan bahas soal lain sekarang. Jawab pertanyaan ku sekarang juga!"


"Aku tahu dari mama mertuamu, Dina. Dia datang menemui aku dan bilang, kalau hidupmu sungguh sangat menyedihkan."


Seketika, kerongkongan Albi terasa kering karena kata-kata yang Tirta ucapkan. Napasnya pun terasa sesak. Hal yang sungguh mengejutkan untuk Albi dengar. Ternyata, kali ini ulah mamanya lagi.


"Mama .... " Hanya itu yang bisa Albi ucapkan sekarang. Karena kakinya kini terasa lemas, seperti tidak bisa menahan beban tubuhnya lagi.


Albi pun terduduk ke lantai karena tubuhnya yang tiba-tiba mati rasa. Ingin rasanya dia menangis dan berteriak keras memanggil mamanya yang ternyata selalu menjadi biang dari masalah rumah tangga yang sedang dia hadapi.


Sementara itu, Tirta yang melihat Dina terjatuh, tentu saja tidak akan tinggal diam. Dia pun berusaha menghampiri Dina untuk membantu Dina bangun dari jatuhnya.


"Mama mertua kamu kasihan padamu, Dina. Maka dari itu dia datang menemui aku untuk minta tolong padaku buat menyelamatkan kamu. Kamu tidak perlu bersikap kuat seperti tadi, karena aku tahu semuanya tentang rumah tangga kamu dengan suamimu. Dia menikahi kamu karena pelampiasan saja. Dia .... "


"Cukup! Kamu tidak tahu apa yang sesungguhnya terjadi. Yang tahu hanya aku dan Dina saja. Karena yang menjalani rumah tangga itu kami, bukan mama."

__ADS_1


Setelah berucap kata-kata itu, Albi pun bangun dari jatuhnya. Dia berjalan cepat meninggalkan tempat tersebut. Tidak dia hiraukan lagi panggilan dari Tirta yang berteriak memanggil dan menahan dirinya agar tidak pergi.


__ADS_2