Bertukar Tubuh

Bertukar Tubuh
*Main Part 41


__ADS_3

Beberapa saat lamanya, Albi baru memahami apa yang sedang mereka alami saat ini. Ternyata, dia memang baru pertama kali bangun dari kecelakaan yang mereka alami waktu itu.


Tidak ada yang namanya kecelakaan kedua. Mereka hanya pernah mengalami satu kali kecelakaan. Dan, baru sadar dari kecelakaan itu. Sedangkan untuk soal pertukaran tubuh, sepertinya itu tidak terjadi di dunia nyata. Hanya di alam bawah sadar saja.


Karena itu, wajar sang mama mengungkit soal apa yang telah terjadi sebelum mereka mengalami kecelakaan. Karena yang mengalami hal tak lazim itu hanya mereka berdua.


....


Albi terus menunggu Dina sadar. Tak dia hiraukan apa yang dokter katakan padanya. Dia juga mengabaikan apa yang mamanya ucapkan. Karena kesadaran Dina, adalah hal yang paling dia inginkan.


Satu hari berlalu. Albi menunggu dengan perasaan cemas. Ada dua harapan besar yang kini ada dalam hatinya. Pertama, dia berharap kalau Dina tidak mengalami hal yang sama dengan dirinya. Tidak memimpikan pertukaran tubuh sama seperti yang dia alami.


Sementara yang kedua. Jikapun Dina mengalami hal yang sama dengan yang dia alami. Albi berharap kalau Dina tidak marah padanya setelah bangun nanti. Karena dia sangat tidak ingin kehilangan Dina.


Dalam keheningan malam yang pekat. Albi masih terus duduk dengan tatapan lekat melihat wajah sang istri. Dia tidak menghiraukan keadaannya yang tergolong masih lemah saat ini.


"Satu harapan yang sangat aku harapkan terwujud, Medina. Kamu sadar secepat mungkin, sayang." Albi berucap sambil menggenggam erat tangan Dina. Lalu, tangan itu dia kecup pelan dengan penuh kasih sayang.


Albi pun terus menggenggam tangan itu dengan penuh perasaan. Sesuatu yang mengejutkan akhirnya terjadi. Apa yang Albi harapkan akhirnya terwujud juga. Tangan Medina yang Albi genggam akhirnya bergerak perlahan.

__ADS_1


"Me --Medina. Kamu ... bangun, sayang? Kamu ... ka-- kamu sadar, Dina."


Albi berucap dengan terbata-bata. Sangking bahagianya dia, dia sampai meneteskan air mata sambil tersenyum lebar.


Namun, apa yang Albi lihat cukup membuat hatinya terluka. Medina yang baru sadar itu langsung memalingkan wajah ke arah lain. Dia juga menarik tangannya dari genggaman sang suami.


"Dina ... apa ... apa yang .... "


"Aku ingin sendiri, Mas Albi. Tolong berikan aku waktu," ucap Dina secara perlahan tanpa memikirkan apa yang terjadi dengan dirinya.


Dari ucapan itu, Albi bisa menarik kesimpulan kalau Dina juga mengalami hal yang sama. Mereka benar-benar telah bertukar tubuh saat mengalami koma. Hanya saja, tidak ada yang tahu akan hal itu.


"Keluarlah, Mas! Aku tidak ingin melihat kamu sekarang."


"Ba-- baiklah. Aku akan keluar. Aku akan panggilkan dokter untuk memeriksa keadaan kamu. Kamu tunggu aku ya. Aku akan kembali bersama dokter, Dina."


Medina tidak menjawab. Hati Albi pun merasa sedih akan hal tersebut. Dia berjalan dengan langkah berat untuk meninggalkan sang istri.


Yang dia harapkan sadar, kini telah pun sadar. Tapi, harapan itu ternyata tidak membuat hati bahagia. Karena setelah sadar, ingatan buruk yang menyakitkan itu ternyata masih tetap ada. Tidak hilang bersama waktu yang berputar.

__ADS_1


Beberapa hari kemudian, Medina telah pun diperbolehkan pulang. Albi bahagia. Walau hubungan mereka masih buruk. Meski Albi sudah berusaha sangat keras untuk mendapatkan maaf dari sang istri, tapi sepertinya usaha itu tidak ada gunanya.


"Syukurlah, sayang. Akhirnya kamu bisa pulang juga," ucap Albi sambil tersenyum.


"Kenapa kamu selalu saja ada di hadapanku, Mas? Aku sudah bilang kalau aku tidak ingin melihat kamu, bukan? Tapi kamu tidak pernah mengindahkan apa yang aku katakan. Kamu tetap saja ada. Apa kamu tidak bosan? Aku bicara setiap hari, bahkan setiap saat."


"Kamu pernah bilang padaku, Dina. Kesempatan kedua itu tidak semua orang bisa mendapatkannya. Karena itu, aku tidak akan melepaskan kesempatan kedua yang aku punya."


"Aku juga sudah pernah bilang padamu, bukan? Kalau aku tidak akan membiarkan kamu terluka lagi. Karena itu, aku harus selalu ada di samping kamu istriku."


Dina langsung memberikan Albi tatapan tajam. "Tapi setiap kali aku melihat wajahmu, aku selalu merasa kesal, sakit hati, juga marah, Mas. Karena setiap aku melihat kamu, aku akan ingat dengan mama kamu. Sikap mama kamu. Kejahatan yang sudah mama kamu buat. Dan, semua tentang kesalahan mama kamu. Aku akan ingat semuanya. Itu membuat aku merasa semakin marah dan semakin sakit, Mas Albi."


Albi terdiam. Hatinya berusaha untuk tetap kuat agar raut wajahnya tidak berubah. Bohong kalau dia mengatakan dia dia tidak terluka dengan apa yang istrinya katakan. Karena kata-kata itu, sungguh sangat menggores hati.


Tapi demi kebahagiaan sang istri. Juga demi rasa bersalah yang besar yang harus dia tebus, Albi harus tetap kuat. Berusaha mengabaikan apa yang dia rasakan adalah pilihan terbaik untuknya saat ini.


"Jika begitu ... kamu bisa melampiaskan semua yang kamu rasakan padaku, Dina. Aku ikhlas dan ridho jika kamu melampiaskan semua yang kamu rasakan itu. Jangan takut, dan jangan sungkan. Aku akan menerima semuanya dengan lapang dada."


Medina terdiam. Dia tidak menjawab apa yang Albi katakan. Dia hanya menatap sang suami sejenak, lalu beranjak meninggalkan suaminya begitu saja.

__ADS_1


__ADS_2