Bertukar Tubuh

Bertukar Tubuh
*Main Part 53


__ADS_3

Sampai di depan kamar, bibi yang bertugas menjaga mama Albi langsung menghampiri Albi dengan cepat. Dia mengatakan kalau majikannya sempat sadar beberapa menit lamanya. Dan, dengan penuh sesal. Si majikan bercerita tentang apa yang sudah dia lakukan di masa lalu.


Lalu, dengan penuh air mata. Si bibi menyerahkan selembar kertas putih ke tangan Medina.


"Nyonya bilang, jika ingin tahu semua tentang keluarga mu, maka kamu harus datangi alamat itu."


"Dan, nyonya juga bilang maaf untuk semua yang sudah dia lakukan padamu. Dia sungguh menyesali semua yang telah berlalu," kata si bibi lagi.


"Kenapa mama bisa bilang seperti itu, Bi? Kenapa dia tidak menyampaikan saja sendiri secara langsung pada Medina? Kenapa harus berpesan pada bibi?"


Kini, Albi sudah tidak tahan lagi. Dia langsung mengutarakan kekesalan yang dia rasakan. Kekesalan sekaligus kesedihan yang sangat mendalam. Karena pesan itu terasa seperti sebuah pembatas untuk mereka dengan mamanya.


Sementara bibi yang Albi lemparkan pertanyaan itu. Langsung menguatkan isak tangisnya. Meskipun dia berusaha keras menahan tangisan itu. Tapi tetap saja, itu tidak berhasil.


"Nyonya bilang, waktunya mungkin tidak akan lama lagi. Dia takut kalau dia tidak sempat bertemu dengan kalian. Untuk itu, dia melakukan hal ini untuk berjaga-jaga. Karena tidak ada yang tahu soal ini selain dia. Medina tidak akan pernah bisa bertemu keluarganya jika tidak nyonya kasi tahu tempat orang tuanya berada."


"Ti-- tidak. Mama ... tidak boleh pergi secepat itu. Mama tidak boleh pergi sekarang. Aku ... aku belum bikin mama bahagia, bukan?"


Albi terlihat sangat terpukul. Meski sang mama belum pergi, tapi ucapan si bibi barusan sudah seperti berada di ambang kepergian sang mama.

__ADS_1


Dan, benar saja apa yang Albi takutkan itu akhirnya terjadi. Pintu kamar yang mereka tunggu sejak tadi akhirnya terbuka. Dari balik pintu itu muncul dokter dengan wajah menyakitkan hati. Wajah sedih karena tidak berhasil menyelamatkan pasien mereka.


Albi yang melihat si dokter tanpa menunggu lama lagi langsung bangun dari duduknya di kursi tunggu. Dengan tatapan penuh harap, Albi bertanya. "Bagaimana keadaan mama saya sekarang, Dok? Apa mama saya baik-baik saja?"


Dokter tidak langsung menjawab. Dia malah menyentuh pelan bahu Albi. Sentuhan yang Albi sendiri paham apa maknanya.


"Tidak. Tolong jangan katakan hal yang tidak ingin saya dengar, dokter. Saya mohon."


"Maafkan saya. Tapi saya tidak bisa berbohong pada anda. Apa yang sedang terjadi, itulah yang akan saya sampaikan. Maaf, mama anda sudah tidak ada lagi."


Tangisan pecah. Albi begitu terpukul sekarang. Dia menyesal karena tidak sempat minta maaf pada sang mama sebelumnya. Meski semua yang sudah mamanya lakukan, tapi tetap saja, mamanya adalah orang yang paling berjasa dalam hidup.


Teriakan yang memilukan itu terdengar menyayat hati. Tapi sayangnya, tidak ada yang bisa dilakukan selain melihat juga mendengarkan, atau bahkan ikut melakukan apa yang Albi lakukan. Karena suasana sedih itu tidak bisa di cegah.


.....


Dua hari setelah kepergian sang mama. Albi seperti tidak punya semangat hidup. Dia terus berada di kamar tanpa makan dan minum. Albi menolak untuk makan walau Medina sudah membujuknya dengan segala cara.


Hingga pada akhirnya, Medina tidak punya cara lain selain marah pada Albi. Karena jika tidak mau makan, Albi akan jadi semakin lemah setiap harinya.

__ADS_1


"Mas. Jika kamu tetap tidak ingin makan juga. Maka aku akan pergi dari rumah ini. Karena aku sadar diri, semua yang telah terjadi padamu saat ini adalah karena aku. Akulah yang menyebabkan kamu kehilangan mamamu, Mas."


"Mas Albi aku minta maaf. Aku sungguh merasa bersalah atas semua yang terjadi. Saat kamu bersikap seperti dunia sudah tidak berputar lagi, maka saat itu pulalah aku semakin merasa bersalah, Mas."


"Aku tidak bisa tinggal bersama kamu lagi, Mas Albi. Aku akan pergi dari sini sekarang juga."


"Medina! Apa yang kamu katakan, hah!" Albi berteriak keras.


Untuk yang pertama kalinya Albi bersuara setelah kepergian sang mama. Benaknya mencerna cepat apa yang Dina katakan. Dia sudah kehilangan satu orang yang paling berharga dalam hidupnya. Dia sungguh sangat tidak ingin kehilangan lagi.


"Apa kamu benar-benar tega meninggalkan aku, Dina? Aku sudah kehilangan mamaku. Apa aku juga akan kehilangan kamu sekarang? Istri yang aku perjuangan dengan susah payah ini juga akan pergi meninggalkan aku. Kalau begitu, untuk apa aku tetap hidup?"


"Kamu yang menginginkan aku pergi, Mas."


"Tidak! Jangan pergi aku mohon."


Albi pun langsung bangun dari duduknya di atas ranjang. Dia langsung menyeret kaki untuk menghampiri Medina yang kini sedang berada di depan pintu kamar.


Dengan susah payah dia seret kaki itu. Karena lemah, akibat tidak makan selama dua hari, tubuhnya seakan tidak bisa dia gerakkan. Tapi, demi Dina dia tetap melangkah.

__ADS_1


Sampai di dekat sang istri, Albi langsung menjatuhkan pelukan. Dia peluk erat tubuh mungil istrinya dengan penuh perasaan.


__ADS_2