
"Dan, semoga kamu memaafkan aku, sayang. Memaafkan semua kesalahan besar yang sudah aku lakukan padamu selama ini. Aku juga ingin bilang, aku sungguh tidak kuat menjalani kehidupan yang selama ini kamu jalani, Dina. Kehidupan yang terasa sangat buruk akibat perlakuan orang yang ada di sekitar kamu."
Saat Albi mengutarakan kata-kata itu di depan tubuhnya, wajah bersalah tergambar dengan sangat jelas. Sepertinya, dia sungguh sangat merasa menyesal atas apa yang sudah dia lakukan selama ini.
Albi langsung menghentikan sejenak ucapannya. Dia menundukkan kepala selama beberapa saat. Buliran bening perlahan merembes di sudut matanya.
Dengan cepat, embun bening itu dia seka agar tidak tumpah. Dia yang cukup rapuh ingat bagaimana istrinya begitu tabah dengan tetap bertahan. Karena itu, dia juga ingin mencoba dengan sekuat tenaga. Berusaha tetap kuat sama seperti istrinya. Melewati semua itu sendirian dengan hati yang tegar.
Albi mengangkat kepalanya kembali. Dia mencoba mengukir senyum manis untuk sang istri. Dia cium tangan itu dengan penuh perasaan.
"Kamu wanitaku yang sangat kuat, Dina. Kamu perempuan yang luar biasa. Kamu sungguh teguh dalam melewati hidupmu yang pahit ini. Untuk itu, kamu tenang aja, sayang. Aku juga akan kuat dan tetap bertahan."
"Mungkin, bertukar nya tubuh kita ini adalah anugerah dari Tuhan. Tuhan ingin aku mengerti bagaimana pahitnya hidup yang kamu jalani. Dia ingin aku sadar, kalau aku punya istri yang luar biasa. Yang selama ini aku sia-siakan begitu saja karena kebodohan yang aku miliki."
Setelah berucap kata-kata itu, Albi menatap lekat wajahnya sendiri. Dia sungguh sangat ingin wajah yang dia tatap itu membuka mata. Sadar akan apa yang sekarang telah terjadi.
"Oh iya, sayang. Besok aku sudah diperbolehkan keluar dari rumah sakit ini."
"Jika bagi sebagian orang, keluar dari rumah sakit adalah harapan terbesar mereka. Tapi itu tidak dengan aku. Karena bagi aku, keluar dari rumah sakit itu adalah hal buruk yang harus aku terima. Soalnya, aku tidak akan sebebas ini buat bertemu dengan kamu, Dina."
"Dina. Aku sangat berharap kamu membuka mata sebelum aku keluar dari rumah sakit ini besok. Dan aku juga sangat berharap, kamu membuka mata di saat hanya ada kita berdua saja di sini. Di saat hanya ada aku dan kamu saja di ruangan ini. Karena aku tidak ingin ada orang yang tahu, kalau kita sedang bertukar tubuh sekarang, sayang."
Albi berucap dengan penuh harap. Namun, harapan itu tidak semuanya akan jadi kenyataan. Karena belum sampai dua menit harapan itu dia ucapkan, suara dua orang yang sangat dia kenali terdengar sedang berada di depan pintu masuk ruangan tersebut.
__ADS_1
Dengan cepat, Albi beranjak meninggalkan tubuh di mana Dina berada di sana untuk menghindari mamanya dan Sela. Dia melakukan hal itu bukan karena takut, tapi karena tidak ingin berdebat dan bikin masalah lagi dan lagi saja. Agar tidak menyulitkan dirinya yang kini berada di tubuh Dina. Maka mengalah adalah jalan terbaik yang bisa dia lakukan.
Meski dia sudah tidak berada di samping tubuhnya, tapi apa yang mamanya dan Sela bicarakan masih bisa dia dengar dengan sangat baik. Karena keberadaan mereka sangat dekat, hanya terpisah satu tirai saja.
"Aku tidak bisa datang ke sini buat temani tante nanti malam, tan. Ada kerjaan mendadak yang harus aku selesaikan," ucap Sela.
"Yah, tante juga gak bisa jagain Albi sepenuhnya nanti malam, Sel. Tante ada pertemuan penting yang gak bisa tante tinggalkan. Tadinya, tante berharap kamu yang jagain Albi nanti malam saat tante gak ada. Tapi sayangnya, kamu juga sibuk," ucap mama Albi dengan nada penuh dengan rasa kecewa.
"Mm ... gimana ya tante? Kita sama-sama sibuk. Tapi, Albi juga harus ada yang ngejagain supaya dia baik-baik aja selama kita gak ada di sampingnya."
"Iya, tapi urusan tante itu cukup penting, Sel. Tante harus ketemu dengan klien luar kota yang datang sore ini. Karena besok, klien itu sudah pulang ke tempatnya kembali. Lagian, gak enak juga kan, kalo tante nunda waktu dengan klien sepenting itu."
"Iya sih. Gak bisa nunda buat ketemu klien. Soalnya, aku juga sama kek tante, Tan. Ada pertemuan penting yang harus aku datangi nanti malam."
"Ya nggak mungkin maulah susternya, Tante. Orang mereka punya tugas yang banyak, yang harus mereka kerjakan selama mereka bertugas."
"Lalu? Apa yang harus kita lakukan sekarang?"
Mama Albi menatap setelah setelah pertanyaan itu dia lontarkan. Sementara Sela yang mendapatkan tatapan, tidak langsung menjawab. Dia malah terdiam dengan mata yang balas menatap ke arah mama Albi.
Beberapa saat terdiam, akhirnya Sela angkat bicara juga.
"Aku tahu apa yang harus kita lakukan, Tante."
__ADS_1
"Apa?" tanya mama Albi cukup antusias.
"Minta aja Dina buat jagain Albi malam ini. Diakan bisa jagain Albi karena dia udah dinyatakan sembuh oleh dokter tadi pagi, kan?"
"Apa!? Hah! Kamu gak salah ngomong kan, Sel? Barusan ... itu ... kamu bicara apa? Tante gak salah dengar, kan?"
"Tante gak salah dengar kok. Aku ngomong benar. Kita minta Dina buat jagain Albi. Anggap sebagai salam perpisahan buat Dina. Bukankah besok dia susah tidak akan ada di sini lagi, tan?"
"Iy--iya sih. Tapi tante gak suka kalo dia dekat-dekat dengan Albi, Sela. Kamu tahukan, bagaimana bencinya tante dengan dia. Gak suka tante kali dia dekat sama Albi."
"Tante-tante. Selama kita gak ada juga dia pasti selalu bersama dengan Albi. Apa saat kita butuh dia, kita tidak bisa manfaatkan dia buat melakukan apa yang selalu dia lakukan di belakang kita?"
Ucapan itu langsung membuat mama Albi diam. Selama ini, dia tidak pernah berpikir kalau Dina akan melakukan apa yang dia larang. Karena dia selalu berpikir, Dina takut dan selalu menurut dengan apa yang dia katakan.
"Jadi ... selama kita gak ada, dia selalu datang buat melihat Albi, Sel?"
"Ya tentunya dong, tante. Mana mungkin dia gak akan datang ke sini buat melihat Albi coba? Orang jarak antara dia dengan ranjang Albi aja hanya di batasi oleh tirai itu."
"Kamu benar juga."
"Dina! Aku tahu kamu pasti sudah mendengarkan apa yang telah kami bicarakan. Ke sini kamu sekarang juga!"
Suara lantang mama Albi terdengar memenuhi ruangan. Albi yang sedari tadi menguping, tentu saja tidak bisa mengabaikan panggilan itu. Diapun beranjak meninggalkan ranjangnya.
__ADS_1