
Pertanyaan itu langsung membuat bu Misah menoleh ke arah Dina. Dia merasa sedikit sedih dengan anak asuhnya yang ternyata tidak mengenali pria yang ada di hadapan mereka.
"Kamu beneran gak ingat siapa dia, Din? Ya Allah, begitu parah kah kecelakaan yang kamu alami, Nak?" Bu Misah berucap dengan suara sedih juga tatapan penuh rasa cemas.
"Ak --aku ... maaf, Bu. Aku beneran gak ingat siapa dia," ucap Albi dengan rasa bersalahnya.
'Maafkan aku, tentu saja aku gak ingat dengan orang itu. Karena aku sama sekali tidak kenal dengannya. Aku ini Albi, bu Misah. Bukan Median. Jika itu Medina, aku yakin dia pasti kenal dengan pria ini,' kata Albi dalam hati.
Belum sempat bu Misah menjawab apa yang Medina katakan, pria yang ada di depan pintu itupun langsung menoleh. Saat melihat bu Misah dan Dina yang sedang menyambut mereka, pria itu langsung tersenyum lebar ke arah keduanya. Pria itu juga berjalan cepat untuk segera menghampiri pintu, tempat di mana Dina dan bu Misah sedang berdiri.
"Medina," ucap pria itu penuh dengan rasa bahagia.
Albi hanya terdiam tanpa bisa memberikan ekspresi apapun selain ekspresi kebingungan. Entah seperti apa dia harus bersikap saat ini, karena dia tidak tahu siapa pria ini. Medina juga tidak pernah sekalipun menyingung soal pria ini sebelumnya. Jadi, tentu saja dia tidak tahu apa-apa tentang pria ini.
Pria itu langsung ingin merangkul Albi. Namun, dengan cepat Albi menghindar agar pria itu tidak bisa menyentuh tubuh istrinya.
Karena ulah Albi barusan, suasana bahagia tiba-tiba berubah canggung. Pria itu langsung memberikan Albi tatapan tak percaya.
Bu Misah yang melihat kejadian itu, langsung angkat bicara.
"Tirta, dia baru saja mengalami kecelakaan bersama dengan suaminya. Jadi, ingatan akan masa lalu Dina sedikit terganggu. Dia tidak bisa mengingat siapa kamu sekarang."
Seketika, pria yang bernama Tirta itupun langsung menatap sendu ke arah Dina.
"Dina ... kamu ... beneran gak ingat aku?"
"Aku gak ingat kamu. Siapa sih kamu sebenarnya?" Albi berucap sangat kesal. Dia merasa sedang terbakar saat ini. Terbakar oleh api cemburu karena sikap lembut yang pria itu perlihatkan pada istrinya.
__ADS_1
Bu Misah langsung menarik napas panjang. Sungguh, dia tidak tahu harus bicara apa pada Dina saat ini. Karena sikap Dina, sungguh sangat berbeda dari yang biasanya.
"Dina, sebaiknya, kamu dan Tirta masuk dulu. Bicara berdua di halaman belakang saja, Nak."
"Ayo, Tirta! Ayo Dina! Kita ke halaman belakang saja," ucap bu Misah lagi.
Keduanya pun beranjak mengikuti langkah bu Misah tanpa membantah sedikitpun. Mereka berjalan dengan langkah sedang, tapi tidak bicara sepatah katapun hingga sampai di halaman belakang dari panti asuhan yang cukup besar ini.
"Nah. Kalian bicara berduaan saja di sini dulu. Ibu akan ke dalam sekarang."
"Lho, kenapa harus berduaan saja, bu?" tanya Albi agak keberatan.
"Karena kalian butuh waktu berduaan untuk bicara, Din."
Pertanyaan tentang siapa Tirta semakin membesar dalam hati Albi. Sangking penasarannya dia, tak ia hiraukan lagi kepergian bu Misah meski awalnya dia kesal dengan sikap bu Misah yang membiarkan istrinya berduaan dengan pria lain.
Albi langsung saja mengutarakan pertanyaan itu pada Tirta. Karena dia sungguh tidak sabar lagi sekarang. Hatinya sangat penasaran dengan siapa sebenarnya pria yang lumayan tanpa yang ada di hadapannya saat ini.
Pria itu ingin menyentuh tangan Dina. Albi langsung menghindar dengan cepat. Dia sungguh sangat kesal dengan sikap yang Tirta tunjukkan. Sedikit-sedikit, mau main sentuh saja. Bikin emosinya naik.
"Jangan main sentuh. Kamu dengan aku bukan makhrom."
Pria itu terdiam sesaat dengan tangan yang tertahan untuk menyentuh tangan Dina. Lalu, pria itu akhirnya memilih menarik tangannya kembali.
"Apakah kamu benar-benar lupa dengan aku, Dina? Atau ... kamu hanya marah padaku karena kejadian dua tahun yang lalu? Katakan saja jika kamu benar-benar marah. Aku tidak akan keberatan untuk menerima amarahmu sekarang."
Albi tentu saja semakin merasa bingung dengan apa yang pria itu katakan. Matanya menatap lekat ke arah pria itu.
__ADS_1
"Kejadian dua tahun yang lalu? Kejadian apa?" tanya Albi tidak bisa menahan rasa bingungnya lagi.
"Kamu benar-benar tidak tahu?" Tirta malah balik bertanya. Hal itu semakin membuat Albi yang kesal bertambah kesal.
'Pria ini sungguh menjengkelkan. Siapa sih dia sebenarnya? Kenapa Dina bisa bertemu dengan pria seperti dia? Dasar pria bodoh! Sudah jelas-jelas aku katakan kalau aku tidak tahu siapa dia. Eh, malah tidak percaya. Andai saja aku tidak terperangkap di tubuh Dina, mungkin aku sudah memukul wajahnya supaya dia tidak banyak bertanya padaku seperti apa yang dia lakukan barusan.'
'Tapi ... sebenarnya itu juga bukan salah dia sih. Diakan gak tahu kalau aku dan Dina sedang bertukar tubuh. Lagipula, jika aku tidak terperangkap di tubuh Dina saat ini, mana mungkin aku tahu apa yang sedang terjadi dengan Dina sekarang.'
Albi terus membatin. Memikirkan semuanya tanpa menghiraukan tatapan dari pria yang ada di dekatnya saat ini.
Sementara Tirta yang diabaikan oleh Albi, merasa tidak nyaman dengan suasana yang sedang tercipta. Dia pun memilih untuk mempercayai keadaan Dina saat ini. Keadaan yang masih membuatnya ragu untuk percaya.
"Dina, jika kamu benar-benar tidak ingat siapa aku, maka aku akan membuat kamu ingat denganku."
Pria itupun langsung menceritakan tentang hubungan mereka berdua pada Albi. Ternyata, Tirta dan Dina dibesarkan sama-sama di panti ini. Hubungan keduanya sangat dekat. Bahkan, lebih dekat dari saudara.
Namun sayangnya, Tirta pergi meninggalkan panti setelah dia menginjak usia dewasa. Sementara Dina tetap tinggal di panti ini sampai dia menikah dengan Albi.
"Lalu, ada kejadian apa dua tahun yang lalu? Kenapa Dina harus membenci kamu? Maksudku, kenapa Dina harus marah padamu?"
"Itu ... sebaiknya kamu tidak perlu tahu sekarang. Biarlah hal itu jadi kenangan buruk yang aku simpan sendiri."
"Kenapa begitu?"
"Karena kamu pasti semakin tidak suka padaku jika aku menceritakannya padamu. Sekarang saja kamu terlihat sedang benci aku, Dina. Lagipula, jika ingatan kamu pulih. Kamu juga akan tahu cerita buruk itu."
Albi memperhatikan pria itu dengan tatapan kesal. 'Tidak bisa begini. Aku harus tahu cerita Dina dan pria ini dua tahun yang lalu. Karena aku ingin tahu semua tentang istriku. Soalnya, jika aku tanya pada Dina, dia belum tentu mau bercerita soal siapa Tirta ini.' Albi bicara dalam hati.
__ADS_1