Bertukar Tubuh

Bertukar Tubuh
*Main Part 16


__ADS_3

Albi langsung menatap wajah sang istri dengan tatapan penuh penyesalan karena rasa bersalah yang sedang menguasai hati. Tatapan sendu itu membuat Dina tiba-tiba merasa sesuatu yang sedikit menggores hati.


Namun, Dina tidak ingin memperlihatkan apa yang dia rasakan saat ini. Karena perbuatan dan sikap Albi terhadapnya cukup membuat dia merasa kesal untuk saat ini.


Sementara itu, Albi yang sadar diri akan kesalahan yang selama ini dia perbuat terlalu besar. Dia tidak bisa memaksa Dina untuk tetap bersikap manis padanya sekarang.


"Maafkan aku, Dina. Aku tahu aku adalah suami yang tidak pantas untuk kamu sebut sebagai suami. Rumah tangga kita yang tidak harmonis adalah kesalahan dari aku. Kamu adalah istri terbaik yang tidak mungkin bisa aku temukan di manapun lagi," ucap Albi dengan wajah yang tertunduk lesu.


Karena wajah yang di penuhi rasa bersalah itu, hati lembut yang Dina miliki tidak kuat untuk tetap marah pada sang suami. Dina langsung menarik napas dalam-dalam, lalu melepasnya secara perlahan.


"Jangan menyalahkan dirimu sendiri, Mas Albi. Di sini, aku juga salah. Aku tidak bisa membuat kamu semakin mencintai aku setelah kita menikah. Pernikahan kita yang terlalu terburu-buru, mungkin adalah sebuah alasan yang tepat kenapa rumah tangga kita tidak harmonis selama ini."


Ucapan Dina barusan langsung membuat Albi mengangkat wajah seketika. Dia tatap wajah istrinya yang kini berada di dalam jasadnya sekarang.


"Tidak, Dina. Pernikahan kita yang terburu-buru itu bukanlah hal yang tepat jika untuk dijadikan alasan dari tidak harmonisnya rumah tangga kita. Namun, aku sebagai suami yang tidak baik adalah alasan yang sesungguhnya. Rusaknya hubungan kita karena aku yang tidak peka. Aku yang tidak perhatian, juga tidak pernah peduli dengan apa yang kamu rasakan. Aku sungguh menyesali semua itu."


"Mas .... " Dina merasa sedikit kasihan. Wajah penyesalan yang Albi perlihatkan sungguh menyentuh hati. Itu terlalu menyedihkan buat Dina.

__ADS_1


"Dina. Kita berdua bertukar tubuh. Aku sudah menghuni tubuh kamu sejak beberapa hari yang lalu. Aku sudah tahu semua yang kamu lewati selama ini. Ternyata, hidup yang kamu lalui sungguh sangat berat. Aku sungguh menyesal akan hal itu, Dina."


Ucapan itu langsung dibarengi dengan air mata yang mengalir secara perlahan. Hal itu langsung membuat Dina yang bingung, mengabaikan rasa bingung dalam hatinya. Dia seka air mata yang kini tumpah dari mata tubuhnya yang kini di huni sang suami.


"Mas, kenapa kamu menangis? Apa kamu merasa sungguh tersakiti ada di tubuhku?"


"Tidak. Aku tidak merasa tersakiti ada di tubuh kamu, Dina. Malahan, aku merasa senang. Karena dengan aku yang menghuni tubuh kamu, aku jadi tahu kebenaran yang selama ini tertutupi dari mataku. Aku jadi tahu, siapa istriku yang sesungguhnya."


"Lalu, kenapa kamu menangis? Apa setelah masuk ke dalam tubuhku kamu berubah jadi sangat cengeng seperti perempuan, Mas?"


Dina berucap dengan nada yang penuh dengan godaan. Hal itu membuat Albi merasa sedikit tenang.


"Aku tidak pernah marah padamu, Mas Albi. Aku hanya sedikit kesal saja. Kamu begitu tidak peduli dengan aku setelah kamu membawa aku ke rumah orang tuamu. Namun, aku juga sedikit maklum dengan sikap kamu padaku. Pernikahan kita yang tiba-tiba, mungkin membuat kamu harus menyesuaikan segalanya. Walau pada kenyataannya aku sadar, semakin hari, kamu semakin menjauh saja dari apa yang aku harapkan, Mas."


"Sekali lagi maafkan aku, Dina. Aku suami yang tidak bertanggung jawab pada istriku sendiri. Menikahi kamu adalah pilihan hatiku. Meski terkesan agak terburu-buru, tapi aku tidak pernah menganggap itu sebuah kesalahan. Karena pernikahan kita, bukan pernikahan yang dilakukan karena terpaksa, Dina. Melainkan, karena memang aku tertarik padamu sejak pandangan pertama."


Ucapan itu sedikit menyentuh hati Dina. Matanya tiba-tiba berkaca-kaca. Seakan, buliran bening ingin segera tumpah dari bendungan pelupuk mata.

__ADS_1


Ingatan masa lalu pun segera terbayang di mata mereka berdua. Awal pertemuan singkat yang pada akhirnya langsung membawa mereka pada sebuah ikatan suci yang dinamakan pernikahan.


Saat itu, mobil yang Albi kendarai tiba-tiba saja mogok di jalan. Medina yang biasanya selalu lewat dijalan tersebut setiap sore, tanpa sengaja bertemu dengan Albi di persimpangan.


Tepat saat itu, hujan turun perlahan. Albi yang kesal dengan mobilnya, tidak ingin menghentikan kegiatan mengecek mesin mobil meski hujan sedang turun dengan derasnya.


Medina yang melihat Albi sibuk sendiri tanpa ada perlindungan di bawah derasnya hujan, tanpa pikir panjang langsung memberikan jasa gratis dengan memayungi Albi. Tentu saja Albi langsung dibuat agak kaget dengan kehadiran Dina yang tiba-tiba itu.


Albi langsung mengangkat wajahnya untuk melihat siapa yang telah berani memberikan dia perlindungan di tengah derasnya hujan. Entah itu berani, ataupun berbaik hati, yang jelas, Albi awalnya tidak merasa tersentuh hingga akhirnya mereka berdua saling tatap.


Saat itulah, cinta pada pandangan pertama langsung berlabuh di hati mereka berdua. Cinta itu langsung berkembang saat mereka kembali dipertemukan dalam sebuah kejadian yang tak di sengaja. Di mana Albi yang baru saja patah hati karena di tinggal nikah oleh mantan pacar yang tak lain adalah cinta pertamanya, bertabrakan dengan Dina di taman kota yang cukup ramai.


Entah karena memang mencintai Dina, atau hanya karena ingin mencari tempat buat berlabuh, Albi langsung menyatakan cintanya pada Dina satu minggu setelah pertemuan kedua mereka. Lalu, dua bulan kemudian, Albi langsung melamar Dina di panti asuhan tempat Dina di besarkan.


Jalan pertemuan yang sangat singkat. Namun, Albi pada akhirnya sadar, kalau dia memang jatuh cinta pada Medina setelah dia menikahi istrinya itu. Tapi, hubungan keduanya hampir berakhir karena pengaruh orang yang ada di sekitarnya.


Albi berjanji, itu tidak akan pernah terjadi lagi. Tekadnya untuk membahagiakan Dina sudah bulat. Tidak akan dia biarkan siapapun merusak hubungan mereka berdua lagi.

__ADS_1


Sementara Dina, dia sesungguhnya memang sangat mencintai Albi sejak pandangan pertama. Albi adalah laki-kaki pertama yang mengisi hatinya. Yang mengajari dia tentang cinta. Meski cinta itu membuat hidupnya terasa cukup menderita akibat tersakiti. Tapi, karena cinta itu jugalah yang menjadi penyebab dia bertahan hingga sampai saat ini berada di samping Albi.


Ingatan masa lalu itu langsung berakhir ketika seorang suster datang ke ruangan tersebut. Albi terus menggenggam tangan Medina meski dengan keberadaan si suster di ruangan itu. Karena dengan menggenggam tangan sang istri, Albi sedikit merasa lebih tenang dari rasa bersalah yang dia alami saat ini.


__ADS_2