Bertukar Tubuh

Bertukar Tubuh
*Main Part 26


__ADS_3

"Mau nanya apa, Mas? Tanyakan saja! Aku usahakan tidak marah. Tapi .... "


"Medina .... "


"Iya, Mas. Iya aku gak akan marah. Tanyakan saja sekarang."


Albi tidak langsung berucap. Dia malah menatap lekat wajah Medina selama beberapa saat. Hal itu sampai membuat Medina harus memanggil namanya untuk mendengar apa yang ingin dia tanyakan. Karena dia juga sedikit merasa penasaran dengan apa yang ingin suaminya katakan.


"Mas."


"Iy--iya." Albi berucap gelagapan akibat kaget.


"Katanya kamu mau bertanya. Tapi kok malah diam sambil menatap wajahku. Kenapa? Apakah saat aku ada di tubuhmu, kamu merasa wajahmu jadi semakin tampan? Atau ... kamu malah merasa sebaliknya lagi, Mas."


Medina malah kembali bercanda. Hal itu langsung membuat suasana tegang karena keseriusan yang Albi bangun lenyap seketika.


"Kamu ini ya. Bercanda lagi, bercanda lagi. Sejak kapan sih kamu suka bercanda seperti ini, Din?"


"Sejak aku ada di tubuh kamu, Mas. Sejak itu aku merasa, kalau tubuh ini harus sering-sering tertawa agar wajahnya tidak cepat tua."


"Medina. Kamu ya .... Kamu, secara gak langsung kamu bilang aku jarang tertawa dong kalo gitu. Dasar istri nakal kamu, Dina."


"Nggak kok, Mas. Aku nggak nakal sedikit."


"Iya, nggak nakal sedikit tapi nakal banyak. Itukan yang kamu maksudkan."

__ADS_1


"Kok kamu tahu?"


"Aku tahu karena aku ... aku selalu menyimpan kamu dalam hatiku meski hubungan kita rusak kemarin-kemarin."


Albi berucap dengan nada pelan seperti sedang memikirkan sesuatu. Sebuh rasa penyesalan yang mungkin sedang kembali menghampiri hatinya saat dia mengucapkan kata-kata tentang hubungan mereka yang sebelumnya sudah berantakan.


Hal itu tentu saja Dina pahami. Karena dia juga merasakan hal yang tidak nyaman saat membicarakan soal hubungan mereka yang tidak baik sebelumnya.


"Ah, ya sudahlah, Mas. Jangan diingat lagi soal yang sudah lewat. Sekarang, mari kita tata masa depan agar lebih baik. Oh iya, kamu mau bertanya soal apa tadi, Mas? Kok masih belum kamu utarakan padaku sekarang? Jangan bikin aku menyimpan rasa penasaran terlalu lama lho, Mas. Nanti aku bisa jerawatan. Dan wajah kamu yang mulus ini akan dapat akibatnya," ucap Medina dengan nada penuh candaan.


Pengalihan topik pembicaraan itu tentu saja berhasil dengan sempurna. Karena Albi yang mendengar apa yang Dina katakan langsung tertawa pelan sambil menggeleng-geleng kan kepala dengan pelan.


"Kamu bisa aja, Dina. Kamu ini ya," ucap Albi sambil mengacak-acak pucuk kepala Dina dengan lembut. "Dasar istri nakal. Bisa saja bikin ulah dalam setiap suasana." Albi kembali berucap dengan senyum manis di bibirnya.


"Sebenarnya tidak ada yang penting yang ingin aku tanyakan padamu, Dina. Aku hanya ingin bertanya, kenapa kamu selama ini tidak pernah ingin aku ajak ke dokter untuk periksa kesehatan. Bukan apa-apa. Aku hanya ingin melihat kondisi kesehatan kita berdua saja. Sekalian, aku ingin mencari solusi atas masalah keturunan yang masih belum bisa kita dapatkan. Itu saja."


"Ma--maaf, Dina. Aku sudah bilang padamu sebelumnya, bukan? Jangan marah. Aku tidak bermaksud lain selain ingin memastikan saja. Tolong jangan salah paham ya."


"Kenapa kamu jadi takut seperti itu, Mas Albi? Aku tidak marah kok. Aku juga tidak sedang berpikir yang tidak-tidak atas apa yang kamu katakan. Tapi, aku hanya kaget saja saat mendengar apa yang kamu katakan. Kamu bilang kamu ingin ajak aku periksa, tapi sejak awal, kamu tidak pernah mau bawa aku ke dokter. Selalu saja ada halangan nya saat aku sudah siap. Aku pikir, kamu yang sengaja melakukan hal itu padaku agar aku tidak curiga dengan kamu, Mas."


"Apa? Maksud kamu apa barusan? Aku ... tidak, ini tidak benar, Dina. Ini jelas-jelas kita berdua yang sudah dipermainkan oleh seseorang."


Dina langsung memasang wajah bingung.


"Siapa yang sudah mempermainkan kita, Mas Albi?"

__ADS_1


"Seseorang. Ah, tapi sudahlah. Tidak boleh sembarangan menuduh sekarang. Karena menuduh tanpa bukti itu sama saja dengan memfitnah. Ya sudah, kita lupakan dulu soal itu untuk saat ini. Lupakan soal permasalahan rumah tangga kita. Kamu fokus aja sama kesehatan kamu. Setelah kamu sembuh, kita akan susun rencana balasan buat mereka yang sudah membuat kita menderita. Bagaimana?" tanya Albi mantap penuh ambisi.


Ucapan itu malah membuat geli hati Dina. Dia malah tertawa lepas sambil menutup mulutnya agar tidak benar-benar terbuka lebar.


Albi yang melihat istrinya tertawa, malah memberikan tatapan bingung.


"Kenapa tertawa kamu, Dina? Apa ada yang lucu, hm?"


"Tentu saja ada, Mas. Kalo nggak, mana mungkin aku bisa tertawa lepas seperti ini," ucap Dina sambil terus menahan tawanya.


"Katakan padaku bagian mana yang lucu! Jangan coba-coba tertawa sendiri. Itu tidak asik, Dina."


"Aku menertawakan ucapan kamu yang tadi. Ucapan yang penuh dengan ambisi itu terdengar dangat lucu, Mas Albi. Kamu ingin membalas apa yang sudah kita hadapi. Kamu lupa? Yang sudah bikin kita menderita itu bukan orang lain lho, Mas. Tapi mama kamu. Mama yang sudah melahirkan kamu. Bagaimana caranya kamu mau balas mama kamu sendiri coba?"


"Kamu ini. Untuk hal itu, serahkan saja padaku. Aku tahu apa yang harus aku lakukan. Aku tahu di mana batasan ku sebagai seorang anak, Medina. Kamu tenang saja."


"Kamu yakin, Mas?" tanya Dina penuh dengan selidik.


"Yakin. Bahkan sangat yakin sampai seribu persen."


"Ya ... ya sudah kalo gitu. Aku hanya bisa ngikutin apa yang kamu katakan saja. Jika kamu bilang kamu tahu mana yang terbaik, maka aku yakin kamu memang benar-benar tahu, Mas."


"Terima kasih sudah mau mempercayai aku sepenuhnya, Medina. Kamu memang istri terbaik yang aku punya." Albi berucap sambil tersenyum. Lalu, dia menjatuhkan sebuah ciuman di kening Medina.


Medina yang menerima ciuman itu hanya tersenyum kecil saja. Tanpa bersuara, dia menerima sedikit kehangatan yang sebelumnya telah hilang dari hidupnya.

__ADS_1


Sementara itu, di sisi lain. Tepatnya di restoran bagian samping rumah sakit, Sela dan mama Albi sedang duduk dengan wajah kesal. Mereka sudah duduk selama beberapa saat di sana dengan wajah yang tetap sama. Wajah marah dan kesal yang terlihat sangat jelas.


"Ini tidak bisa kita biarkan, Tante. Albi tidak bisa bersikap tegas seperti itu pada tante. Tante itu mamanya, dia harus nurut dong apa yang tante katakan. Bagaimana sih Albi ini?" Sela berucap dengan nada sedang berusaha untuk membangkitkan emosi mama Albi lagi.


__ADS_2