Bertukar Tubuh

Bertukar Tubuh
*Main Part 24


__ADS_3

"Albi! Mama kecewa ya sama kamu. Benar-benar tidak habis pikir mama sama kamu, Al. Kamu ... kamu sungguh sangat mengecewakan mama. Berani sekali kamu bentak mama hanya karena perempuan ini," ucap mama Albi sambil menuding Dina.


"Perempuan yang sudah merusak segalanya yang kamu punya. Kerjaan, hubungan baik dengan orang yang baik. Termasuk, hubungan baik kamu sebagai anak dengan aku yang jelas-jelas mama kandung yang sudah melahirkan kamu, Al."


"Dina gak salah, Ma. Dia tidak pernah ingin merusak apapun yang aku punya. Tidak pernah merusak pekerjaan, apalagi hubungan baik. Dia perempuan yang baik. Istri terbaik yang aku punya. Mampu bersabar dalam melalui semua masalah yang sudah terjadi selama ini. Jadi, sudahi penderitaan yang dia rasakan selama ini. Tolong," ucap Dina dengan suara pelan tapi penuh dengan harapan.


Pembelaan demi pembelaan membuat sang mama tidak bisa berkutik lagi. Dia ingin marah, tapi sayangnya tidak bisa. Ingin meluapkan apa yang dia rasakan, namun tidak punya tempat.


Hingga pada akhirnya, dia memilih menatap Dina dengan tatapan tajam.


"Puas kamu sekarang, Dina? Kamu sudah berhasil mencuci otak anak saya. Sekarang, dia sudah tidak ingin mendengarkan apa yang saya katakan lagi. Kamu puas sekarang, bukan? Berbahagialah! Karena sekarang kamu sudah menang," ucap mama Albi di hadapan Dina yang tak lain adalah anaknya sendiri.


Setelah mengucapkan kata-kata itu, mama Albi langsung meninggalkan Dina dengan cepat. Tanpa menunggu jawaban terlebih dahulu tentunya.


Sela yang melihat hal itu langsung berinisiatif untuk menyusul. Dia berjalan cepat sambil memanggil mama Albi.


"Tante. Tunggu aku, Tan! Tante mau ke mana?"


"Mau pergi. Karena aku tidak di butuhkan lagi di sini."

__ADS_1


"Tante, sabar. Aku yakin kalo Albi gak maksud buat gak dengerin omongan tante kok, Tan."


"Kenyataan begitu, Sel. Dia sudah gak anggap aku mamanya lagi sekarang. Karena di sisinya, sudah ada orang yang lebih penting dari aku," ucap mama Albi sambil melirik anaknya.


"Gak gitu kok, tante." Sela berusaha membantah. Lalu, dia melihat ke arah Albi dengan penuh harap.


"Al, katakan sesuatu buat nahan mama kamu. Jangan bikin mama kamu kecewa dengan sikap kamu. Aku yakin, kalian itu hanya salah paham saja. Kalian hanya emosi sekarang. Jangan biarkan emosi menguasai diri kalian."


Sela berucap seolah-olah dia adalah orang bijak diantara mereka semua. Berusaha untuk mempertahankan hubungan antara anak dengan ibu supaya tidak hancur.


Namun sayangnya, Dina yang kini menguasai tubuh Albi tidak akan tertipu dengan tipu muslihat yang keduanya mainkan. Tekadnya untuk melawan sudah bulat. Jadi, apapun yang terjadi, dia akan tetap maju tanpa mundur sedikitpun. Tidak akan dia hiraukan apapun yang sedang menghalangi. Termasuk, kemarahan Albi sekalipun. Tetap tidak akan dia hiraukan.


"Maaf Sela. Aku memang sedang emosi sekarang. Tapi untuk menahan mama tetap tinggal di sini dengan cara mengikuti apa yang mama katakan, aku tidak akan pernah bisa. Karena sekarang, akan ingin mempertahankan pernikahanku yang hampir putus. Jadi, tidak ada yang lebih penting dari hal itu." Dina berucap mantap.


Karena rasa kesal juga rasa kecewa yang terlalu tinggi. Mama Albi langsung saja meninggalkan ruang tersebut setelah mengentak kan kaki dengan keras.


Sementara Sela yang juga merasa kecewa dengan kegagalan yang baru saja dia rasakan, juga ikut menyusul kepergian mama Albi meninggalkan ruangan tersebut. Namun, sebelum pergi Sela sempat berucap beberapa buah kata.


"Aku kecewa sama kamu, Al. Ternyata, hubungan pernikahan kamu anggap lebih penting dari hubungan antara ibu dengan anak. Sungguh aku gak habis pikir dengan kamu, Albi," ucap Sela dengan tatapan yang di penuhi rasa kecewa.

__ADS_1


"Kenapa harus kecewa, Sela? Seharusnya kamu mengerti dengan keputusan yang sudah aku ambil. Karena tidak akan ada yang namanya mantan mama di dunia ini. Sementara mantan istri banyak. Jadi, aku harus tetap mempertahankan hubungan pernikahan aku dengan Dina sebisa aku. Karena aku gak ingin dia jadi mantan istriku selagi aku mampu."


Mendengarkan ucapan itu, Sela yang kesal semakin bertambah kesal saja. Dia pergi tanpa menjawab kata-kata yang Dina ucapkan terlebih dahulu.


Kini, di ruangan itu hanya ada Dina dan Albi. Keduanya terdiam selama beberapa saat setelah kepergian Sela dan sang mama. Hingga pada akhirnya, Albi yang berusaha memulai obrolan antara mereka berdua.


"Dina, apa kamu sudah memikirkan ulang semua itu sebelum kamu ucapkan? Kamu sedikit berlebihan barusan, Dina."


"Aku tahu kamu pasti marah, Mas. Tapi, aku harus melakukan itu agar aku bisa mempertahankan ikatan pernikahan kita yang sebelumnya hampir putus karena ulah mama kamu. Selagi aku berada di tubuh kamu sebagai suami, aku berhak memutuskan hal itu sekarang," ucap Dina mantap tanpa takut apalagi merasa bersalah sedikitpun.


Albi tidak menjawab. Dia malahan menatap Dina dengan tatapan lekat.


"Kamu yakin dengan apa yang sudah kamu lakukan tadi, Din? Kamu yakin semua itu benar?"


"Tentu saja aku yakin, Mas. Karena selama ini, sikap mama kamu buruk terhadap aku itu karena ulah kamu juga. Kamu yang tidak pernah membela aku dihadapan mama kamu. Kamu yang tidak pernah menganggap aku penting di depan mama kamu. Maka karena itulah, mama kamu bisa bersikap semena-mena terhadap aku. Coba saja kamu sedikit lebih tegas dalam menghadapi mama kamu selama ini. Maka sikap mama kamu terhadap aku itu juga tidak akan seperti sebelumnya."


Albi terdiam. Dia bukan diam karena takut akan ucapan Dina barusan. Namun, dia di karena ucapan Dina itu sangat dibenarkan oleh benaknya.


Dirinya memang tidak pernah membela sang istri dihadapan mamanya. Malahan, terkadang, dia sendiri yang menunjukkan rasa kesal pada sang istri saat mamanya mengata-ngatai istrinya.

__ADS_1


"Maafkan aku jika sikapku agak keterlaluan, Mas Albi. Jika kamu tidak suka, atau marah. Aku juga maklum. Jadi kamu itu terasa sedikit sulit karena dihadapan kan dengan dilema dua pilihan antara istri juga mama yang telah melahirkan kamu ke dunia ini. Namun, ketegasan juga harus kamu utamakan. Jangan biarkan mama kamu beranggapan apa yang dia lakukan itu benar selamanya dengan kamu diam dan terus menurut saja. Jika salah, maka kamu harus menentangnya. Meski itu terdengar tidak pantas kamu lakukan karena kamu seorang anak."


Dina berucap dengan suara kesal dan wajah yang berpaling ke arah lain. Dia tahu dia memang agak sedikit keterlaluan tadi. Tapi jika tidak begitu, maka mama mertuanya pasti tidak akan tinggal diam dan pasti akan terus memaksa dia untuk bercerai dengan suaminya.


__ADS_2