
Albi pun langsung menuju rumah sakit bersama bibi. Ucapan bibi memang sudah membuka mata hatinya yang telah tertutup. Dia sadar, dia memang bukan anak yang berbakti.
Sampai di rumah sakit, Albi langsung melihat keadaan sang mama yang memang sangat parah. Dokter bilang, mamanya mengalami patah tulang. Keadaan sang mama juga saat ini sangat memprihatinkan.
"Mama anda sudah keluar dari masa kritisnya. Namun, itu tidak bisa membuat hati lega. Karena keadaan mama anda bisa kembali memburuk kapan saja."
Penjelasan dokter membuat tubuh Albi melemah. Hatinya kini bercampur aduk dengan rasa sedih, kesal, juga marah. Sedikit penyesalan juga menyalahkan diri sendiri. Itulah yang Albi rasakan saat ini.
"Apa yang terjadi, Ma? Kenapa bisa sampai seperti ini?" tanya Albi lirih sambil memegang tangan mamanya.
Berjam-jam Albi di samping sang mama. Kini dia ingat akan satu hal. Lalu, dia menitipkan mamanya pada bibi yang juga masih tetap berada di sana.
"Aku titip mama, Bik. Jaga mama dengan baik. Jangan biarkan orang asing berada di sekitar mama. Termasuk, Sela."
"Tapi den. Mbak Sela bukan orang asing. Mbak Sela itu .... "
"Ikuti saja apa yang aku katakan. Bibi bekerja dengan kami, kan? Bukan dengan Sela. Atau jangan-jangan, bibi bekerja untuk Sela lagi."
"Enggak kok, Den Albi. Bibi bekerja untuk Den Albi dan nyonya Laras."
__ADS_1
Terlihat wajah tegang saat ini. Bibi juga terlihat agak kesal. Tapi tidak bisa menunjukkan apa yang dia rasa pada Albi. Karena Albi adalah anak majikannya.
"Ya kalau begitu, ikuti apa yang aku katakan. Apa yang aku katakan tidak sulit bukan?"
"Tidak. Tapi .... "
"Tapi apa lagi, bik? Permintaan aku itu tidak sesulit apa yang mama dan Sela minta. Bibi saja bisa mengikuti apa yang mama katakan. Ngerjain istriku yang jelas-jelas juga majikan bibi. Sedangkan untuk Sela, dia bukan siapa-siapa. Masa nggak bisa."
Tentu saja ucapan itu langsung membuat mata si bibi membelalak akibat kaget. Tangannya gemetaran saat ini. Wajahnya pucat dengan sedikit keringat yang mulai muncul.
"Kenapa, Bik? Kaget? Takut? Kalian pikir aku tidak tahu apa yang kalian lakukan pada istriku saat aku tidak ada. Heh? Kalian terlalu dangkal berpikir."
"Aku tidak punya waktu untuk mendengarkan penjelasan bibi lagi. Karena aku sudah tahu apa yang ingin bibi katakan. Bibi mau bilang kalau bibi hanya melakukan tugas bibi sebagai orang yang mamaku bayar, kan? Aku akan maklum. Tapi ingat jika bibi melakukan hal yang sama lagi. Aku akan jebloskan bibi ke penjara dengan tuduhan yang bisa menjerat bibi sampai tidak bisa keluar lagi."
"Jangan Den Albi. Bibi mohon jangan," ucap bibi dengan wajah yang penuh air mata karena ketakutan.
"Bibi tahu apa yang harus bibi lakukan. Aku permisi dulu. Jaga mama dengan baik."
Albi langsung beranjak meninggalkan ruangan tersebut. Tujuannya kali ini adalah rumah sang mama. Dia ingin melihat apa yang sudah terjadi dengan mamanya. Ada hal yang mengganjal dalam hati Albi tentang penyebab dari jatuhnya sang mama.
__ADS_1
Dia ingat, rumah mereka dia pasang cctv secara sembunyi-sembunyi waktu itu. Tepatnya, saat Medina baru sadar dari koma karena dia ingin membuat bukti akan kelakuan sang mama dengan istrinya.
Tapi sayang, sang istri yang sakit hati tentu saja tidak bersedia pulang ke rumah. Karena itu, usaha Albi untuk membuat bukti gagal begitu saja. Tapi tak dia sangka, apa yang dia lakukan itu ada manfaatnya juga.
Albi masuk ke ruang kerjanya. Dia langsung memeriksa rekaman cctv dari pagi hingga dia menemukan kedatangan Sela ke rumah. Selanjutnya, mata Albi langsung membulat saat melihat kejadian yang sungguh menyayat hati. Sela adalah pelakunya.
"Sela! Kau .... " Albi tidak bisa melanjutkan ucapannya lagi.
Darahnya mendidih karena melihat kejadian itu. Amarahnya meledak bak gunung merapi yang siap memuntahkan lahar panas sekejap itu juga.
"Biadab kamu Sela! Sungguh kamu bukan manusia ternyata. Kau ... aku akan buat kamu membayar semua ini. Kau tidak pantas hidup dengan baik sekarang."
Rekaman itu Albi salin ke gawai nya. Lalu, dia bergegas meninggalkan rumah. Tujuan Albi sekarang adalah kantor polisi. Dia akan melaporkan Sela dengan tuduhan pembunuhan berencana.
Sementara itu, Albi yang sibuk lupa dengan janjinya pada Medina. Sekarang, Medina sedang berada di panti asuhan tempat di mana ia dibesarkan. Albi berjanji akan menjemput Medina pulang.
Meski hubungan mereka masih belum membaik seperti sebelumnya. Tapi usaha besar yang Albi lakukan sekarang sudah menunjukkan hasil. Hati Medina sudah sedikit melembut. Dia sudah mau diajak bicara oleh Albi.
Namun, karena janji yang tidak Albi tepati kali ini kembali menumbuhkan rasa kesal dalam hati Dina. Dia sepertinya sedang sangat marah. Wajahnya saja terlihat memerah sekarang.
__ADS_1