
Suara lantang mama Albi terdengar memenuhi ruangan. Albi yang sedari tadi menguping, tentu saja tidak bisa mengabaikan panggilan itu. Diapun beranjak meninggalkan ranjangnya.
"Ada apa, Ma?"
Pertanyaan itu membuat mamanya menatap tajam ke arah Albi yang baru saja muncul dari balik tirai. Sementara Sela, langsung membuang muka ke arah lain karena merasa tidak suka dengan kehadiran Albi yang kini sedang berada di tubuh Dina.
"Ada apa ada apa. Jangan pura-pura lugu dan polos deh kamu perempuan. Kamu udah dengarkan apa yang kami bicarakan? Jadi, untuk apa basa-basi buat bertanya lagi?"
Ucapan bernada kesal itupun langsung membuat Albi menatap wajah mamanya. Dia merasa bingung dengan sikap sang mama yang entah kenapa selalu saja tidak pernah merasa senang dengan apa yang istrinya lakukan.
'Ya Tuhan. Ini mamaku yang sesungguhnya? Kenapa dia tidak pernah bisa bersikap sedikit saja lembut pada Dina? Aku rasa, tidak ada sedikitpun kesalahan yang aku perbuat sebelumnya. Tapi kenapa, dia langsung memarahi aku setiap kali bertatap muka? Sungguh malang nasib Dina kalau seperti ini caranya.'
"Heh! Kenapa diam kamu hah? Aku bicara dengan kamu, tapi kenapa kamu malah menatap aku? Apa kamu mulai bisa melawan sekarang?"
"Tante, udahlah. Jangan marah-marah terus." Sela langsung jadi penengah.
Entah apa yang salah dengan Sela kali ini, bisa-bisanya dia menjadi penengah sekarang. Tapi, hal itu malah membuat Albi merasa ada yang janggal dengan sikap Sela sekarang.
"Eh, kok kamu tumben ngebelain dia, Sel? Ada apa sih dengan kamu ini?" tanya mama Albi dengan wajah penasarannya.
Pertanyaan itu langsung mewakili pertanyaan yang ada di dalam hati Albi. Ternyata, bukan hanya Albi saja yang merasakan kejanggalan itu. Mamanya juga ternyata ikut merasakan hal tersebut.
"Gak ada apa-apa, tante. Hanya gak ingin tante cepat tua aja. Lagian, ini rumah sakit, bukan? Dan kita juga butuh dia buat jagain Albi nanti malam. Jadi, gak perlu marah-marah dengan orang seperti dia. Karena kita bisa manfaatin dia untuk kepentingan kita."
__ADS_1
Kata-kata itu cukup membuat bingung hati orang yang kenal dengan Sela. Namun, tidak juga bisa menarik kesimpulan yang lain dari kata-kata itu. Hanya bisa menyimpan rasa curiga sedikit saja.
"Oh iya, aku harus pergi sekarang, tan." Sela berucap sesaat setelah dia melihat jam di tangan kirinya.
"Kamu mau pergi sekarang?" tanya mama Albi memastikan lagi.
"Iya."
"Tante nebeng kamu ya, Sel. Sampai jalan depan aja. Mobil masih di bengkel soalnya. Lagian, tante males buat pesan taksi online sekarang. Jam segini pasti banyak taksi yang penuh."
"Aduh, gak bisa tante. Aku dijemput teman soalnya. Tante lupa? Aku juga kan gak bawak mobil tadi."
"Oh, udah ya, tan. Aku pergi sekarang. Sampai jumpa besok."
"Ada apa sih dengan anak itu? Aneh banget dia sekarang," ucap mama Albi sambil melihat pintu.
Sebenarnya, dia bicara sendiri. Karena dia lupa, kalau saat ini, ada Albi yang sedang berada di tubuh Dina sedang melihat semua yang terjadi di ruangan itu.
"Ada hal yang dia sembunyikan, Ma. Jika ingin tahu, ikuti saja dia. Maka mama akan tahu perempuan seperti apa calon menantu pilihan mama itu." Albi berucap santai dengan nada penuh ejekan untuk mamanya sendiri.
Hal itu bukannya di sambut baik oleh sang mama. Tapi malah di sambut dengan kekesalan juga amarah.
"Diam kamu! Tahu apa kamu tentang Sela, hah! Dia jauh lebih baik dari pada kamu. Dia cocok untuk Albi. Tidak seperti kamu. Perempuan terbuang pembawa sial. Hanya menyusahkan anakku lagi dan lagi saja."
__ADS_1
"Dina tidak pernah menyusahkan Albi, Ma. Malahan, sebaliknya. Albi yang selalu menyusahkan Dina. Dina perempuan baik-baik, Ma. Jauh lebih baik dari pada Sela yang mama bilang baik itu, Ma. Mama .... "
"Cukup! Apa kamu sadar dengan apa yang baru saja kamu katakan, Dina!? Kamu bilang diri kamu lebih baik dari Sela? Hah ha ha ha ... aku rasa kamu memang sudah semakin tidak waras lagi sekarang. Bisa-bisanya kamu bandingkan diri kamu dengan Sela. Dan, malahan bilang Albi yang selalu menyusahkan kamu. Lihat saja kamu nanti, setelah Albi bangun, aku akan katakan semuanya pada Albi. Lihat saja!"
Albi tidak bisa berucap lagi. Karena terlalu kesal, dia sampai lupa kalau saat ini yang sedang berhadapan dengan mamanya adalah Dina. Bukan tubuh aslinya. Sementara mama Albi, dia langsung beranjak setelah berucap kata-kata itu.
Namun, baru juga beberapa langkah mamanya meninggalkan tempat. Wanita paruh baya itu kembali menghentikan langkah kaki. Lalu, langsung menoleh ke arah di mana Albi berdiri.
"Ingat Dina! Selamanya, aku tidak akan pernah menyukai kamu, apalagi merestui kamu jadi menantuku. Itu adalah hal mustahil. Kamu mengerti?"
"Jadi, jangan pernah berpikir terlalu banyak untuk bisa menjadi istri dari anakku lebih lama lagi. Karena aku akan lakukan segala cara agar hubungan kalian berdua berakhir secepatnya."
"Untuk malam ini, aku akan berikan kamu kesempatan terakhir buat menjaga Albi, Dina. Karena besok, setelah kamu keluar dari rumah sakit ini, kamu tidak akan pernah aku izinkan bertemu dengan Albi lagi. Dan aku akan pastikan, setelah Albi bangun, kamu akan langsung dia ceraikan."
Setelah berucap kata-kata yang cukup panjang, mama Albi langsung beranjak meninggalkan ruangan tersebut. Sebenarnya, Albi ingin menjawab apa yang mamanya katakan. Tapi sayangnya, sang mama tidak sedikitpun memberikan dia kesempatan untuk mengangkat bibir buat bicara.
Albi pun tidak ingin berdebat terlalu panjang lagi dengan sang mama. Karena kesempatan emas yang dia punya sekarang, lebih membahagiakan hati dari pada memikirkan apa yang baru saja dia hadapi.
"Dina sayang, aku tidak tahu entah apa yang membuat mama begitu tidak suka padamu. Tapi sayangnya, aku baru menyadari hal itu sekarang. Setelah aku berada di tubuhmu. Aku sungguh menyesali kebodohan yang aku miliki kemarin-kemarin. Tidak mengerti dan juga tidak ingin tahu dengan apa yang sudah kamu alami selama ini. Maafkan aku, sayang," ucap Albi sambil memegang erat tangan Dina.
Albi terus memikirkan hal apa yang bisa membuat sang mama begitu benci dengan Dina. Semua kemungkin, dia pikirkan dengan tenang sambil menemukan alasan dari apa yang sedang dia pikirkan.
"Apa karena mama ingin aku menikah dengan Sela? Maka dari itu dia benci dengan Dina."
__ADS_1
Albi berucap pada dirinya sendiri.