Bertukar Tubuh

Bertukar Tubuh
*Main Part 11


__ADS_3

Albi pun langsung menatap suster tersebut dengan tatapan yang tak percaya. Bagaimana tidak? Dia sungguh tak habis pikir dengan ulah Sela saat ini. Sungguh, Sela ternyata lebih sadis dari apa yang dia dengar dari mulut istrinya.


"Benarkah perempuan itu bilang begitu, Sus?" Albi bertanya hanya untuk memastikan saja. Menguatkan hatinya tentang apa yang dia pikirkan tentang Sela.


"Iya, mbak. Perempuan itu mengatakan kalau dia adalah istri sah dari pasien. Dan, mbak yang kecelakaan bersama dengan pasien adalah selingkuhan dari suaminya."


"Perempuan itu juga minta pada kami untuk memperlakukan mbak dengan buruk. Namun, sebagai pelayan kesehatan untuk umum, kami tentu tidak bisa melakukan apa yang perempuan itu inginkan. Karena tugas kami, melayani pasien rumah sakit ini dengan sepenuh hati. Bukan melakukan tugas balas dendam karena masalah pribadi."


Luar biasa. Penjelasan itu membuat Albi tak mampu berucap sepatah katapun untuk menjawab apa yang suster itu katakan. Karena dia sangat kaget dengan penjelasan dari sister tersebut sampai dia lupa apa yang ingin dia ucapkan.


Sementara si suster yang melihat Albi diam mematung, langsung angkat bicara lagi.


"Ya sudah, mbak. Jangan terlalu dipikirkan apa yang baru saja saya katakan. Sekarang, mbak minum obat ini supaya lekas sembuh," ucap suster itu berusaha mengalihkan perhatian Albi dari apa yang baru saja terjadi. Suster itu juga memberikan Albi obat yang sudah dia siapkan beberapa saat yang lalu.


Albi pun menerima obat itu dengan cepat. Namun, masih dengan keadaan yang sama. Tidak berucap sepatah katapun karena masih syok dengan apa yang dia dengar.


"Ya sudah, mbak. Saya permisi sekarang. Mbak istirahat dengan baik supaya bisa cepat pulih ya."


Setelah berucap kata-kata itu, suster tersebut ingin langsung meninggalkan Albi. Namun, dengan cepat tangan Albi menahan tangan suster itu.


"Tunggu, Sus! Saya ingin tahu bagaimana keadaan suami saya. Suster belum menjelaskan keadaannya pada saya, bukan?"


"Oh, maafkan saya. Saya mendadak jadi lupa akan hal itu, mbak."


"Kondisi pasien yang ada di sebelah cukup memprihatinkan, mbak. Luka benturan yang pasien alami terlalu serius sampai membuat pasien kehilangan banyak darah dan koma. Dan ... menurut prediksi tim medis, kemungkinan pasien cacat itu cukup besar."

__ADS_1


"Apa! Cacat?" Sontak, Albi jadi kaget bukan kepalang dengan penjelasan yang suster itu berikan. Matanya melebar sangking kagetnya dia akan penjelasan tersebut.


"Iya. Cacat, atau lebih tepatnya. Pasien akan lumpuh. Tapi, ini hanya kemungkinan saja, mbak. Itu tidak pasti. Kita hanya perlu menunggu pasien sadar untuk memastikan kemungkinan itu."


"Kapan dia akan sadar, suster? Apakah akan lama untuk dia bisa bangun dari komanya?"


"Untuk itu, kami masih belum tahu, mbak. Karena kami tidak bisa memprediksi kapan pasien akan sadar. Mungkin bisa lusa, minggu depan, atau bahkan tahun depan, mbak. Yang jelas, kemungkinan sadar itu pasti ada."


'Tidak. Dina tidak boleh koma selama itu. Dia sudah cukup menderita selama ini, Tuhan. Tolong, jangan tambah penderitaannya lagi. Aku mohon. Kasihan dia,' kata Albi dalam hati sambil menatap sayu lurus ke depan.


"Ya sudah, mbak. Jika tidak ada pertanyaan lagi, saya pamit. Selamat beristirahat, mbak."


"Iy--iya. Terima kasih banyak atas penjelasannya, Sus."


Untuk beberapa saat lamanya, Albi terdiam dengan pikiran yang berkelana entah ke mana. Hingga pada akhirnya dia sadar akan apa yang harus dia lakukan. Albi pun turun kembali dari ranjangnya.


Suasana ruangan itu terdengar sepi. Albi pun berusaha memastikan keadaan terlebih dahulu sebelum melakukan apa yang ingin dia lakukan.


Albi mengintip dari gorden pembatas antara ranjangnya dengan ranjang Dina. Itu dia lakukan untuk memastikan keberadaan mamanya juga Sela.


Saat melihat tubuhnya terbaring sendirian, Albi pun bergegas menghampiri tubuh itu. Dia tatapan tubuh yang terbaring tak berdaya itu dengan tatapan iba. Bunyi alat pemacu jantung berdetak menghiasi suasana.


Albi mengambil tangan tubuhnya yang sekarang di huni sang istri dengan penuh kasih sayang. Dia cium tangan itu dengan lembut.


"Dina, aku tahu kamu pasti sedang menempati tubuh ini, sayang. Aku yakin, kamu pasti bisa mendengarkan apa yang sedang aku katakan. Untuk itu, bangunlah istriku! Bangunlah sekarang juga. Kita lawan mereka yang sudah jahat pada kita secara bersama-sama. Sekarang, kamu tidak akan sendirian lagi. Ada aku di samping kamu, sayang."

__ADS_1


Albi berucap dengan nada sangat lembut sambil satu tangan membelai ujung rambut Dina. Sedangkan tangan yang lainnya sedang menggenggam erat tangan Dina dengan penuh kasih.


"Maafkan aku, sayang. Selama ini aku sudah menutup mata dan telinga atas semua yang kami alami. Aku suami yang terlalu naif. Tidak mempercayai apa yang kamu katakan. Tapi malah mempercayai kebohongan yang aku lihat. Sungguh, aku sangat menyesali semua kekhilafan yang sudah aku perbuat."


"Sadarlah, Sayang. Aku mohon, sadarlah. Aku sangat ingin memperbaiki kesalahan yang sudah aku lakukan. Dan, aku juga sangat ingin membahagiakan kamu untuk menebus semua kesalahan yang sudah aku perbuat."


Namun, belum sempat Albi mengutarakan semua isi hatinya. Pintu ruangan itu langsung terbuka dengan memunculkan mamanya dari pintu tersebut.


Sang mama langsung memperlihatkan wajah kesal dan marah ketika melihat Albi yang kini sedang duduk di kursi samping ranjang Dina. Mata sang mama melebar seakan ingin menerkam Albi untuk dia santap.


"Apa yang kamu lakukan di situ, Dina!? Menjauh lah dari anakku. Kau sungguh pembawa sial yang selalu membuat anakku kesulitan."


"Apa yang mama katakan, Ma? Aku tidak pernah merasa disulitkan oleh dia."


"Heh! Kau memang tidak pernah merasa disulitkan oleh anakku. Karena yang menyulitkan anakku itu kamu, bukan malah sebaliknya."


Saat kata-kata itu menyentuh kupingnya, Albi baru ingat akan bertukar tubuh dengan sang istri. Dia merasa kesal tadinya sampai lupa akan hal bertukar tubuh ini.


'Ah, ya Tuhan. Aku lupa kalau aku sedang berada di tubuh, Dina. Untung mama tidak ngeh dengan apa yang aku katakan barusan. Huhf! Untung saja,' ucap Albi dalam hati.


Namun, belum sempat Albi selesai dengan apa yang dia pikirkan, sang mama malah sudah berada di sampingnya sekarang. Lalu, mamanya dengan kasar mendorong tubuh Albi sehingga tubuh itu terjatuh jadi kursi dengan keras.


"Menjauh lah dari anakku perempuan pembawa sial! Karena aku tidak ingin kamu melukai anakku lagi nantinya," ucap mama Albi sambil mendorong tubuh anaknya.


"Aduh! Apa yang mama lakukan, Ma!? Sakit, tahu gak? Mama tidak boleh terlalu kasar seperti ini pada Dina. Dina juga sedang tidak begitu sehat sekarang."

__ADS_1


__ADS_2