
Mereka kini sedang berada di ruang kerja Albi. Meski mama Albi sedang kesal dengan sikap sang anak. Tapi dia tetap mengikuti apa yang Albi katakan.
"Mau bicara apa kamu, Al? Kamu sudah bikin mama malu sekaligus kesal. Apa sih yang ada dalam pikiranmu saat ini, ha?"
"Aku minta maaf jika menyakiti hati mama. Tapi aku ingin tahu satu hal. Tolong mama jawab pertanyaan aku dengan jujur, Ma. Di mana orang tua kandung Medina saat ini?"
Sontak saja, pertanyaan itu sangat mengejutkan buat mama Albi. Wajahnya tiba-tiba menjadi pucat dengan mata yang membelalak karena terlalu kaget dengan pertanyaan yang anaknya ucapkan barusan.
"Ap-- apa ... apa yang ... kamu katakan barusan, Albi? Mama .... kandung Medina? Mana ... mama tahu. Orang ... mama gak kenal dengan Medina sebelumnya. Kamu, kan suaminya. Kamu aja gak tahu apa lagi mama."
Ucapan mama Albi terdengar sangat gugup. Namun, sebisa mungkin dia bersikap biasa untuk menutupi kegugupan yang sedang dia rasakan.
"Aku tahu tentang rahasia yang mama simpan selama lebih dari dua puluh tahun ini, Ma. Mama membuang Medina karena mama kesal dengan orang tuanya, bukan?"
"Albi! Jaga bicara kamu itu! Jangan bicara sembarangan kamu!"
__ADS_1
Mama Albi langsung berteriak dengan suara tinggi. Ucapan Albi barusan sangat mengejutkan. Rahasia yang dia simpan baik-baik selama lebih dari dua puluh tahun. Kini anaknya ketahui. Bagaimana tidak? Tentu saja itu sangat mengejutkan sang mama sampai tidak bisa bernapas dengan baik.
"Jangan coba-coba menuduh mama. Mama tidak tahu apa-apa tentang istri kamu." Mama Albi berucap sambil menuding anaknya.
Sudah sampai diujung tanduk. Sang mama masih juga berusaha menyelamatkan diri. Sebisa mungkin dia menyangkal kebenaran yang sudah anaknya katakan.
'Kurang ajar! Bagaimana Albi bisa tahu soal rahasia besar ini? Rahasia ini hanya Sela dan mamanya saja yang tahu. Selain mereka, tidak ada orang lain yang tahu akan rahasia besar ini. Celaka! Apa Sela yang sudah bicara pada Albi soal rahasia besar ini? Awas saja kalau iya. Aku tidak akan mengampuni mereka.' Mama Albi bicara dalam hati dengan wajah gelisah.
Lalu, sebuah ide untuk menghindar terlintas dalam benak si mama. Dia berpikir, selagi dia tidak membenarkan dan mengakui apa yang anaknya katakan, maka anaknya tidak akan bisa memaksa. Orang bukti juga tidak ada.
Tapi, saat mama Albi ingin beranjak meninggalkan ruangan tersebut. Tangan Albi langsung menahan langkah sang mama dengan menarik tangan mamanya agak tidak pergi.
"Kamu apa-apaan sih, Al? Lepaskan tangan mama sekarang juga! Jangan jadi anak durhaka kamu ya. Mama gak tahu di mana orang tua kandung Medina. Karena mama gak asal usul Medina sebelumnya."
"Jangan bohong, Ma! Aku sudah bosan mendengarkan kebohongan yang mama buat. Mama fitnah Medina yang mengambil dokumen penting hasil kerjaan yang sudah susah payah aku selesaikan hampir satu bulan. Tapi sebenarnya, mama sendirilah yang mengambil dokumen itu."
__ADS_1
"Kenapa mama setega itu padaku, Ma!? Aku ini anak mama sendiri, Ma."
"Tunggu! Apa jangan-jangan, aku ini bukan anak kandung mama?"
"Albi!" Teriakan itu menggelegar memenuhi ruangan tersebut. Tapi, Albi tetap tidak gentar. Dia tahu, dia sudah jadi anak durhaka saat ini. Tapi, kesalahan sang mama harus di hentikan.
"Jangan lancang kamu, Albi! Mama sudah melahirkan kamu dengan susah payah. Tapi kamu malah memperlakukan mama seperti ini. Kamu .... "
"Aku sudah cukup bersabar, Ma. Selama ini aku terlalu bodoh dengan mempercayai apa yang mama katakan. Karena nyatanya, semua yang mama katakan itu tidak benar. Mama hanya terus membual, berbohong lagi dan lagi. Sekarang, sudahi semua kebohongan mama. Insyaf lah, Ma. Sebelum mama terlambat."
"Jika mama tidak ingin mengatakan semua kebenaran dari apa yang aku tanyakan. Aku tidak akan memaksa mama lagi. Tapi aku akan mencari kebenaran itu sendiri."
"Namun, maafkan aku jika aku tidak akan ada untuk mama lagi mulai dari saat ini. Aku akan pergi meninggalkan mama dan memulai hidup baru. Aku memang anak yang tidak tahu balas budi pada mama. Selamat tinggal, Ma. Semoga mama mengerti apa itu arti kesendirian."
Mata sang mama berkaca-kaca. Embun bening mulai merembes secara perlahan. Tapi Albi tidak mau mengubah niatnya lagi sekarang. Dia tidak akan luluh karena pelajaran untuk membuat sang mama insyaf harus tetap dia jalankan.
__ADS_1
Lalu, Albi pun langsung beranjak meninggalkan si mama sendirian. Hal itu tentu saja sangat menyakitkan buat sang mama. Air matanya jatuh berderai melintasi pipi. Ingin dia raih tubuh sang anak. Tapi kaki dan tangannya terasa berat.
"Albi ...!" Hanya teriakan yang mampu mama Albi tunjukkan saat ini. Tapi sama saja, semua itu tidak akan mengubah keputusan Albi untuk pergi.