Bertukar Tubuh

Bertukar Tubuh
*Main Part 55


__ADS_3

Setelah melewati berbagai pertanyaan dari kedua penjaga pintu. Akhirnya, Albi dan Dina berhasil masuk ke dalam juga. Mereka pun langsung berjalan cepat, dengan perasaan lega tentunya.


Mereka berjalan mengikuti seorang pria paruh baya yang mereka ketahui adalah seorang kepala pelayan. Ini rumah, tidak bisa dibilang rumah. Tapi lebih tepatnya di sebut sebuah istana megah dengan banyak pelayan.


Saat itulah, Dina berpikir akan satu hal. Dia merasa, kalau dia mungkin salah datang ke rumah ini. Karena ini terlalu besar dan terlalu mewah. Dengan semua kemewahan ini, orang tuanya pastilah orang yang sangat kaya. Tidak mungkin orang sekaya mereka tidak bisa mencari anak mereka yang hilang. Hal itu adalah hal yang tidak masuk akal, bukan?


Karena pikiran itu, Medina tiba-tiba menghentikan langkah kakinya yang sedang melangkah. Sontak, Albi juga terpaksa melakukan hal yang sama dengan apa yang istrinya lakukan.


"Kenapa, Sayang? Ada apa sih? Kok malah berhenti mendadak?"


"Aku ... aku ingin kita pulang aja sekarang, Mas. Aku tidak siap buat masuk ke dalam." Medina berucap dengan jujur. Wajahnya pun terlihat serba salah sekarang.


"Sayang. Kamu tidak bisa melakukan hal itu. Kita bentar lagi akan bertemu dengan orang tua yang sangat ingin kamu temui. Ini adalah harapan kamu sejak kecil, bukan?"


"Iya, Mas. Aku memang sangat berharap. Tapi .... "


"Dina. Kamu ingat apa yang kamu katakan sebelumnya, bukan? Kesempatan itu tidak akan datang untuk yang kedua kalinya. Jikapun ada kesempatan kedua, itu tidak semua orang bisa mendapatkannya. Hanya sebagai kecil saja. Jadi, saat kamu punya kesempatan itu, jangan sia-siakan."

__ADS_1


"Kalian kenapa berdiam diri di situ? Ayo masuk! Tuan dan nyonya sudah menunggu," ucap kepala pelayan yang sebelumnya sudah pergi tanpa menghiraukan Albi dan Dina yang sempat berhenti berjalan.


"Itu .... " Dina masih terlihat ragu sekarang.


Albi yang tahu akan hal itu, langsung menggenggam erat tangan istrinya.


"Sayang, ayo!" Albi berucap sambil senyum.


Karena kekuatan itu, Medina langsung memutuskan ikut apa yang suaminya katakan. Beranjak dengan langkah berat memasuki ruangan yang pintunya cukup besar.


"Kamu harus senang dan bahagia. Jangan pikirkan hal yang buruk sekarang. Semua yang terjadi, memang tidak akan pernah bisa diulang kembali, sayang. Tapi ada kata menyesal jika sudah melakukan kesalahan, bukan?"


Pintu ruangan tersebut terbuka. Sepasang suami istri sedang duduk dengan penuh kharisma di atas sofa empuk nan besar. Langkah Medina semakin berat saat melihat pasangan suami yang ada di ruangan tersebut.


Medina pun memilih untuk menghentikan langkah kakinya. Tidak kuat lagi dia paksakan kaki itu untuk melangkah. Karena saat matanya menatap pasangan suami istri tersebut, ada banyak rasa yang bercampur aduk dalan hatinya.


"Sayang. Kenapa kamu berhenti lagi?" Albi berucap pelan saat kaki Medina tidak beranjak sedikitpun.

__ADS_1


"Mm ... kalian siapa ya? Kenapa kalian datang ke rumah kami? Ada perlu apa?" tanya perempuan paruh baya tersebut tanpa beranjak dari duduknya sedikitpun.


"Aku ... mm, maaf sebelumnya, Nyonya. Kami datang karena perintah seseorang. Apa benar nyonya pernah kehilangan anak nyonya saat anak itu masih bayi? Jika iya, kami tahu di mana keberadaan anak nyonya itu sekarang." Albi berucap cepat. Karena saat ini, dia juga sedang gugup sebenarnya.


Reaksi sepasang suami itu sungguh seperti yang Albi harapkan. Keduanya sangat terkejut dengan apa yang baru saja Albi sampaikan. Bahkan, si wanitanya langsung bangun dari duduk dengan cepat.


"Apa yang kamu katakan? Jangan main-main dengan kami. Aku bisa saja membuat kamu menyesal karena telah mengungkit hal itu di depanku."


"Nyonya. Saya tidak main-main. Apa yang saya katakan itu benar adanya. Kami tahu semua tentang putri anda. Dan kami juga tahu, di mana putri anda saat ini."


"Putri." Seketika, mata wanita paruh baya itu langsung berkaca-kaca. Lalu, dengan memeluk tangannya sendiri, wanita itu langsung menjatuhkan air mata dengan cepat. Selanjutnya, wanita itupun tidak kuat menahan beban berat tubuhnya. Dia terjatuh. Terduduk di atas sofa empuk yang sebelumnya dia duduki.


"Mama!" Suami dari wanita itu langsung menghampiri sang istri. Dengan wajah cemas, dia bawa istrinya ke dalam pelukan.


"Mama tenang dulu. Belum tentu apa yang mereka katakan itu benar, Mah. Karena .... "


"Tidak, Pa! Mama yakin kalau anak kita masih hidup. Perasaan seorang ibu itu tidak mungkin salah. Selama ini, kita mungkin tidak bisa menemukannya karena Lastri sengaja menyembunyikan putri kita dengan sangat baik."

__ADS_1


Wanita paruh baya itu berucap dengan penuh keyakinan. Dia sampai bangun dari pelukan suaminya karena semangat atas keyakinan yang dia miliki.


__ADS_2