
"Apa!? Kamu tidak suka? Mau marah? Mau ngelawan? Silahkan! Aku sudah sangat kesal padamu sekarang. Aku tidak tahu entah mantra apa yang kamu berikan pada anakku sampai dia jadi begitu membela kamu. Sungguh, aku tidak habis pikir dengan perubahan sikap anakku sekarang."
"Cukup, Ma. Aku tidak pernah memberikan mantra apapun pada .... "
"Kamu tidak akan sadar, Albi. Yang diberi mantra itu kamu, bukan dia." Mama Albi berucap sambil menuding Dina.
"Ma .... "
"Sudah cukup aku bilang! Jangan bela dia lagi. Karena dia yang kamu bela ini semakin jadi besar kepala. Kamu tidak tahu, seperti apa dia sudah menguasai hidup kamu, hah? Mama benar-benar kecewa sama kamu, Al. Kamu benar-benar tidak mau mendengarkan apa yang mama ucapkan lagi."
Mama Albi pun langsung meninggalkan meja makan setelah memberikan tatapan tajam pada Albi dan Dina. Dia pergi tanpa memakan sarapan yang bibi buatkan untuknya lagi.
Albi dan Dina saling tatap setelah kepergian sang mama. Tidak ada kata yang bisa mereka ucapkan. Hanya merasakan rasa kesal, marah, dan juga sedih yang kini telah bercampur jadi satu dalam hati mereka berdua.
....
Dina kini telah berada di kantor. Melangkah pelan karena rasa canggung akibat tidak percaya diri juga karena gugup akan hal baru yang akan dia hadapi. Dina terlihat sangat berbeda dari biasanya.
Namun, sebuah sambutan membuat Dina berubah menjadi agak tenang. Ternyata, teman kantor, tepatnya bawahan Albi sangat bersahabat. Mereka juga ramah-ramah dan sangat sopan pada Albi. Mereka langsung memberikan sambutan yang hangat ketika tahu Albi kembali masuk bekerja hari ini.
"Pak Albi tenang saja, pak. Kami akan bantu bapak sebisa kami. Bapak tidak perlu merasa canggung apalagi malu untuk bertanya," ucap salah satu dari mereka yang berada di sana.
"Malu ... untuk bertanya?" Dina masih tidak memahami maksud dari ucapan bawahan itu. Dia pun langsung memasang wajah bingung sekarang.
__ADS_1
"Maafkan kami jika kami terkesan sangat lancang, Pak Albi. Tapi kami tahu kalau kecelakaan yang bapak alami sedikit merusak ingatan bapak. Jadi, kami akan bantu bapak sebisa kami. Bapak pasti merasa sangat asing di sini. Untuk itu, kami bersedia menawarkan bantuan kapanpun bapak butuhkan."
Dina langsung mengukir senyum manis penuh rasa bahagia. Ternyata, Albi telah mengatur semuanya. Pantas saja Albi tidak merasa khawatir saat melepasnya sendirian bekerja ke tempat yang sama sekali tidak pernah dia datangi sebelumnya. Ternyata, semuanya sudah Albi atur dengan sangat baik.
'Terima kasih banyak, Mas. Aku tahu, kamu sudah berubah sekarang. Aku bersyukur dengan anugerah yang telah kita dapatkan sekarang. Anugerah yang telah merubah kamu menjadi orang yang pertama kali aku temui dulu.' Dina berkata dalam hati sambil terus mengukir senyum.
Kemudian, Dina mengucapkan terima kasih yang banyak buat para bawahan yang sudah sangat peduli dengan dirinya. Bawahan itu semakin merasa senang dengan sikap manis yang Albi perlihatkan. Lalu, setelah di rasa cukup, salah satu bawahan itupun menawarkan diri untuk mengantar Albi ke ruangannya.
Tentu saja Dina sangat bahagia akan hal itu. Bagaimana tidak? Dia yang baru pertama datang ke kantor tentu saja tidak begitu paham di mana lekat tepat ruangan Albi. Ya meskipun sebelumnya, Albi sudah mengatakan di mana ruangan dia bekerja di kantor ini pada Dina sebelumnya.
Sementara itu, Albi sedang berada di panti asuhan tempat di mana Dina dibesarkan.
Dia datang ke sana karena permintaan dari ibu panti. Ibu panti bilang, ada seseorang yang ingin bertemu dengan Dina saat ini.
Karena rasa penasaran yang ada dalam hatinya, dia lupa untuk bersikap sopan pada wanita paruh baya yang sangat Dina hormati ini. Bahkan, dia sama sekali tidak berbasa-basi terlebih dahulu sebelum menanyakan pertanyaan itu.
Bu Misah tentu saja merasa aneh dengan sikap Dina. Karena Dina yang selama ini dia asuh, tidak pernah bersikap seperti itu. Dina selalu sabar, sangat lemah lembut, juga penuh dengan sopan santun. Apalagi jika bicara dengannya.
"Apa karena kecelakaan yang kamu alami, kamu jadi rusak seperti ini, Dina?" tanya bu Misah dengan suara kesal juga prihatin.
Untung saja Albi cukup paham dengan maksud dari pertanyaan itu. Maka dia pun langsung berusaha memperbaiki kesalahan yang sudah dia lakukan barusan.
"Maafkan aku, ibu. Aku ... aku sedikit tidak mengerti dengan diriku sendiri lagi sekarang. Kecelakaan itu sedikit merusak mental, juga ingatan masa lalu yang aku punya." Albi berucap dengan nada lemah, penuh dengan kesedihan.
__ADS_1
Bu Misah yang mendengarkan tutur itu langsung luluh. Dia yang awalnya merasa sedikit kesal, kini langsung berubah prihatin pada nasib malang yang anak angkatnya alami.
Bu Misah lalu menyentuh bahu Dina dengan lembut. "Ibu tahu apa yang kamu rasakan saat ini, Dina. Kamu pasti merasa sangat tidak nyaman dengan dirimu sendiri sekarang, bukan?"
"Maafkan ibu yang tidak bisa membesuk kamu saat berada di rumah sakit. Ibu terlalu sibuk dengan adik-adikmu yang ada di sini sehingga ibu tidak punya waktu barang sedikitpun buat jenguk kamu. Ibu sangat merasa bersalah."
"Ibu jangan begitu. Tidak perlu minta maaf padaku, bu. Karena aku paham bagaimana keadaan ibu sekarang."
Albi dan bu Misah masih melanjutkan obrolan mereka selama beberapa menit sampai seorang anak perempuan datang untuk mengatakan sesuatu. Ternyata, anak perempuan itu datang untuk mengabari kalau orang yang ingin bertemu Dina ternyata sudah tiba.
"Dina, ayo ikut ibu menyambut seseorang yang sangat ingin menemui kamu. Ibu yakin, kamu juga pasti sangat bahagia jika bertemu dengan dia."
Bu Misah berucap dengan raut wajah yang sangat bahagia. Albi yang penasaran, tentu saja tidak bisa menahan diri lagi sekarang.
"Tunggu dulu, bu! Siapa sih yang ingin bertemu dengan aku? Sepertinya, dia begitu membuat ibu bahagia."
"Ikuti saja ibu buat nyambut dia. Maka kamu akan tahu siapa dia, Medina."
Tidak punya pilihan lain, Albi terpaksa menahan rasa penasaran yang ada dalam hatinya. Dia pun mengikuti langkah bu Misah menuju pintu untuk menyambut orang tersebut.
Sampai di depan pintu utama panti asuhan tersebut, Albi langsung bisa melihat seorang pria dengan pakaian kasual yang cukup mewah. Tiba-tiba, perasaan Albi merasa tidak senang karena melihat pria itu. Entah itu rasa yang ditimbulkan oleh kecemburuan, atau yang lainnya. Yang jelas, hatinya tiba-tiba merasa jengkel akan kehadiran pria itu.
"Siapa dia, bu?" tanya Albi langsung bertanya saat mereka masih belum mencapai pintu sepenuhnya.
__ADS_1
Pertanyaan itu langsung membuat bu Misah menoleh ke arah Dina. Dia merasa sedikit sedih dengan anak asuhnya yang ternyata tidak mengenali pria yang ada di hadapan mereka.