Bertukar Tubuh

Bertukar Tubuh
*Main Part 36


__ADS_3

Ketika Albi sibuk dengan pikirannya sendiri. Mamanya yang kesal, langsung meninggalkan dia begitu saja tanpa berucap. Sementara si bibi juga ikut melakukan hal yang sama. Sedangkan Sela, dia yang merasa menang, terus menatap Albi yang basah kuyup itu dengan tatapan bahagia.


"Kasihan sekali kamu, Medina. Kamu pasti syok berat dengan kebenaran yang baru saja kamu dengar tadi, kan?"


"Mm ... apa kamu tidak ingin tahu hal lain dari rencana yang kami buat, Medina?"


Albi langsung mengangkat wajah untuk melihat Sela. "Katakan! Rencana apa lagi yang kalian punya untuk merusak rumah tanggaku, Sela!"


"Mm ... untuk sekarang sih tidak ada rencana. Karena Albi sedang tidak sehat. Tapi, kau tahu bagaimana mama mertuamu menyusun rencana jitu untuk memisahkan kalian? Dia menyusup masuk ke ruangan kerja anaknya sendiri setelah mematikan cctv ruangan tersebut. Lalu, dia ambil hasil kerja anaknya. Dan dengan tega, dia serahkan hasil kerja yang susah payah anaknya selesaikan dalam waktu yang cukup lama itu pada saingan bisnis anaknya."


Mendengar ucapan Sela barusan. Tentu saja emosi Albi semakin naik. Rahangnya semakin mengeras. Rasanya, dia ingin sekali marah pada sang mama jika dia tidak ingat kalau dirinya sedang berada di tubuh sang istri.


Sementara itu, Sela yang semakin bahagia melihat ekspresi yang Albi berikan. Semakin merasa tidak puas dan ingin terus melihat ekspresi itu lagi dan lagi. Sela tersenyum. Dengan tangan yang dilipatkan ke perut, dia berjalan-jalan kecil dengan tatapan penuh dengan kemenangan.


"Apa kau tahu, mama mertuamu itu juga telah menjanjikan dirimu untuk si tua bangka yang sudah menerima hasil kerjaan suamimu."


"Apa!? Tidak mungkin."


"Tidak mungkin? Kamu bilang tidak mungkin ya? Mm ... emang sedikit tidak waras sih menurut aku. Si tua bangka itu dapat keuntungan doble dong jadinya. Udah dapat hasil jerih payah yang Albi kerjakan cukup lama, eh malah dijanjikan kamu juga untuk dijadikan wanitanya. Tapi, rencana ini hampir berhasil lho Dina. Tepatnya, rencana ini berhasil jika kalian tidak kecelakaan. Dan Albi tidak sakit seperti saat ini."


Sungguh luar biasa. Kata-kata itu bak pukulan keras yang langsung menghantam tulang Albi. Rasanya, tidak ada perasaan yang tersisa selain perasaan marah dan sedih pada sang mama.

__ADS_1


"Ke--kenapa mama melakukan hal itu pada Medina? Apa salah Medina sampai mama begitu jahat padanya?" Albi berucap lirih dengan pandangan yang tertunduk.


"Kamu tanya Dina salah apa padanya? Emang kamu bukan Dina. Mm ... sepertinya, kamu sendiri tidak ingin jadi diri kamu, Medina. Kasihan sekali, kalo aku udah lama aku pergi dari rumah ini. Aku tinggalkan saja Albi. Karena tidak ada gunanya aku bertahan di sini. Hidup dengan mama mertua yang jahat dan kejam emang gak akan pernah bertemu kebahagiaan."


Sela langsung beranjak setelah mengucapkan kata-kata itu. Sambil pergi, dia tak lupa untuk tetap senyum karena hatinya sangat bahagia dengan perasaan kemenangan yang besar.


.....


Dua hari setelah kejadian itu, Albi terus bertahan dengan tidak membicarakan apa yang sudah dia ketahui pada Medina. Tapi, dia telah mencarikan rumah yang cocok mereka berdua. Hanya saja, waktu pindah ke rumah itu masih Albi tangguhkan.


Sebaliknya, sikap Albi pada Medina semakin luar biasa lembutnya. Sebisa mungkin, semua perhatian dia curahkan hanya pada Medina saja. Dia hanya akan bergerak setelah Medina pergi kerja.


"Mas, malam ini mungkin aku akan lembur. Soalnya, ada sedikit kerjaan yang harus aku urus," kata Dina ketika sore menjelang. Dia mengatakan hal itu melalui panggilan lewat telepon.


"Mas, aku tahu kamu keberatan. Tapi, aku lembur tidak sendirian. Ada dua karyawan kamu yang juga ikut lembur bersama. Lagipula, ini kerjaan yang akan bikin perusahaan untung besar, kan? Kerjaan yang dengan susah payah kamu dapatkan, Mas."


Albi tidak langsung menjawab. Dia diam memikirkan apa yang Dina katakan barusan. Sebenarnya, malam ini dia ingin ajak Dina makan malam diluar. Setelah itu, dia akan bawa Dina melihat rumah baru yang dia beli kemarin. Tapi, ternyata istrinya sedang sangat sibuk bekerja di kantor menggantikan posisinya.


Rasanya, Albi sedikit kecewa saat ini.


'Apakah rasa kecewa ini yang selalu Dina rasakan ketika dia mengajak aku makan malam bersama, tapi aku tolak ajakannya itu secara sepihak? Tuhan ... ini terasa sedikit menyakitkan. Meskipun aku tahu dia sedang susah payah bekerja. Tapi ini rasanya sangat tidak enak,' kata Albi dalam hati.

__ADS_1


Katena Albi sibuk dengan pikirannya. Dia langsung mengabaikan Dina yang masih berada di panggilan. Hal itu membuat Dina harus memanggil Albi berulang kali.


"Mas. Mas Albi. Kamu masih bisa dengar aku sekarang, Mas?"


"Eh, iy--iya. Aku ... masih bisa dengar kamu, Dina."


"Kamu marah padaku, Mas? Kamu masih gak izinin aku lembur ya?" Dina bertanya dengan suara pelan.


"Eh, ti-- tidak kok, sayang. Aku gak marah sama kamu. Aku hanya ... mm ... kamu bisa lembur malam ini. Tapi gimana kalau aku datang buat temani kamu lembur? Mau nggak?"


"Kamu mau datang, Mas? Beneran?"


"Tentu saja iya. Aku datang bawa makanan nanti yah. Aku juga akan bantuin kamu kerja. Karena itu adalah kerjaan aku. Seharusnya aku yang kerjakan."


"Ya udah kalo gitu, aku tunggu kamu datang. Tapi ingat ya, Mas. Dandan yang cantik. Jangan bikin aku malu yah. Itu tubuhku, harus dandan yang cantik kalo kamu mau jalan. Awas kalo bikin aku malu kamu ya," ucap Dina dengan nada penuh ancaman. Tapi juga terdengar nada bahagia di sana.


Albi hanya tersenyum sambil menjawab dengan singkat satu kaya iya saja. Meski dia tahu kalau istrinya tidak bisa melihat, tapi candaan yang istrinya buat sedikit membuat dia bahagia.


"Ya Tuhan. Aku ingin segera kembali ke tubuh asliku. Karena aku ingin sekalu menjalankan tanggung jawabku sebagai suami. Bukan hanya duduk diam seperti yang aku lakukan saat ini."


....

__ADS_1


Setelah senja hampir berganti malam, Albi langsung meninggalkan rumah. Untung saja malam ini mamanya tidak bikin ulah, jika tidak, dia pasti akan kesulitan untuk keluar.


Sebenarnya bukan tidak berulah, hanya saja, mamanya tidak tahu kalau dia akan pergi keluar malam ini. Karena Dina tidak pernah jalan malam sendirian. Dia hanya akan pergi keluar jika suaminya mengajaknya pergi. Tapi, itupun jarang terjadi. Setelah pernikahan yang terasa hambar, Dina hanya berdiam diri di rumah. Menghabiskan waktu seperti burung yang terkurung dalam sangkar tanpa diberikan makan dan minum. Itu semua karena ulah mama mertuanya yang sangat jahat.


__ADS_2