
Albi memilih meninggalkan panti asuhan dengan cepat. Tujuannya saat ini adalah rumah. Dia sungguh tidak sabar lagi untuk menemui mamanya. Tidak dia pikirkan lagi tentang dirinya yang kini berada di tubuh Dina.
"Kenapa mama begitu, Ma? Sungguh aku sangat tidak percaya dengan apa yang sudah mama lakukan selama ini. Kenapa, Ma?"
Albi terus melangkah dengan perasaan kacau. Namun, saat dia berjalan melintasi jalan persimpangan yang tak jauh dari panti asuhan, sebuah mobil langsung menghentikan langkah kakinya.
Mobil yang cukup dia kenali dengan baik sebelumnya. Itu adalah mobil saingan bisnis yang telah merebut kerja keras yang dia kerjakan hampir satu bulan kemarin.
Belum sempat Albi memikirkan sesuatu, sopir dari mobil itu keluar. Sama seperti yang Dina alami saat itu. Saat orang suruhan dari mama Albi dan Sela mengambil foto untuk diberikan pada Albi.
"Nona, akhirnya anda muncul juga. Bos saya sudah lama menunggu nona. Waktu itu juga, nona tidak datang buat menemui bos saya. Bos saya bilang, ini adalah kesempatan final terakhir untuk nona. Jika nona tidak datang dan ikut pergi dengan bos saya, maka nona tidak akan tahu kebenaran dari orang tua kandung nona." Sopir itu berucap panjang lebar.
Albi langsung bisa menarik kesimpulan dari apa yang orang suruhan itu katakan. Ternyata, Medina bertemu dengan orang itu untuk mencari tahu tentang latar belakang orang tua kandungnya.
Namun, ada hal yang masih membuat Albi ragu sekarang. Pikirannya terbagi akan dua hal. Benarkah Medina memberikan hasil kerjaannya pada saingan bisnis untuk tahu soal orang tua kandungnya? Atau, jangan-jangan, kali ini Medina hanya dijebak lagi. Dia yang tidak tahu apa-apa tentang hasil kerjaan itu, hanya dijadikan kambing hitam saja.
'Tidak bisa. Aku harus pastikan semua kebenaran ini pada mama. Ya, aku yakin kalau hanya mama yang tahu kebenaran dari semua masalah yang telah aku hadapi.'
'Aku harus pergi. Tidak boleh membiarkan Medina mengalami hal buruk. Jika tidak, aku sendiri yang akan menyesal nantinya. Karena aku sudah diberi kesempatan baik, maka aku harus memanfaatkan kesempatan baik ini dengan sangat baik,' kata Albi dalam hati lagi.
"Ayo nona ikut saya! Jangan buat bos saya kesal karena menunggu nona terlalu lama lagi dan lagi."
__ADS_1
"Bagaimana jika saya tidak mau ikut dengan kalian, hm?"
"Nona tidak ingin tahu tentang orang tua nona?Ini adalah kesempatan terakhir yang nona punya. Bos saya sudah sangat berbaik hati pada nona. Beliau bersedia mencari dan menunggu nona hanya untuk menyampaikan tentang rahasia yang sangat nona inginkan."
'Mustahil orang ini tahu tentang orang tua Dina. Jikapun iya dia tahu, aku yakin kalau dia tidak akan begitu baik untuk mencari Dina hanya untuk menyampaikan soal itu. Kecuali, dia punya maksud terselubung yang sedang dia rencanakan.'
"Ayo, nona! Jangan menunda waktu lagi." Orang suruhan itu ingin menggapai tangan Albi. Tapi Albi tidak membiarkan itu terjadi. Dia langsung menghindar dengan lincah.
"Kenapa anda jadi memaksa saya, hah? Yang perlu itu saja, kan? Bukan bos anda. Kenapa bos anda yang jadi seperti sangat punya kepentingan dengan saya sekarang? Bukankah ini terasa sangat aneh."
"Banyak bicara kamu ternyata. Jangan salahkan saya jika saya memaksa kamu untuk ikut saya bertemu dengan bos."
"Tidak beres. Kalian ternyata punya maksud terselubung untuk menolong saya. Katakan! Siapa yang menyuruh kalian membohongi saya, hah!"
Lalu, anak buah itu menarik tangan Albi dengan cepat. Albi pun berusaha melawan anak buah itu dengan lincah. Dia kilas tangan anak buah itu sampai mereka berpindah posisi.
"Jangan coba-coba menganggu aku atau kalian akan tahu apa akibatnya. Aku akan buat kamu dan bos kamu itu membayar semua kebohongan yang telah kalian buat," ucap Albi sambil mencengkram erat tangan anak buah tersebut.
Anak buah itupun meringis kesakitan. Melihat hal itu, bos yang sedang duduk santai di dalam mobil langsung keluar dengan cepat.
"Lepaskan sopirku!"
__ADS_1
Teriakan itu langsung mengalihkan perhatian Albi. Dia yang awalnya masih ragu, kini langsung menatap lekat wajah pria paruh baya yang sangat dia kenal wajahnya itu.
"Lepaskan dia aku bilang! Jangan buat aku marah!" Pria paruh baya itu berteriak lagi dengan keras.
"Aku tidak akan melepaskannya. Dia sudah sangat lancang padaku." Albi membalas teriakan itu dengan teriakan yang sama kerasnya.
"Dia tidak salah. Dia hanya menjalankan perintahku. Kenapa kamu malah menahannya? Lepaskan dia sekarang juga! Mari masuk ke dalam mobil dan kita bicara baik-baik semuanya."
"Tidak akan. Aku tidak akan bisa kalian tipu. Aku sudah tahu siapa kalian ini. Kalian hanya penipu yang ingin mencari untung. Aku akan melepaskannya sekarang. Tapi ingat, jangan ganggu aku lagi. Jika kalian masih muncul di hadapanku, maka kalian akan tahu sendiri akibatnya."
Selesai berucap, Albi langsung mendorong anak buah dari pria paruh baya itu dengan keras. Sangking kerasnya, anak buah itu hampir saja tersungkur di kaki bosnya.
Selanjutnya, Albi langsung meninggalkan tempat tersebut saat dia melihat sebuah ojek online yang sedang mangkal. Entah itu mangkal, atau berhenti karena menunggu si pemesan. Albi tidak ingin tahu, karena yang harus dia lakukan hanyalah, lari secepat mungkin dari pria tua itu agar istrinya baik-baik saja.
"Tolong saya, Mas. Ada orang jahat yang sedang berusaha memaksa saya buat masuk ke mobil mereka. Tolong," ucap Albi dengan suara memelas.
Pria yang sedang berada di atas motornya itu ternyata menanggapi apa yang Albi katakan dengan baik. Dia pun langsung mempersilahkan untuk Albi naik ke atas motornya tanpa banyak tanya.
Ternyata, setelah Albi naik, pria yang menjadi pengemudi ojek online itu mengajak Albi bicara. Dari pembicaraan itulah Albi tahu, kalau di persimpangan itu sudah ada dua perempuan yang bernasib sial baru-baru ini. Satu di jambret, sedangkan yang satunya lagi di paksa maksud mobil. Dan, hari berikutnya, dapat kabar kalo perempuan itu dibuang setelah di lecehkan.
"Mbaknya beruntung bisa kamu tadi, mbak. Jika tidak, saya juga tidak tahu nasib buruk seperti apa yang akan mbak alami," ucap mas ojek itu dengan ramah.
__ADS_1
Albi terdiam. Dia sungguh merasa sangat syok dengan ucapan dari mas ojek itu. Karena jalan itu dulunya, Dina selalu datangi setiap satu minggu sekali. Jalan yang sungguh sangat berbahaya.
"Terima kasih banyak, Mas. Saya juga tidak tahu apa yang akan terjadi pada saya jika masnya tidak ada di sana," kata Albi setelah sadar akan apa yang sedang terjadi.