
"Ya udah kalo gitu, lakukan apa yang aku katakan barusan. Pergi turun, beli makanan yang bisa Albi makan. Kasihan Albi kan kalo harus makan makanan rumah sakit saat dia belum lama sadar."
"Tapi aku gak ingin makan sekarang, Ma. Aku udah kenyang," ucap Dina lagi-lagi membantah.
"Ya Tuhan, Albi. Kamu kok jadi rewel banget gini sih. Kamu kek bukan anak mama aja deh sekarang. Anak mama itu gak seperti ini. Jangan bilang kalau kamu juga lupa bagaimana sikap kamu selama ini. Heran deh mama sama kamu."
Terdengar nada kesal dari ucapan itu. Dina merasa sangat tidak enak hati. Di satu sisi, dia ingin tetap membela Albi karena kasihan. Namun, di sisi lain, dia juga tidak ingin membuat hati orang tua itu semakin kesal lagi dan lagi.
Pada akhirnya, Dina terpaksa menyerah. Dia membiarkan Albi melakukan apa yang mama mertuanya minta.
'Ternyata, jadi mas Albi juga sedikit sulit. Dia berada dalam dilema yang cukup membingungkan. Memilih antara aku dengan mamanya, itu adalah hal yang paling sulit untuk dia lakukan.' Dina berkata dalam hati.
Albi yang berada di tubuh Dina juga tidak bisa melakukan banyak hal selain mengikuti apa yang mamanya katakan. Dia pun pergi meninggalkan ruangan tersebut untuk melakukan apa yang mamanya pinta.
Ketika Albi sampai di depan pintu utama rumah sakit tersebut, dia tanpa sengaja melihat Sela yang baru turun dari sebuah mobil. Sela dengan mesranya melambaikan tangan pada laki-laki yang berada di dalam mobil. Bukan hanya lambaian yang Sela berikan. Ciuman jarak jauh juga tak lupa dia hadiahkan untuk si lelaki yang baru saja mengantarkannya ke tempat tersebut.
Dari sikap Sela barusan, Albi tentu saja bisa memahami hubungan keduanya. Sela mempunyai hubungan spesial dengan laki-laki itu. Seperti ... hubungan sepasang kekasih.
Albi masih tetap memperhatikan gerak-gerik Sela ketika mobil yang mengantarkan Sela beranjak pergi. Alhasil, saat Sela membalikkan tubuh untuk masuk ke dalam, keduanya langsung saja saling tatap.
Wajah kaget Sela tergambar dengan sangat jelas. Saking kagetnya dia, Sela terlihat sedikit pucat sekarang.
__ADS_1
"Medina." Sela berucap pelan. Namun, suaranya terdengar sedikit bergetar.
Albi masih terlihat tenang. Sementara Sela langsung berjalan cepat untuk mendekati Albi. Lalu, setelah sampai di dekat Dina, Sela langsung mencengkram tangan Dina dengan keras.
"Apa yang kamu lihat barusan, hah!? Kenapa kamu bisa ada di sini?"
Sela berucap dengan nada marah sambil menatap tajam wajah Albi. Sementara Albi yang mendapatkan tatapan itu, masih terlihat tenang.
"Sela-Sela. Pertanyaan macam apa yang kamu utarakan padaku barusan itu, hah? Kamu bertanya kenapa aku ada di sini? Ya jelas saja aku ingin keluar dari rumah sakit ini. Inikan pintu, gak mungkin dong aku mau tidur di sini."
"Diam, Medina! Jangan bikin aku kesal. Jangan main-main dengan aku ya. Katakan apa yang kamu lihat barusan!"
"Apa yang aku lihat barusan? Apakah itu sangat penting, Sela? Apakah kamu begitu peduli dengan aku, hm? Tumben kamu begitu perhatian padaku, Sel. Biasanya .... "
"Ah, benarkah apa yang kamu katakan barusan itu, Sela? Kamu ingin membuat aku menghilang dari sisi suamiku? Bagaimana caranya, coba?"
"Medina! Kamu semakin ngelunjak ya!" Sela berucap dengan nada tinggi.
Sangking kerasnya nada tinggi yang Sela ucapakan, hampir semua yang ada di sana langsung melihat ke arah mereka berdua. Keduanya langsung jadi pusat perhatian sekarang.
Merasa hal itu tidak menguntungkannya, Sela langsung menarik tangan Albi buat menjauh dari ruangan terbuka tersebut. Dia bawa Albi menuju pojokan parkiran rumah sakit yang lebih sepi dari tempat yang lain.
__ADS_1
"Lepaskan tanganku, Sela! Jangan buat aku kesal pagi-pagi begini," ucap Albi berusaha melepaskan tangannya dari cengkraman Sela.
"Cih! Sudah berani ngomong besar kamu ya, Dina. Aku akan buat kamu benar-benar merasakan, seperti apa kemarahan Sela nantinya."
"Dengar baik-baik, Medina. Aku tegaskan padamu sekarang, jangan sampai bicara yang tidak-tidak tentang aku di depan tante Laras dan Albi. Jika tidak, kamu sendiri yang akan mendapat kerugian besar."
"Lupakan apapun yang kamu lihat tentang aku di depan rumah sakit tadi jika kamu masih ingin hidup dengan baik. Karena aku, Sela Suryana tidak akan pernah main-main dengan ancaman yang aku berikan. Mengerti?"
"Kenapa kamu begitu takut aku bicara dengan mama mertua juga suamiku, Sela? Kamu takut kalau mereka tahu bagaimana sifat asli kamu ya? Kamu takut tidak bisa dekat dengan suamiku lagi? Tidak bisa ditolong mama mertuaku lagi?" tanya Albi dengan nada santai yang penuh dengan nada godaan.
Hal itu tentu saja membuat hati Sela semakin kesal. Karena sikap tenang yang Albi perlihatkan, itu bukanlah yang dia harapkan. Sela ingin Albi takut dengan apa yang dia katakan. Dengan ancaman yang dia berikan. Bukan sikap tenang yang sepertinya tidak merasakan sedikitpun rasa takut seperti yang Albi perlihatkan sekarang.
"Kamu ...!" Sela berucap keras dengan suara tinggi. Dia genggam erat tangannya supaya emosi yang dia pendam bisa tersalurkan dengan sempurna.
'Kurang ajar banget perempuan ini. Bisa-bisanya dia bersikap tetap tenang seperti sekarang. Aku ... agh! Kenapa dia bukan seperti dirinya yang sebelumnya lagi. Dia lebih mirip orang lain yang sama sekali tidak bisa aku pengaruhi. Sial! Kenapa jadi begini sih?'
'Tidak! Tidak boleh. Aku tidak boleh kalah dengan perempuan sialan kampungan yang terbuang ini. Seorang Sela Suryana tidak akan pernah kalah dengan perempuan seperti dia. Tidak akan pernah,' kata Sela dalam hati lagi.
"Heh. Dengar baik-baik ya perempuan kampung yang terbuang. Jikapun kamu bicara tentang aku pada mama mertua juga suamimu, mereka juga tidak akan mau mempercayai kamu. Karena apa? Ya karena kamu tidak punya bukti. Lagipula, kata-katamu itu tidak akan berarti apapun di telinga tante Laras. Percaya deh sama aku," ucap Sela setelah dia mampu menguasai hatinya supaya bisa menanggapi Dina dengan tenang.
"Sedangkan untuk suami kamu. Aku yakin, dia juga tidak akan mempercayai kamu lagi. Karena kamu sudah dicap sebagai pengkhianat sekarang. Kamu dicap sebagai orang yang sudah melakukan kesalahan besar di mata suami kamu. Karena itu, aku juga yakin kalau dia tidak akan pernah mau mendengarkan apa yang kamu katakan."
__ADS_1
Albi terdiam dengan mata yang menatap lekat wajah Sela. Sebuah pikiran tiba-tiba muncul dalam benaknya sekarang.
'Mungkinkah semua masalah rumah tangga juga pekerjaan yang aku dan Dina hadapi saat ini ada hubungannya dengan mama dan Sela? Sepertinya, aku harus memastikan hal itu sekarang.' Albi berucap dalam hati.