
Albi pun langsung menarik Dina ke dalam pelukannya.
"Entah sampai kapan kita harus terus seperti ini, Dina. Aku tidak tahu apa yang harus kita lakukan agar kita kembali ke tubuh masing-masing. Aku sudah tidak sabar untuk membuktikan pada semuanya, kalau kamu adalah istri terbaik satu-satunya yang aku punya," ucap Albi sambil membelai lembut rambut Dina.
"Aku juga tidak tahu, Mas. Aku juga ingin kembali jadi diriku sendiri. Tidak jadi diri kamu yang serba sibuk ini."
"Eh, jangan ngeluh gitu dong, sayang. Aku sibuk juga buat kamu kok. Buat memenuhi kebutuhan kita."
"Oh iya. Jadi diri kamu juga gak mudah, sayang. Kamu ... maaf, sepertinya kehidupan yang kamu lalui selama ini sangat sulit, Dina. Aku sungguh sangat menyesal akan hal itu," kata Albi lagi dengan nada penuh dengan kesedihan.
Nada sedih yang Albi ucapkan langsung membuat Dina bangun dari pelukan. Dia melihat wajah yang sedang dipenuhi dengan rasa bersalah itu. Dia pun merasa cukup iba akan hal tersebut.
"Mas, sudah dong ngomong hal itu. Kitakan sudah sama-sama sepakat untuk memperbaiki hubungan yang telah rusak. Jadi, jangan ungkapkan rasa bersalah itu lagi sekarang."
"Oh iya, Mas. Bagaimana kalo kamu ikut aku kerja aja besok. Jadi, aku gak terlalu canggung dan bingung pas sampai di kantor besok pagi."
Dina berucap dengan wajah penuh keyakinan.
Hal itu langsung membuat Albi mengukir senyum kecil di bibirnya.
"Ya Tuhan .... Kok kamu bisa mikir gitu sih, Din? Kamu mau bawa aku ke kantor? Apa yang akan kamu katakan pada semua orang nanti saat kamu bawa aku datang besok pagi?"
Pertanyaan itu langsung merubah raut wajah Dina. Dia langsung memperlihatkan wajah tidak enak. Karena ucapan itu sedikit mengenai hatinya. Membuat dia merasa tersinggung akan ucapan tersebut.
"Iya. Aku tidak mungkin bisa ajak kamu ke kantor. Karena istri kamu tidak tahu apa-apa tentang urusan pekerjaan seperti ngantor, Mas. Jadi, kamu tidak mungkin bawa aku. Karena jika kamu bawa aku, itu sama saja dengan mempermalukan diri kamu sendiri."
Ucapan dengan nada yang tidak enak, ditambah wajah yang juga memperlihatkan hal yang sama. Hal itu tentu saja Albi pahami akan apa yang Dina rasakan saat ini.
__ADS_1
"Ya ampun, sayang. Kamu kok malah mikir yang nggak-nggak sih sekarang. Kamu salah mengartikan apa yang aku katakan, Dina. Ya Tuhan ... tolong aku. Aku gak maksud buat istriku jadi tersinggung dengan apa yang aku katakan."
"Aku tidak tersinggung kok, Mas. Itu memang kenyatannya, bukan? Aku tidak bisa kamu ajak ke kantor. Karena selain akan bikin kamu malu .... "
"Sayang cukup." Albi berucap sambil menempelkan satu jarinya di bibir Dina.
"Aku gak maksud begitu. Kamu salah mengartikan apa yang aku katakan. Aku gak pernah mikir, kalo ajak kamu itu bikin aku malu. Aku akan ajak kamu, tapi tidak sekarang. Nanti, setelah tubuh kita kembali seperti semula. Karena untuk saat ini, aku harus menjaga nama baik kamu. Aku harus mengurus hal yang seharusnya aku urus."
"Hal ... yang seharusnya aku urus? Hal apa itu, Mas?" Dina kini langsung mengubah ekspresi wajahnya. Dari kesal dan sedih, jadi penuh rasa penasaran dan sangat ingin tahu.
"Yah, kok kamu mendadak jadi pelupa sih, sayang. Bukannya kamu yang bilang kalo ibu panti ingin Dina datang ke pantinya besok? Lagian, kamu juga punya banyak urusan lain yang belum kamu urus bukan? Ditambah, urusan mama yang masih gantung itu. Aduh, pokoknya, ada banyak urusan deh."
"Iya juga ya, Mas. Kita punya urusan masing-masing. Tidak bisa selalu bersama untuk mengurus satu urusan saja. Huhf, ya sudahlah. Aku akan coba jalani hidup jadi kamu dengan sangat baik."
"Gitu baru benar," ucap Albi sambil mencubit hidung Dina. Dina pun langsung tersenyum lebar.
Senyuman Dina membuat Albi tiba-tiba merasa agak bersalah. Karena sebenarnya, dia ingin menyelidiki banyak hal tanpa Dina ketahui. Albi beranggapan, dengan memakai tubuh Dina, mungkin dia agak sedikit leluasa untuk melakukan segalanya.
Waktu berlalu terasa sangat cepat buat Dina. Karena baru saja dia memejamkan matanya, pagi sudah langsung menjelang begitu saja. Hal itu membuat rasa gugup yang Dina rasakan sebelumnya bertambah besar saja.
"Ya Tuhan ... kenapa pagi begitu cepat? Aku merasa semakin tidak nyaman saja sekarang," ucap Dina mengeluh dengan pelan.
Keluhan itu Albi dengan dengan sangat baik. Dia yang masih berbaring di samping istrinya, langsung tersenyum kecil.
"Hei ... bangun-bangun kok langsung ngeluh sih kamu, Sayang. Semangat paginya mana nih? Kok cepat banget ngilangnya."
"Semangat pagi aku emang udah gak ada, Mas. Udah lenyap sejak lama tuh."
__ADS_1
"Kumpulin lagi ayo!"
"Gak bisa. Udah lenyap pun dia."
"Ya ampun. Kok bisa gitu sih?"
"Ya bisalah. Sejak aku jadi kamu, dan aku harus bekerja layaknya kamu, semangat itu sudah hilang semua."
Albi seketika menatap wajah istrinya dengan tatapan lekat.
"Kamu gak suka jadi aku, Dina? Kamu merasa keberatan ya?"
"Itu ... ya --ya .... Aku harus mandi sekarang. Kamu jangan lupa bangun atau mama akan bangunin kamu dengan wajah masamnya nanti," ucap Dina sambil beranjak dari tempat tidur.
Albi tidak menjawab. Dia tahu, kalau istrinya memang merasa tertekan sekarang. Tapi, apa yang bisa dia lakukan. Dia juga tidak tahu harus berbuat apa.
Beberapa puluh menit berlalu. Dina akhirnya keluar dari kamar dengan stelan kantor lengkap. Sedikit risih tentunya, tapi dia tidak bisa berbuat apa-apa selain tetap memakai pakaian itu walau dengan hati yang berat.
Sementara itu, Albi yang juga baru keluar dari kamar tersebut, ikut berjalan santai mengikuti langkah Dina dari belakang. Mereka sama-sama berjalan menuju meja makan.
Sampai di meja makan, mereka langsung di sambut dengan wajah masam oleh mama Albi. Seperti yang sudah Dina katakan sebelumnya, mama Albi pasti akan marah jika Diba bangun kesiangan dan tidak menyiapkan sarapan untuk mereka.
"Ouh, sang putri, tuan rumah sudah bangun sekarang? Apa gak bangun terlalu cepat kamu, Dina?"
Dina yang ada di tubuh Albi langsung melirik istrinya. Sementara Albi yang ada di tubuh Dina, juga melakukan hal yang sama. Hal itu tentu menambah rasa kesal dalam hati mama Albi.
Prak! Mama Albi langsung membanting piring yang ada di depannya dengan keras. Hal itu langsung membuat mereka yang ada di sana terkejut karena bunyi piring yang jatuh ke lantai.
__ADS_1
"Mama!" Albi langsung berucap keras.
"Apa!? Kamu tidak suka? Mau marah? Mau ngelawan? Silahkan! Aku sudah sangat kesal padamu sekarang. Aku tidak tahu entah mantra apa yang kamu berikan pada anakku sampai dia jadi begitu membela kamu. Sungguh, aku tidak habis pikir dengan perubahan sikap anakku sekarang."