
"Kamu aku tunggu di rumah, Medi. Kok gak pulang sih?" Albi berucap dengan nada lembut.
Hal itu tentu saja jauh meleset dari apa yang Dina pikirkan. Soalnya, dia sudah berpikir kalau Albi pasti marah padanya karena memilih tinggal di panti. Apalagi duduk berduaan dengan pria yang sudah Albi wanti-wanti jangan di dekati.
"Aku ingin tinggal di sini malam ini, Mas. Aku sudah lama tidak merasakan suasana hangat seperti di panti ini. Suasana hangat kekeluargaan yang tidak bisa aku rasakan saat setelah menjadi istri kamu."
"Aku sudah berusaha keras buat memberikan kehangatan untuk kamu, Sayang. Hanya saja, kamu tidak merasakan hal itu. Mungkin bukan tidak. Tapi belum. Ah, tapi ya sudahlah. Jangan bahas soal itu dulu. Kamu gak pulang ke rumah, kenapa gak kasi kabar padaku? Kamu masih kesal dengan aku yang tidak menjemput kamu tadi siang ya?"
"Sudah tahu dia kesal. Kenapa kamu malah santai saja? Santai seperti tidak merasakan sedikitpun rasa bersalah. Pria seperti apa kamu? Tidak tahu membahagiakan seorang istri."
Tirta yang sedari tadi diam, kini menemukan celah untuk masuk ke dalam pembicaraan pasangan suami istri tersebut. Tirta berharap, dengan ucapan itu, dia bisa memancing amarah Albi yang akan memicu kemarahan Dina. Karena dengan begitu, Tirta yakin hubungan Albi dengan Dina akan semakin memburuk.
Sayangnya, harapan itu hanyalah tinggal harapan. Ketika Albi malah mengukir senyum kecil sambil berjalan mendekat ke arah istrinya berada.
"Barusan kamu bilang aku tidak tahu membahagiakan seorang istrinya? Lalu, bagaimana dengan kamu? Apa kamu bisa membahagiakan istrimu sebelum bicara hal itu padaku?"
__ADS_1
Seketika wajah Tirta agak memerah. Entah itu karena takut, atau mungkin karena terkejut. Yang jelas, wajahnya sedikit berubah.
"Jangan membalikkan perkataan. Aku dengan istriku sudah tidak ada hubungan apa-apa lagi. Dan itu bukan kesalahan dariku. Melainkan, kesalahan darinya yang tidak pernah merasa puas dengan apa yang aku berikan. Padahal, aku sudah memberikan semua yang dia mau dengan susah payah."
"Apa kamu bilang barusan!?"
Suara nyaring terdengar dari arah pintu yang berada di depan mereka. Sontak, suara itu langsung membuat mata Tirta membelalak. Wajahnya pun seketika pucat pasi akibat suara teriakan yang menggelegar barusan.
Pintu terbuka dengan memunculkan seorang perempuan langsing dengan tubuh yang tergolong cukup kurus. Perempuan itu menatap tajam ke arah Tirta sambil terus melangkah.
"Kita?" Suara pelan penuh dengan tanda tanya keluar dari bibir Dina. Dengan tatapan tak percaya, dia tatapan Tirta dan perempuan itu secara bersamaan.
"Ya, kita. Kamu tahu? Dia ini adalah suami aku. Kami sudah punya anak tiga sekarang. Yang satu masih bayi di rumah. Dia bilang padaku kalau dia sedang dinas keluar kota. Aku awalnya curiga dengan apa yang dia katakan. Bagaimana bisa staf kantor bawahan seperti dia bisa dinas luar kota?"
"Dan sekarang, aku tahu jawabannya. Dia bukannya dinas, melainkan sedang mengejar perempuan karena bayaran dari seseorang."
__ADS_1
"Ba-- bayaran? Bayaran apa?" Medina semakin merasa bingung. Sedangkan Tirta tak mampu berucap karena dia adalah tipe pria yang takut istri. Di tambah, dia hidup atas bantuan dari keluarga sang istri. Mana berani dia macam-macam sebenarnya.
"Biar aku yang jelaskan," ucap Albi menyela.
"Dina. Aku minta maaf untuk hal besar ini. Seperti yang sudah aku ceritakan padamu waktu itu. Pria ini datang dan mendekati kamu karena bayaran dari mama. Dan, mama juga berjanji untuk menyumbangkan dana yang cukup besar ke panti ini jika mereka berhasil memisahkan kita."
"Ap-- apa? Kamu ... bilang apa barusan, Mas? Ini semua ... ulah mama kamu? Mama kamu itu ... apa tidak ada kata menyesal dan bosannya buat menyakiti aku, mas?" Dina berucap dengan mata yang berkaca-kaca. Kesedihan yang dia rasakan kembali memuncak. Kemarahan yang hampir lenyap, kini kembali lagi.
"Sampai kapan mama kamu seperti ini padaku, mas Albi! Sampai kapan? Apa dia tidak tahu bagaimana penderitaan aku selama ini?" Dina berteriak keras sambil menepis tangan Albi yang berusaha menyentuh bahunya.
"Aku minta maaf, Dina. Aku sudah berusaha melakukan yang terbaik. Aku janji akan mengembalikan semuanya padamu. Semua kebahagiaan kamu yang telah mama renggut." Albi berucap dengan nada sedih.
"Jangan percaya apa yang dia katakan, Dina. Dia itu pembohong belaka. Lagipula, untuk apa kamu bertahan dengan mertua yang tidak menginginkan kamu. Kalian .... "
"Mas Tirta! Cukup!" Istri Tirta langsung membentak suaminya dengan keras.
__ADS_1
Tentu saja nyali Tirta langsung menciut akibat bentakan itu. Mana dia juga mendapatkan tatapan tajam yang mengerikan lagi dari sang istri. Bertambah ciut pulalah nyali Tirta saat ini.