Bertukar Tubuh

Bertukar Tubuh
*Main Part 9


__ADS_3

Albi berusaha menghindar dari kendaraan tersebut dengan membanting stir ke arah lain. Alhasil, kendaraan tersebut bisa dia hindari. Namun, mobilnya harus menabrak pohon yang tumbuh rindang di pinggir jalan tanpa bisa menghindar sedikitpun.


"Aaa ....!" Keduanya sama-sama berteriak keras sesaat sebelum mobil mereka menabrak pohon tersebut.


Brak! Bunyi hantaman dua benda itu mengundang perhatian orang yang mendengarnya. Seketika, kerumunan pun tercipta.


Mereka yang ikut prihatin dengan keadaan yang Dina dan Albi alami, ada yang hanya menonton tapi juga ada yang berusaha menolong. Memanggil ambulan agar keduanya bisa di selamatkan tepat waktu.


Untung saja, kecelakaan itu terjadi tak jauh dari rumah sakit. Karena itu, ambulan datang dengan cepat ke lokasi kejadian dan menyelamatkan mereka berdua tempat waktu.


Salah satu dari warga yang menyelamatkan Albi dan Dina langsung menghubungi mama Albi untuk mengabari kejadian itu. Awalnya, orang tua itu bicara dengan nada yang sangat bahagia. Karena dia pikir, Albi yang menghubungi dia untuk mengatakan soal perceraian yang sudah selesai.


Namun, setelah tahu kalau itu bukan anaknya. Mama Albi pun jadi syok bukan kepalang. Tubuhnya bergetar hebat, sampai dia tidak bisa bicara sepatah katapun selama beberapa saat.


Hingga akhirnya, dia bisa sadar dan memutuskan untuk pergi ke rumah sakit yang warga itu katakan.


....


"Ya Tuhan, Albi. Apa yang terjadi, Nak?"


Mama Albi berucap setelah dia diizinkan masuk ke dalam ruangan di mana Albi di rawat di sana. Di dalam ruangan tersebut, Albi dan Dina di rawat secara bersamaan. Mereka hanya terpisah oleh tirai saja. Selebihnya, mereka berada di satu ruangan dengan satu pintu masuk saja.


Mama Albi yang sangat mencemaskan anaknya langsung mendekap tubuh Albi dengan penuh kasih. Tangisan pun menggema karena sang mama terlalu cemas dengan kondisi sang anak.


Sementara itu, di samping mama Albi, Sela sedang berdiri dengan wajah yang juga terlihat sangat sedih dan cemas. Dia genggam tangan Albi dengan penuh perasaan.

__ADS_1


"Al, kenapa bisa seperti ini, Nak? Kenapa kamu harus mengalami nasib buruk seperti ini sih? Mama gak ingin kamu kenapa-napa, Al."


"Iya, Albi. Kita gak mau kamu kenapa-napa. Tolong jangan bikin kita merasa cemas dengan kondisi kamu. Kamu harus bagun secepatnya," ucap Sela ikut ngomong dengan penuh perasaan.


Karena keributan itu, Dina yang berada di sebelah Albi pun langsung terbangun. Dia berusaha membuka mata lebar-lebar saat suara mama Albi terdengar di telinga.


Saat sang mama memanggil nama Albi berulang kali, Dina langsung memperhatikan sekeliling. Dengan susah payah, dia berusaha bangun dari baringnya.


"Albi?" Dina berucap pelan sambil berusaha membangunkan tubuh dengan susah payah.


Betapa kagetnya Dina ketika melihat tubuhnya yang kini tidak sama seperti tubuhnya lagi.


Dia kucek matanya agar dia melihat dengan jelas, kalau apa yang dia lihat saat ini itu hanya sebatas mimpi saja. Sayangnya, harapan itu tiba-tiba musnah saat apa yang dia lihat masih sama dengan sebelumnya.


"I--ini ... tubuh ini ... bu--bukan tubuhku. I--ini ... ini tu--tubuh Dina."


Ternyata, yang sekarang berada di tubuh Dina, bukanlah Dina. Melainkan, Albi. Hal itu sungguh di luar logika. Albi dan Dina tiba-tiba bertukar tubuh karena kecelakaan yang terjadi kemarin.


Namun, Albi masih tidak mempercayai apa yang sedang terjadi. Dia pun berusaha untuk melihat tubuhnya yang kini ada di sebelah sana.


Albi bangun dengan susah payah. Lalu, berusaha menyeret kaki untuk menghampiri tubuhnya yang kini sedang di ajak ngobrol oleh mamanya dan Sela.


Saat Albi membuka tirai, kakinya tidak bisa ia jalankan lagi. Matanya membulat ketika melihat tubuhnya yang kini sedang terbaring lemah dengan di bantu beberapa alat medis yang terpasang dengan baik.


"Ini ... sungguh tidak mungkin," ucap Albi lirih sambil melihat sayu ke arah tubuhnya.

__ADS_1


Saat ucapan itu keluar. Sontak, mamanya dan Sela langsung menoleh ke arah di mana dia berada. Tatapan tidak bersahabat, langsung keduanya berikan untuk Albi.


Sela yang terlihat sangat tidak suka dengan keberadaannya, langsung menghampiri Albi yang sekarang menempati tubuh Dina. Sela langsung melayangkan sebuah tamparan ke wajah Dina tanpa ada basa-basi terlebih dahulu.


Plak.


Tamparan itu mendarat dengan sempurna di pipi Albi. Sakit rasanya, namun, hal itu tidak bisa Albi rasakan dengan baik. Karena hatinya yang kaget, lebih memilih untuk tidak mempercayai apa yang sedang Sela lakukan dari pada merasakan sakit akibat tamparan yang Sela berikan.


"Puas kamu sekarang, Dina? Albi koma gara-gara ulah kamu. Sudah berulang kali aku katakan padamu, jauhi Albi. Karena kamu itu tidak pantas untuk Albi. Tapi kamu tetap keras kepala. Tetap bertahan dan tidak mengindahkan apa yang aku katakan."


"Dasar pembawa sial kamu! Albi koma dan tidak tahu kapan dia akan sadar. Itu semua karena kamu, Dina! Perempuan kampung yang tidak tahu diri." Mama Albi pulang berucap dengan suara lantang.


Saat kata-kata itu dia dengar, Albi yang kini berada di dalam tubuh Dina pun kaget bukan kepalang. Awalnya, dia ingin mengatakan tentang apa yang saat ini terjadi. Tapi, dia mendadak memilih membatalkan niatnya itu. Karena apa yang baru saja dia alami, sungguh tidak pernah dia bayangkan bisa terjadi.


'Jadi ... ini yang Dina katakan kemarin-kemarin itu? Dina bicara hal jujur ternyata. Mungkinkah, selama ini mereka hanya bersandiwara di depanku saja? Sementara di belakangku, hanya Dina yang tahu bagaimana sikap mereka pada Dina.'


"Jangan mempelototi aku seperti itu, Dina! Aku tidak akan segan-segan memberikan kamu pelajaran yang lebih keras lagi nantinya. Karena sekarang, tidak akan ada yang menolong kamu. Mengerti?" Sela bicara lagi dengan suara kesal.


"Oh, jadi ini sikap asli kamu yang sesungguhnya, Sela? Kamu hanya baik di depan Albi saja. Tapi sangat jahat dan terlalu buruk ketika di depan Dina." Albi berucap dengan berani.


Ucapan itu malah membuat Sela tertawa lepas.


"Ucapan macam apa yang telah kamu ucapkan barusan, Dina? Apa gara-gara kecelakaan, ingatan kamu juga rusak, hm?"


"Heh! Kau juga tahu bagaimana aku selama ini di belakang Albi dan di depan Albi, bukan? Dan sekarang, Albi sedang koma. Dia tidak akan tahu apa yang telah aku lakukan padamu. Kau mungkin bisa pergi sekarang juga dengan selamat jika kau memilih untuk pergi. Karena jika aku berubah pikiran, aku mungkin akan membuat kamu menyesal karena telah bertahan."

__ADS_1


Albi sungguh baru melihat sikap lain dari Sela sekarang. Perempuan yang selama ini sangat manis, lemah lembut, juga penuh dengan sopan santu jika berhadapan dengannya. Kali ini, malah berbanding terbalik dengan apa yang dia ketahui sebelumnya.


__ADS_2