Bertukar Tubuh

Bertukar Tubuh
*Main Part 18


__ADS_3

Medina dan Albi terus bercanda hingga malam semakin larut. Mereka terus melepaskan semua beban yang selama ini sama-sama mereka pendam dalam hubungan pernikahan yang hambar.


Namun, di tengah-tengah kebahagiaan itu, Albi tiba-tiba ingat akan sesuatu. Itu adalah tentang perpisahan mereka berdua besok pagi. Karena dia sudah harus meninggalkan rumah sakit. Dia mungkin tidak akan mamanya izinkan untuk datang ke rumah sakit lagi setelah pulang.


"Dina. Besok aku sudah diizinkan keluar dari rumah sakit ini," ucap Albi dengan suara sedih.


Dia juga tidak melanjutkan ucapannya setelah kata-kata itu dia ucapkan. Hal itu membuat Medina menatap lekat ke arah wajah Albi dengan tatapan sedikit iba.


Dina cukup tahu apa makna dari ucapan Albi barusan. Karena tubuhnya sedang Albi kuasai, jadi otomatis, Albi akan menjadi dirinya yang seutuhnya.


"Orang mau keluar dari rumah sakit itu harusnya bahagia, Mas. Bukan malah sebaliknya," ucap Medina berniat menghibur.


"Iya, Dina. Tapi itu bagi sebagian orang. Tidak untuk aku. Karena setelah aku keluar dari rumah sakit ini, aku tidak tahu kapan aku bisa datang buat jenguk kamu lagi. Karena aku yakin, mama pasti tidak akan mengizinkan kamu buat melihat aku."


"Kamu tenang saja, Mas. Aku akan jadi suami yang baik untuk istriku. Tidak akan aku biarkan tubuhmu berlama-lama di rumah sakit ini."


"Dina. Jangan bercanda lagi. Aku serius ngomong sekarang."


"Aku juga serius bicara barusan, Mas Albi."


Albi langsung mengukir senyum manis di tengah-tengah wajah sedihnya.


"Seperti waktu pertama bertemu kamu, Medina. Kamu masih sama saja. Masih suka bikin aku tersenyum dan melupakan kesedihan yang aku miliki."


"Maafkan aku atas kebodohan yang sudah aku lakukan selama ini. Coba saja aku tidak berubah ya. Hubungan kita pasti akan tetap manis selama ini, Dina."

__ADS_1


"Sudahlah, Mas. Aku kan sudah bilang padamu supaya kamu jangan mengucapkan kata maaf lagi dan lagi. Kita tidak perlu memikirkan hal yang sudah berlalu. Yang harus kita pikirkan sekarang adalah, waktu saat ini. Bagaimana cara kita bisa melewati waktu yang tersisa dengan bahagia. Itu saja."


"Kamu memang istriku yang terbaik. Yang tiada duanya di dunia ini, Median." Albi berucap sambil mencium punggung tangan dari tubuhnya.


"Untung aku masih diberikan kesempatan untuk menyadari hal ini. Jika tidak, aku akan jadi manusia yang penuh dengan penyesalan seumur hidup," ucap Albi lagi.


.....


Karena terus ngobrol hingga larut malam, Albi tidak sengaja tidur di samping Medina dengan posisi duduk. Hingga pagi hari menjelang, Albi masih saja pulas tidur dengan posisi yang sama dengan sebelumnya. Bahkan, ketika pintu ruangan tersebut terbuka saja, Albi tidak menyadarinya.


Sesaat setelah sang mama masuk, dan membangunkannya. Albi baru sadar kalau dia sudah tertidur dengan cara duduk di samping sang istri.


"Bagun! Kamu sudah tidak dibutuhkan lagi sekarang," ucap mamanya dengan wajah kesal. Namun nada bicaranya sekarang terdengar sangat pelan.


"Mama sudah datang?" tanya Albi sambil berusaha mengumpulkan kesadaran yang masih belum sepenuhnya kembali.


"Sudah! Sekarang juga kamu kembali ke tempat kamu. Jangan muncul lagi di hadapanku," ucap mama Albi lagi.


"Apa mama tahu kalau Albi sudah sadar, Ma?"


Pertanyaan itu sengaja Albi ucapkan untuk menguji sang mama. Karena selama ini, sang mama selalu bersikap bertolak belakang dengan apa yang dia alami selama dia berada di tubuhnya dengan dia yang berada di tubuh sang istri.


"Itu bukan urusan kamu, Dina. Aku tahu atau tidak, apa pentingnya buat kamu, hah?"


"Oh, jangan-jangan kamu sudah mencuci otak anakku tadi malam dengan semua omongan palsu mu. Iyakan? Ya Tuhan, aku sungguh sangat menyesali apa yang sudah terjadi. Andai saja aku tahu, Albi akan bangun tadi malam, pasti aku tidak akan membiarkan kamu yang menjaga Albi di sini."

__ADS_1


Ucapan itu langsung membangunkan Dina yang awalnya juga sedang tertidur pulas. Karena keributan yang mama Albi buat, Dina terpaksa membuka mata meski matanya masih ingin terpejam.


"Mama ... sudah datang?" tanya Dina sambil menggerjapkan matanya yang terasa masih berat.


Seketika, pertanyaan itu langsung membuat mama Albi bersikap seratus delapan puluh drajat berbeda dari yang sebelumnya. Dengan wajah yang penuh rasa cemas, dia langsung menghampiri tubuh Albi yang masih terlihat lemas meskipun sudah sadar dari kemarin sore.


"Albi. Anakku yang malang. Akhirnya, kamu bangun juga, Nak. Mama udah nungguin kamu bangun sejak lama. Dan, kamu malah bangun setelah mama gak ada di samping kamu. Uh, mama ... mama sedikit tidak habis pikir. Tapi, mama bahagia dengan kamu yang sudah sadarkan diri seperti saat ini."


"Oh iya, Al. Bagaimana keadaan kamu sekarang? Apa ada yang sakit? Jika ada, katakan pada mama. Biar mama yang katakan pada dokter. Ya Tuhan .... "


"Ma, aku baik-baik saja. Mama tidak perlu cemas dengan keadaan aku saat ini. Prediksi dokter juga tidak terbukti. Aku masih normal tanpa ada gangguan sedikitpun."


"Ah, syukurlah, Al. Mama jadi bisa sedikit bernapas dengan lega."


"Mulai dari sekarang, mama tidak akan meninggalkan kamu sedikitpun lagi, Albi. Mama akan jaga kamu."


"Tidak perlu seperti itu juga, Ma. Aku gak apa-apa kok. Lagian, ada Dina di sini, Ma. Dina juga bisa bantuin mama buat jagain aku. Tidak perlu terlalu merepotkan mama," ucap Dina dengan senyum kecil di bibirnya.


Jelas saja kata-kata itu langsung membuat wajah sang mama berucap dengan cepat. Dia langsung memasang wajah tidak suka. Namun, itu berubah secepat membalikkan telapak tangan.


"Ya ampun, Albi. Kamu itu anak mama. Jadi, mama tidak pernah merasa kamu susahkan, Nak. Lagian, Dina juga sepertinya tidak bisa merawat kamu sepenuhnya. Karena dia juga baru saja mengalami kecelakaan. Sama seperti kamu, Al. Kan, kasihan dia jika dia yang merawat kamu. Iyakan, Nak?"


"Ah iya. Lagian, mama juga gak akan sendirian kok buat ngerawat kamu, Al. Mama juga dibantuin Sela."


"Kamu tahu gak, Al? Selama kamu tidak sadarkan diri di sini, Sela yang setiap saat selalu ada buat jagain kamu. Dia itu gadis baik yang sangat perhatian. Dia jagain kamu siang dan malam. Dia juga perhatian sama istri kamu, walau pada kenyataannya, perhatian yang Sela berikan sama sekali tidak istri kamu anggap sedikitpun. Jangankan berterima kasih, menghargai saja tidak, istri kamu itu, Al."

__ADS_1


"Jika benar apa yang mama katakan. Lalu di mana Sela sekarang, Ma? Kenapa dia tidak ada di sini buat jagain, Albi?" Pertanyaan itu muncul dari mulut Albi yang kini berada di tubuh Dina.


__ADS_2