Bertukar Tubuh

Bertukar Tubuh
*Main Part 8


__ADS_3

Mendengar ucapan itu, mama Albi rasanya sangat bahagia sekali. Dia seperti ingin melompat-lompat sangking bahagianya. Namun, sebisa mungkin dia berusaha menahan rasa itu agar anaknya tidak mengetahui apa yang sebenarnya terjadi.


"Ap--apa? Apa ... kamu yakin dengan apa yang kamu ucapkan barusan, Al? Kamu beneran ingin menceraikan istrimu?"


"Aku sudah sangat yakin, Ma. Kenapa? Apa mama tidak setuju dengan keputusan yang ingin aku ambil ini?"


'Bagaimana mungkin aku tidak setuju, Albi? Karena selama ini, hal inilah yang sangat aku harap-harapkan terjadi. Kamu menceraikan perempuan kampung yang tidak layak untuk jadi istri kamu itu,' kata mama Albi dalam hati.


"Bukan mama tidak ingin setuju, Albi. Tapi, mama tidak ingin kamu mengambil keputusan yang salah. Mama emang gak suka sama istri kamu. Tapi .... "


"Tapi apa, Ma? Aku tidak ingin memikirkan hal lain. Semua yang terjadi mungkin sudah membuka mataku yang sempat tertutup. Medina bukan istri yang baik buat aku. Untuk itu, aku akan ceraikan dia nanti setelah dia aku temui."


Setelah berucap kata-kata itu, Albi langsung beranjak meninggalkan mamanya. Dia pergi tanpa menunggu mamanya menjawab apa yang dia katakan terlebih dahulu.


Sementara itu, setelah kepergian Albi, mamanya langsung masuk ke dalam rumah. Dia yang begitu merasa sangat bahagia langsung menghubungi Sela untuk berbagi kebahagiaan yang sedang dia rasakan saat ini.


"Halo, Tan. Ada apa?" tanya Sela langsung setelah panggilan keduanya sama-sama tersambung.


"Tebak, apa yang ingin tante bicarakan padamu saat ini, Sel?"


Sela yang ada diujung panggilan tidak langsung menjawab. Dia seperti sedang memikirkan sesuatu sekarang.


"Mm ... apa sih, tan? Aku nyerah deh. Gak bisa main tebak-tebakan."


"Ih kamu. Tante punya kabar baik buat kamu sekarang. Rencana kita berjalan lancar, seperti yang kita harapkan. Dan kamu tahu apa yang Albi katakan barusan pada tante?"


"Apa?"


"Dia bilang akan menceraikan Dina setelah dia bertemu dengan Dina nanti. Sekarang, Albi sedang mencari di mana Dina berada."


"Hah! Albi mencari Dina, Tante?"


Terdengar suara kaget dari Sela di seberang sana. Hal itu membuat mama Albi merasa sedikit bingung dengan sambutan yang Sela berikan barusan.

__ADS_1


"Iya, Sel. Albi sedang mencari Sela saat ini. Kenapa memangnya? Apa sih yang sedang kamu pikirkan? Kenapa jadi kaget begitu?"


"Ya ampun ... tante. Kenapa tante biarkan Albi buat nyari Dina sih? Rencana kita bisa kacau kalo Albi bertemu dengan Dina di waktu yang tidak tepat, tante."


"Aduh ... kamu tenang aja deh, Sel. Tante yakin kalau rencana kita tidak akan kacau apalagi gagal. Semuanya sudah tersusun dengan baik. Dan yang paling penting, tante tahu siapa Albi. Dia gak akan mudah percaya dengan apa yang orang katakan tanpa ada bukti yang kuat dan jelas. Jadi, tidak perlu kamu cemaskan."


"Huhf, semoga saja apa yang tante katakan itu benar. Aku tidak ingin rencana kali ini rusak akibat kecerobohan kita."


"Tante jamin tidak akan rusak, Sela. Kamu tenang saja."


Sementara itu, di sisi lain. Dina sedang terjebak macet karena ada mobil yang sedang mengalami kecelakaan di jalan yang dia lalui saat ini. Gojek yang dia tumpangi tidak bisa lewat akibat jalanan yang macet parah itu.


Sementara Albi yang sedang mencari keberadaan Dina, kini telah menemukan di mana posisi Dina berada. Dengan berbekalkan GPS lewat ponsel milik Dina, Albi dengan mudah bisa tahu akan keberadaan sang istri. Albi langsung bergegas menghampiri Dina dengan cepat lewat jalan lain.


Saat sampai ke tempat di mana sang istri berada, Albi langsung memarkirkan mobilnya untuk menemui Dina di tengah kemacetan. Setelah mengalami sedikit kesulitan akibat banyaknya kendaraan yang sedang terparkir, akhirnya Albi melihat Dina yang sedang duduk di atas gojek dengan resah.


Albi langsung menangkap tangan Dina dengan cepat. Hal itu tentu saja membuat Dina terperanjat akibat kaget.


"Ya Tuhan! Maling!"


"Ikut aku sekarang juga, Dina!"


Albi berucap dengan wajah serius yang terlihat penuh dengan emosi. Bukan hanya Dina yang merasakan hawa ketakutan sekarang. pengemudi gojek juga merasakan hal yang sama.


"Mbak. Ini .... "


"Maaf, Mas. Dia suami saya." Dina berucap sambil tersenyum tidak enak.


"Oh. Suaminya?"


"Iya."


"Cepat ikut aku naik ke mobil! Ada yang ingin aku katakan padamu."

__ADS_1


"Ta--tapi, Mas."


Albi tidak menjawab ucapan Dina dengan kata-kata. Hanya tatapan tajam dia berikan buat Dina yang membuat Dina langsung memahami apa arti dari tatapan tersebut.


"Ba--baiklah. Aku akan ikut kamu ke mobil, Mas Albi. Tapi tunggu sebentar, biar aku bayar gojek ini dulu. Tolong ... lepaskan tanganku."


Albi melakukan apa yang Dina minta. Melepaskan tangan Dina dengan kasar, lalu menunggu Dina melakukan apa yang ingin dia lakukan. Selanjutnya, Dina dan Albi langsung meninggalkan tempat tersebut menuju mobil yang Albi parkir kan di jalan yang berbeda.


"Masuk!" Albi berucap lantang ketika mereka sudah mencapai mobil.


Dina tahu apa kesalahannya saat ini. Karena itu, dia berusaha tetap tenang dan tidak membantah apa yang Albi katakan.


"Mas, aku bisa jelaskan padamu soal .... "


"Cukup! Aku tidak butuh penjelasan setelah semua yang terjadi cukup jelas, Medina."


Albi langsung menjalankan mobil dengan kecepatan tinggi setelah berucap kata-kata itu. Hal tersebut membuat Dina tiba-tiba merasa ngeri.


"Mas, jangan ngebut, aku mohon!"


"Diam Medina! Aku tidak ingin mendengar suara kamu lagi mulai dari detik ini. Aku sudah sangat bosan dengan suara perempuan pengkhianat seperti kamu."


Bentakan yang sungguh sangat membuat Dina terkejut. Bukan karena nada dari bentakannya, tapi karena kata-kata yang Albi ucapkan barusan. Hal yang sungguh sangat tidak Dina pahami sedikitpun.


"Apa maksud kamu dengan ucapan barusan, Mas? Kamu bilang aku pengkhianat? Apa yang aku lakukan sampai kamu tega berucap kata-kata itu padaku, Mas Albi?"


Karena kesal dengan kata-kata yang Dina ucapkan. Albi langsung memegang tangan Dina dengan satu tangannya. Sedangkan tangan lain, tetap menegang stir mobil. Mobil terus melaju dengan kecepatan tinggi meski adegan itu terjadi.


"Kamu bertanya, Medina? Tidak tahu? Atau hanya sekedar pura-pura tidak tahu saja, hah?"


"Mas, tolong per ... aaaa!"


Teriakan itu terjadi karena Dina melihat ada kendaraan yang sedang melaju berlawanan dengan mobil mereka. Dan, karena teriakan itu juga menyadarkan Albi atas apa yang sedang dia lakukan.

__ADS_1


Albi berusaha menghindar dari kendaraan tersebut dengan membanting stir ke arah lain. Alhasil, kendaraan tersebut bisa dia hindari. Namun, mobilnya harus menabrak pohon yang tumbuh rindang di pinggir jalan tanpa bisa menghindar sedikitpun.


__ADS_2