Bertukar Tubuh

Bertukar Tubuh
*Main Part 49


__ADS_3

Tentu saja ucapan itu sangat mengejutkan buat Sela. Dia sungguh sangat terkejut karena rahasia itu hanya dirinya, pacarnya, dan teman terbaiknya saja yang tahu. Tapi kali ini, entah bagaimana bisa, Albi tahu akan rahasia besar yang dia tutupi dengan sangat baik selama ini.


Sela tertegun dengan wajah pucat pasi. Lalu, perlahan tubuhnya terasa bergetar. Kakinya tiba-tiba saja melemah sampai dia tidak bisa menyeimbangi tubuhnya lagi.


"Dari --dari mana kamu tahu soal aku yang sudah punya pacar, Albi?" Sela bertanya dengan suara pelan.


"Dari mana aku tahu, itu tidak penting, Sela. Karena sekarang yang terpenting adalah, bagaimana caranya kamu menyiapkan diri untuk menerima hukuman atas kejahatan yang sudah kamu perbuat."


Setelah berucap kata-kata itu, Albi langsung pamit pada polisi tersebut. Selanjutnya, dia langsung melangkah meninggalkan tempat tersebut dengan cepat.


Sementara itu, Sela yang Albi tinggalkan tidak bisa berbuat apa-apa. Sela yang lemah, kini merasa semakin lemah hingga dia terduduk lesu di atas kursinya kembali.


.....


Jalan hidup memang sedikit rumit terkadang. Tapi, setiap masalah selalu ada penyelesaiannya. Setelah Albi kembali ke rumah, dia tidak menemukan Dina ada di rumah tersebut.


Albi pun langsung mencari keberadaan bibi untuk menanyakan keberadaan sang istri.


Jawaban yang bibi berikan sedikit membuat Dina cemas. Karena hal itu yang sangat tidak Albi inginkan.


Bibi bilang, Dina sekarang ada di panti. Dina minta izin untuk menginap di sana malam ini. Katanya, ada pesta kecil-kecilan yang tidak enak jika dia tinggalkan.


Penjelasan itu membuat hati Albi tidak enak. Ada sedikit kejanggalan dari apa yang bibi ucapkan. Bukan masalahnya ada pada bibi, tapi melainkan, ada pada Median juga beberapa orang yang ada di panti sana.

__ADS_1


"Baiklah, Bik. Bibi bisa lanjutkan istirahat bibi sekarang. Maafkan aku yang sudah mengganggu bibi."


Setelah asisten rumah tangga itu pergi. Albi langsung menghubungi seseorang. Seseorang yang mungkin membuat Albi mengambil sebuah keputusan yang terkesan agak mendadak.


"Jalankan rencana itu malam ini juga. Aku sudah tidak bisa bersabar lagi," ucap Albi pada orang yang sedang berada di ujung panggilan tersebut.


"Baik, Bos. Akan saya laksanakan. Satu setengah jam lagi, saya akan sampai ke sana. Bos tenang saja, saya jamin kalau rencana yang sudah bos percayakan pada saya, pasti akan berjalan dengan lancar."


"Baiklah. Buktikan padaku sekarang juga."


"Baik, Bos."


Setelah kata kata itu terucap dengan mantap. Panggilan pun berakhir. Albi tidak ingin membuang waktu lagi. Dia langsung meninggalkan rumah menuju tempat di mana rencana itu akan terjadi.


Itu adalah panti asuhan. Tempat Dina berada. Ya, Albi akan menjalankan sebuah rencana besar di panti ini malam ini juga.


Kini, malam masih terkesan sangat muda. Jam baru menunjukkan pukul delapan lewat lima belas menit. Albi langsung mengetuk pintu panti yang sudah tertutup rapat.


"Aku sudah yakin sejak awal kalau di sini tidak ada acara apapun. Dina hanya membuat alasan saja. Dia ingin menginap di sini ternyata."


Seorang wanita paruh baya muncul dari pintu yang ada di depan Albi. Albi langsung menyunggingkan bibir buat mengukir senyum.


"Selamat, ibu. Saya .... "

__ADS_1


"Aku tahu siapa kamu. Kamu Albi, bukan? Untuk apa kamu datang ke sini malam-malam begini?" tanya perempuan itu terdengar cukup tidak bersahabat.


"Tentu saja untuk menjemput istri saya pulang. Dia ada di sini, kan?"


"Dina ada. Tapi dia ingin tinggal di sini malam ini. Kamu tidak berhak memaksa Dina untuk pulang. Karena ini rumahnya juga. Tempat dia di besarkan."


"Maaf ini, saya permisi dulu." Albi langsung masuk ke dalam. Tidak dia hiraukan apa yang ibu asuh itu katakan.


Alhasil, ulah Albi barusan langsung membuat ibu asuh merasa semakin kesal dengan sikap Albi yang dia anggap tidak sopan.


"Hei! Jangan lancang kamu ya. Di mana sopan santun mu sebagai manusia!?"


Albi tidak menjawab. Dia terus melanjutkan langkah kakinya menuju halaman belakang. Karena saat bertukar tubuh, dia dan Tirta pernah bicara di tempat tersebut.


"Hei kamu! Dengar tidak, hah!?"


Ibu asuh terus memanggil Albi sambil menyusul langkah Albi dengan cepat.


Namun, Albi masih tidak menghiraukannya. Dia tetap melakukan apa yang ingin dia lakukan. Benar saja, saat Albi tiba di halaman belakang, dia langsung melihat Dina dan Tirta sedang bicara berdua di atas satu kursi taman yang cukup panjang.


"Medina."


Panggilan itu langsung membuat Dina sedikit terkejut. Dia yang awalnya duduk, kini langsung bangun dengan cepat sambil mata menatap lurus ke arah Albi.

__ADS_1


"Mas Albi."


__ADS_2